SLIDE1

Like capcai in here all things can be mix, put together, and absolutely delicious. Cause this is not common capcai. This capcai is burned out.

23 November 2010

Disconnect to connect

23 November 2010 capcai bakar



Bagus banget. Benar banget. *malu hati*

Karena Dokter Twitter Seorang




Di twitter saya mengikuti timeline seorang dokter, akunnya @blogdokter. Suatu hari dokter ini me-tweet kalau teori yang mengatakan minum air es dapat menggemukkan badan hanyalah sebuah mitos. Sebaliknya menurut @blogdokter minum air es dapat membantu menurunkan berat badan. Katanya sih kalori terbakar saat tubuh menghangatkan air es. Air es aja loh, bukan air sirup pakai batu es.

Semangatlah saya mendapatkan metode langsing dengan cara menyenangkan begini. Secara dari kecil saya jarang minum air es. Antara takut gemuk dan karena bolak-balik masuk waiting list operasi pengangkatan amandel. Berhubung semenjak SMP amandel saya tidak pernah kumat, sayapun bertekad mengikuti teori ini.

Hari itu hari pertama saya mencoba teorinya. Dari siang setiap saya haus, saya akan meminum air es. Magrib tenggorokan saya mulai tidak enak. Tipikal orang Indonesia mikirnya cuma masuk angin. Malamnya saya sudah tidak bisa menelan ludah. Sakit banget. Rasanya seperti ada tulang ikan nyangkut di tenggorokan.

Karena tidak tahan sakitnya esok sore saya langsung berobat ke dokter dekat rumah yang murah meriah. Rp 35.ooo saja untuk biaya konsultasi dan obat. Murah ya. Sambil diomelin sama dokternya, kalau diet ga usah macam-macam. Banyakin sayur aja.

Minum obat sekali tenggorokan saya mulai enak. Masih sakit, tapi ga bikin saya meringis.

Tiga hari kemudian saat antibiotik habis, level sakitnya kembali seperti hari pertama. Aihhh matek. Demam semalaman. Siangnya saya langsung pergi ke Borromeus. Masuk UGD. Periksa darah karena sudah demam berhari-hari dan naik turun. Hasilnya leukosit (sel darah putih) saya 21.000 (normalnya 10.000). Dokternya kaget dan menyuruh saya rawat inap untuk memantau leukositnya sekaligus memberikan antibiotik lewat infus.

Tunggu punya tunggu, kamar kelas 1 yang saya minta penuh. Adanya kelas VIP. Beuh.. mana rela saya mengeluarkan uang Rp 800.000/malam untuk radang tenggorokan saja. Iya.. pelit. Hihi. Saya lalu meminta izin untuk menunggu kamar kosong di rumah saja. Meski dokternya masih khawatir ia memperbolehkan saya pulang. Ga mungkin juga dia maksa saya nginap kalau saya keukeh maunya maksimal kelas 1 saja.

Berbekal empat macam obat, termasuk 10 butir pil antibiotik kecil yang harga sebutirnya sama dengan dua bungkus nasi+ayam pop, saya pulang. Makan bubur nestle dan minum obat.

Ajaib sakitnya langsung hilang. Walau belum beres. Hihi.. dan saya memilih tidak kembali ke rumah sakit.

Pelajaran yang bisa dipetik adalah internet itu hanya referensi bukan ahli.

03 November 2010

Tadinya saya mau mengawali bulan ini dengan berita baik "Akhirnya dapat kerja.." eh tapi ya gitu deh.. coba lagi award. Jadi kepikiran buka kursus tes kerja aja. Hahaha.

Jadi kemarin saya mencoba melamar jadi diplomat di Deplu. Tes administrasi beres. Tes tulis saya bengong. Bengong abis. Sudah tidak berharap. Ternyata lulus. Lanjut ke tes Toefl, dan gagal. Mmmm... Ya sudah ga masalah belum tahap akhir ini jadi harapannya belum maksimal.

