SLIDE1

Like capcai in here all things can be mix, put together, and absolutely delicious. Cause this is not common capcai. This capcai is burned out.

31 December 2010

2011 Nanti

31 December 2010 capcai bakar

Saya butuh waktu lama untuk melihat tahun 2010 dan merangkum apa yang saya alami. Saya bersyukur di tahun ini saya cukup waras untuk tetap meneruskan hidup walau sering meminta saat saya bangun, saya sudah menghilang. Terhapus dari dunia. Tak sengaja di-delete sang pencipta. Puff aja gitu.
Karena itu
2011 nanti saya ingin bahagia. Ingin sekali.
Amin.
Lets rock and ruler the next 365 days!


gambar diambil dari sini

The Thirteenth Tale


Penulis : Diane Setterfield
Harga : IDR 70. 000

Buku ini hasil pinjaman dari si Adek dengan embel-embel "Bagus banget loh Kak!" Awalnya saya pesimis, secara selera saya dengan si adek beda banget. Adek saya walau kemasannya cewek banget doyannya film horor. Bukan film vampir cina yang menyerang lawan dengan loncat-loncat lalu mati kutu saat ditempelin kertas kuning. tapi film horor yang banjir darah, musik yang ga bersahabat dengan jantung, dan gambar-gambar seram yang melekat di mata saat tidur sendiri di kamar gelap. Hiyahhh nonton kog bikin stres!

Si adek juga doyan mencari tahu bagaimana caranya memanggil dan mengabadikan kehadiran mahluk-mahluk halus. Sekarang kebayang kan gimana selera bacaan dia?Bukan saya banget singkatnya -singkat dari mana? dua paragraf gini-.

Jadilah buku ini terbengkalai beberapa lama sampai saya kehabisan bahan bacaan. Gambarpun terpaksa diambil dari solitudesolitaire karena buku yang dipinjam dari si Adek sudah lusuh ketindih-tindih beberapa buku baru dan kehilangan beberapa halaman.

Surprisingly buku ini beneran bagus. Saya tidak bisa berhenti membacanya. Coba adik saya bilang buku ini merupakan Best Book of 2006 nya konsumen Amazon. Dari awal meminjam pasti langsung dibaca. Saya memang label oriented. bwahahahaha.

The Thirteenth Tale atau Dongeng Ketiga Belas bercerita mengenai kisah hidup Vida Winter seorang pengarang novel-novel laris yang masa lalunya selalu menjadi misteri. Berlomba dengan penyakit yang mengerogoti nyawanya Vida Winter meminta Margaret Lea, pemilik toko buku antik, menulis biografinya.

Dongeng Ketiga Belas sendiri merupakan novel karangan Vida Winter yang hanya berisi 12 cerita dongeng yang kita kenal, namun diubahnya menjadi dongeng versi baru yang mengemparkan dunia. Sehingga saat membaca novel ini kita akan menemukan cerita dalam cerita, banyak rahasia dan dusta, kejujuran yang diberikan sepotong-sepotong, dan peristiwa-peristiwa yang saling mengait.

Kisah-kisah yang melibatkan anak-anak yang ditinggal ibunya, saudara yang kehilangan saudaranya, suami yang kehilangan istrinya, gadis cantik yang keras kepala, kakak lelaki yang sakit jiwa, cinta yang tidak umum, pengurus rumah yang renta, tukang kebun yang menyimpan rahasia penting, pengasuh anak yang memiliki hasrat terpendam, anak kembar yang sibuk di dunianya sendiri dan warga di sekitar rumah milik bangsawan yang besar dan konon berhantu itu.

Semua kisah diurai oleh Diane Setterfield dengan rangkaian kata yang sangat sangat sangat bagus. Menimbulkan imajinasi, rasa ingin tahu, dan pemahaman yang pelan-pelan dibangun. Saya suka banget. Baca deh.. dijamin ga nyesel. Kabarnya hak pembuatan film buku ini sudah dibeli oleh Heyday Films, produsen film-film Harry Potter, cuma belum ada kabar berita kapan akan tayang di bioskop-bioskop terdekat.
Kebencianku bukan terhadap pencinta kebenaran, melainkan pada kebenaran itu sendiri. Bantuan apa, penghiburan macam apa yang terkandung dalam kebenaran, jika dibandingkan dengan dongeng? Apa gunanya kebenaran, pada tengah malam, dalam kegelapan, ketika angin meraung seperti beruang dalam cerobong asap? Ketika kilat menerakan bayang-bayang di dinding kamar tidur dan hujan mengetuk-ngetuk jendela dengan kuku-kukunya yang panjang? Tidak. Ketika perasaan takut dan dingin membekukanmu menjadi patung di tempat tidur, jangan berharap kebenaran dengan tulangnya yang keras berbungkus kulit akan datang menolongmu. Karena yang kaubutuhkan adalah kenyamanan sebuah dongeng. Dusta yang memberikan perasaan aman yang membuai dan menenangkan.

