SLIDE1

Like capcai in here all things can be mix, put together, and absolutely delicious. Cause this is not common capcai. This capcai is burned out.

30 September 2010

Anjinggombal: Aku Padamu

30 September 2010 capcai bakar



Penulis: rame-rame
Penerbit: Bukune
Harga : lupa! kalau ga salah ingat antara 25rb-30rb gitu :p

Pernah digombalin? Pernah dong pastinya. Gombalan sekarang lebih canggih. Ga percaya?

aku ga butuh mas kawin, yg aku mau MAS KAWIN sama aku aja.

Saat ini aku lagi berjuang keras mengejar PhD, Pemilik Hati Dinda…

neng, suka BISTIK ya ? tolong BISTIK kan cinta di kuping abang dong.

My father told me to follow my dream. But then I follow your Twitter. Because you are the girl of my dream.”

Lucu kan? semua itu gombalan anak-anak anjinggombal di twitter. Lalu dibukukan menjadi Anjinggombal: Aku Padamu. Kog namanya anjing gombal sih?

Abis kalau digombalin begitu reaksi orang sunda pasti "Anjingggg, gombal pisan" sambil mesem-mesem kesenangan. Hahaha.

Jadi pengen beli? Tapi udah ga perlu menggombal lagi karena sudah laku? Percaya deh buku ini lucu, bikin kita senyum-senyum sendiri saat membacanya. Bacanya cukup sehalaman-dua halaman lalu pilih yang terbaik dan ucapkan pada pasangan. Pasti senyum-senyum najis dengar digombalin.

Siapa aja pasti senang lagi santai tiba-tiba ditanya

"Kog ga pakai pita? / Hah? / Kamu kan kado terindah buatku"
Bakar capcai kalau tu orang ga senyum-senyum geli kesenangan.

Bagusnya lagi semua hasil royalti dari penjualan buku ini akan disumbangkan ke Yayasan Tunas Cendekia. Tuuu sambil merajut kasih sayang kita bisa membantu orang lain.

17 September 2010

Pulang

17 September 2010 capcai bakar


touchdown Palembang!

Lebaran sudah lewat. Rendang sudah habis. Baju baru sudah 3 kali dicuci. Oleh-oleh sudah dibagikan.

Saya pun sudah di Bandung. Iya kemarin-kemarin saya lebaran di Palembang. Menyaksikan takbiran di atas pesawat. Indah. Dimana-mana kembang api warna-warni berkelap-kelip lalu hilang.


Palembang dari udara. Kumpulan lampu itu Benteng Kuto Besak

Tahun ini tidak ada wisata kuliner ke Pempek Cak Bakar dan martabak Har serta es kacang. Tidak ada foto-foto di Benteng Kuto Besak maupun di jembatan Ampera. Rencana ke Pulau Kemarau pun batal karena tidak menyediakan pelampung.


Masjid Agung Palembang

Yang ada mengunjungi Mbah Betino di Baturaja. Foto-foto di air mancur warna-warni di depan Mesjid Agung, dan menghabiskan pempek enak bikinan sendiri di rumah calon kakak ipar.


Air mancur warna-warni di depan Mesjid Agung Palembang

Seminggu sudah dan sayapun bisa menyentuh PC lagi. Liat-liat facebook. Liat-liat foto teman yang lebaran ke Lhokseumawe. Dan sayapun tersentak melihat teman berkata "Pulanglah kalian ke Lhokseumawe"

Iya saya kangen makan mie aceh di Jamuan. Seenaknya mie aceh di Bandung, mie aceh sana pedasnya lebih nampol. Porsinya lebih banyak.

Saya kangen makan kolak dingin dekat rel kereta saat saya sekolah di Medan.

Kangen makan gulai usus, tauco udang, paru dan limpa masakan Makbuk di Langsa.

Kangen jalan-jalan di Brastagi sambil minjam sweeter Ayah.

Tapi saya toh tidak merasa tidak pulang walau tidak ke Lhokseumawe, Medan, Langsa, dan Brastagi selama lebaran ini (dan lebaran-lebaran lalu).

Pulang itu ke rumah. Rumah itu dimana hati saya berada. Dimana hatimu berada. Rumah itu dimana ada kita. Saya, kamu, dan jendral kancil. Saat ini. Dan itu selalu ada di setiap lebaran.

Saya sudah di rumah.