Terus saya melamar ke Depkeu. Administrasi lolos. Tes potensi akademik tidak semuanya diisi, jadi tidak terlalu optimis tapi pede. Hihi. Lanjut ke tes psikotest, tes lari, dan wawancara akhir. Pengumumannya tanggal 3 kemarin dan nama saya tidak ada. Hmmm. Karena sudah pernah gagal di BI waktu tahu nama saya tidak ada tidak terlalu kecewa sih. Sudah ikhlas. Kalau dulu doanya "Allah saya maunya BI. Pokoknya BI walau itu bukan yang terbaik" Ngotot dan sombong abis. Sekarang doanya "Allah kalau depkeu yang terbaik maka luluskan saya. Kalau bukan ikhlaskan saya dan beri saya yang terbaik."

Walau tetap sempat nangis dan tidur-tiduran seharian.

Tes psikotest itu capek. Saya sudah mulai mual, pegal, dan puyeng setiap tes Pauli atau tes koran. Membayangkan harus tes lagi dan mengulang perjuangan dari awal, bikin saya menarik nafas dalam-dalam. Tapi ini kan seperti kemarin saya belajar berenang. Saat saya mulai kehabisan tenaga untuk berenang dan tidak tahu berapa lama lagi sampai di ujung.

Saya bisa saja memutuskan minggir (pindah jalur), tapi selamanya saya akan berpikir kalau saya tidak sanggup berenang dari ujung ke ujung. Selamanya saya akan berenang di pinggir. Padahal kalau dilihat jarak saya ke ujung dengan ke pinggir sama saja. Rugi ah.

Ya sudah. Coba lagi. Laporan komplit tesnya gimana nanti saya tulis ya. Sekarang mau cari pantai atau pemancingan sepi. Mall diskon boleh juga lah. :p

Sekilas Inpo aja

03 November 2010 capcai bakar

Tadinya saya mau mengawali bulan ini dengan berita baik "Akhirnya dapat kerja.." eh tapi ya gitu deh.. coba lagi award. Jadi kepikiran buka kursus tes kerja aja. Hahaha.

Jadi kemarin saya mencoba melamar jadi diplomat di Deplu. Tes administrasi beres. Tes tulis saya bengong. Bengong abis. Sudah tidak berharap. Ternyata lulus. Lanjut ke tes Toefl, dan gagal. Mmmm... Ya sudah ga masalah belum tahap akhir ini jadi harapannya belum maksimal.

Terus saya melamar ke Depkeu. Administrasi lolos. Tes potensi akademik tidak semuanya diisi, jadi tidak terlalu optimis tapi pede. Hihi. Lanjut ke tes psikotest, tes lari, dan wawancara akhir. Pengumumannya tanggal 3 kemarin dan nama saya tidak ada. Hmmm. Karena sudah pernah gagal di BI waktu tahu nama saya tidak ada tidak terlalu kecewa sih. Sudah ikhlas. Kalau dulu doanya "Allah saya maunya BI. Pokoknya BI walau itu bukan yang terbaik" Ngotot dan sombong abis. Sekarang doanya "Allah kalau depkeu yang terbaik maka luluskan saya. Kalau bukan ikhlaskan saya dan beri saya yang terbaik."

Walau tetap sempat nangis dan tidur-tiduran seharian.

Tes psikotest itu capek. Saya sudah mulai mual, pegal, dan puyeng setiap tes Pauli atau tes koran. Membayangkan harus tes lagi dan mengulang perjuangan dari awal, bikin saya menarik nafas dalam-dalam. Tapi ini kan seperti kemarin saya belajar berenang. Saat saya mulai kehabisan tenaga untuk berenang dan tidak tahu berapa lama lagi sampai di ujung.

Saya bisa saja memutuskan minggir (pindah jalur), tapi selamanya saya akan berpikir kalau saya tidak sanggup berenang dari ujung ke ujung. Selamanya saya akan berenang di pinggir. Padahal kalau dilihat jarak saya ke ujung dengan ke pinggir sama saja. Rugi ah.

Ya sudah. Coba lagi. Laporan komplit tesnya gimana nanti saya tulis ya. Sekarang mau cari pantai atau pemancingan sepi. Mall diskon boleh juga lah. :p