28 December 2010

Les Bahasa Inggris (lagi) di EF

28 December 2010 capcai bakar


Dalam rangka mengurangi kerutan kening HRD setiap saya wawancara bahasa inggris, beberapa bulan ini saya mengikuti les bahasa Inggris di English First . Rencananya mengambil kelas conversation tapi apa daya level Capcai ga nyampe. Jadi sebelum les di EF kita diberi tes penempatan (IDR 60ribu saja) yang terdiri atas tes tertulis, pilihan ganda dan essai, serta wawancara.

Tes tertulis saya oke.. sebagian besar benar. Wawancaranya yang auw.. auw.. Jadilah saya terdampar di sebuah kelas yang didominasi anak SMA atau baru mau kuliah. Untuk menggambarkan gap umur yang besar, saat saya mengatakan "Have fun go mad" anak-anak itu melongok dong. Ga ngerti aja gitu. Ini have fun go mad loh, istilah disko paling populer sedunia. Pulang dari tempat les saya langsung beli krim malam anti keriput. Pyuhhh.

Menjelang natal di dinding EF bertebaran surat anak-anak kecil kepada Santa. Saya pun membaca surat-surat itu satu per satu. Beberapa tulisan sulit dibaca. Beberapa bikin ketawa. beberapa bikin hati melongo melihat daftar wish listnya anak SD. Bener-bener deh permintaan anak sekarang, kagum sama emak bapaknya.

Dear santa,
My name is Chacha. I have been a good girl because I help my mummy. I want alphard, psp, camera, jaguar, and nerf

Dear santa,
My name is Anastasia. I have been a good girl because I help my mom. I want car, ring, and wii.

Dear santa,
My name is Ghysa. I have been a good girl because I help my mom. I want psp and laptop.

Dear santa,
My name is Nadila. I have been a good girl because I help my family. I want car jaguar.

Yang ini bahkan mintanya ga tanggung-tanggung

Dear santa,
I want airport.

Yang satu ini bikin saya ketawa ngakak.. Lucu banget sih anak-anak kecil ini.

Dear santa,
My name is Lina. I have been a good gril because I play the computer.

Yang satu ini bikin saya meleleh.. hihi.. besarnya sama tante ya sayang

Dear santa,
I have been a good boy because I love my family. I want Ferrari and ps.

Dan pemenangnya adalah Naura... Hebat!

Dear santa,
My name is Naura. I have been a good girl because I love my dad, my mom, and my sister. I want candy and gift for my family.

By the way, kalau ditanya enakan les dimana, di EF atau di TBI (dua tempat les bahasa inggris terpopuler di Bandung) saya suka bingung. Saya les di TBI untuk TOEFL sehingga di kelas Toefl Preparation-nya suasananya serius. Ada games juga walau tidak semeriah di EF, yang mungkin diakibatkan teman sekelas yang sudah kuliah tingkat akhir dan hendak mengambil S2. Materinya juga fokus, lebih mendalami trik-triknya.

Di EF karena kelas yang saya ambil kelas umum, materi pelan-pelan dibiasakan dalam percakapan dan penggunaan sehari-hari. Banyak materi yang dapat menambah pengetahuan kita tentang budaya dan kondisi negara-negara lain. Dan karena teman sekelas sebagian besar masih SMA, suasananya meriah. Buat saya yang berjiwa muda dan suka ga sadar umur ini sih senang-senang saja.

18 December 2010

FOWAB dan S 28

18 December 2010 capcai bakar


Pernah dengar tentang FOWAB? FOWAB merupakan kependekan dari FOrum Web Anak Bandung yang bertelur dari bincang-bincang di twitter. Forum ini mengumpulkan orang-orang kreatif yang ingin memajukan Indonesia dengan kemampuan yang mereka miliki. Sepanjang tahun 2010 mereka sudah mengadakan empat kali acara "belajar bareng". Yang dipelajari macam-macam mulai bagaimana menghasilkan uang dari internet tanpa downline, tips dan trik menjadi freelancer, dan banyak lagi. Di FOWAB kita bahkan bisa mempromosikan aplikasi, produk, atau layanan web bikinan sendiri karena mereka menyediakan kesempatan kepada pemilik-pemilik start up untuk memberikan presentasi.

Selain ajang promosi start up, di FOWAB kita bisa menjual diri dan menjalin network, manatau dapat jodoh yang jam kerjanya bebas dengan penghasilan dollar. Cihui kan? Hihi

Terus apa hubungannya FOWAB dengan foto steak diatas?

Begini... FOWAB sering kali diadakan di Cafe S28 yang beralamat di jalan Sulanjana no 28. S28 merupakan paduan tempat makan, toko buku, dan tempat belanja oleh-oleh khas Bandung. Heaven! Beberapa kali menjadi penerima tamu di acara FOWAB membuat saya mencoba beberapa makanan yang disediakan, tapi cuma satu steak ini yang sempat difoto. Lupa namanya apa, lupa harganya berapa. Ga membantu sekali ya.. hihi

Dagingnya tebal bikin kenyang. Rasanyapun mantap. Bikin nagih. Jadi ga percaya kalau pernah ada yang ngeluh piring di cafe ini kotor. Karena saya ga bisa ngeluh apa-apa dengan makanan yang disajikan.

Oke kalau lain kali main ke acara FOWAB silahkan dicoba salah satu menu ini dan jangan sungkan menyapa saya yang manis di meja penerima tamu ya. Sampai ketemu!

13 December 2010

The Little Things She Need

13 December 2010 capcai bakar



Saya baru beli sepatu. Gara-gara sepatu converse ijo kesayangan saya hilang setelah berhari-hari dianggurin di teras. Tinggal di Bandung dan mengeluh tidak punya sepatu itu sama seperti tinggal di Malang dan mengeluh tidak pernah makan apel.

Di Bandung ada Pasar Kembang, pusat sepatu dan tas murah. Sepatu dan tas disini rata-rata dibandrol IDR 30 ribu saja. Modelnya up to date, tiruan model terbaru di toko-toko besar. Ukuran kaki saya (yang tidak normal) pun ada. Tapi ada harga ada barang.

Dengan pemakaian seperti saya yang jalan kaki dan bawa barang banyak kemana-mana serta beberapa kali berkubang air hujan, umur si tas dan si sepatu hanya seminggu. Apalagi sol nya yang ga mencengkeram lantai mall. Bahaya!

Jadi nyari sepatu di Pasar Kembang dicoret dari daftar.

Mencari sepatu di toko-toko besar itu ujian buat saya karena ukuran kaki yang 40-41 dan warna kaki yang indonesia banget, eksotis gitu. Oh jangan lupa dengan jari-jari kaki yang tidak mau disuruh merapat kecuali dibebat tali rafia. Sudahlah.. belanja sepatu cantik bukan refreshing buat saya.

Sampai suatu hari Jeng RicaRica (iya kita ketemuan di rumah makan) berkata di The Little Things She Need di Ciwalk banyak sepatu berukuran besar. Saya pun penasaran. Main kesana dan auwww banyak sepatu flats berwarna-warni, ada wedges juga, ada pumps juga, ada high heels juga... auw... auw...

Dan semua model masih ada dong ukuran 40 nya. Tapi sayangnya pas dicoba ukuran 40 mereka kecil. Si jari-jari harus nekuk, giliran ukuran 41 (iyaaa.. mereka juga punya ukuran 41) kelebaran. Saya sih lebih baik jarinya nekuk daripada kelebaran.

Lalu berbekal nekat, saya membeli dua pasang seharga IDR 200 ribu. Dipakainya enak. Solnya mencengkram lantai. Udah seminggu menghantam hujan di Bandung dan masih baik-baik saja. Kurangnya cuma dari dua pasang yang saya beli, yang kuning lebih sempit padahal nomornya sama-sama 40.

Tapi saya masih mau nyoba wedges dan pumps nya.. *rogoh-rogoh kocekkk*

03 December 2010

Storytyper, berbagi dengan jemari

03 December 2010 capcai bakar



Sore ini saat sedang menelurusi timeline twitter, saya melihat beberapa akun memesan lagu ke radio-radio online. Saya pun teringat, kapan terakhir kali mendengar radio. SMA kelas 2 rasanya. Waktu Sogi masih jadi penyiar Dua Gembrot di Radio Oz, belum nampang di Extravaganza.

Saya bukan pecinta lagu. Rasa-rasanya kalau suatu saat saya beli Ipod itu lebih buat gaya-gayaan ketimbang ingin mendengarkan sekumpulan lagu. Mungkin karena suara saya super duper fals.

Kalau ada suatu masa, saya naksir berat sama om Ronan Keating itu lebih karena peer preasure teman-teman SMP. Semua teman saya punya boysband favorit. Backstreet Boy, The Moffats, Hanson, 98 degress, spice girls, etc. Mereka punya semua kasetnya, hafal liriknya, punya pin up personil-personilnya, loose leaf bergambar dan punya nama belakang mencaplok nama penyanyi kesayangan.

Biar dikata gaul, sayapun memantengin MTV tiap hari. Padahal dahulu ini channel terakhir yang saya lirik. Saya sukanya HBO.. hahahaha. Jadi setamat SMP, kegilaan saya menurun. Mendengarkan radio karena itulah satu-satunya hiburan saya selain buku. Lambat laun radio cuma jadi pajangan di tengah-tengah tumpukan buku yang makin menggunung.

Iya, saya mampu bertahan hidup berbulan-bulan tanpa mendengarkan satu lagu. Tapi kalau seminggu tidak main ke toko buku badan saya langsung meriang. Jadi entah apa rasanya kalau saya tidak bisa melihat. Tidak bisa membaca dan blogwalking. Karenanya saat Eka dan Reni membuat Storytyper, sebuah gerakan mengetik ulang berbagai cerita untuk teman-teman tunanetra, saya langsung jatuh cinta.

Mengetik ulang sebuah cerita ternyata merupakan 85% proses yang dibutuhkan untuk membuat literasi braille. Jadi semakin banyak cerita yang kita ketik ulang, semakin banyak pula bacaaan yang tersedia untuk teman-teman tunanetra.

Caranya mudah, kita tinggal memilih satu cerita dari 365 Cerita Dongeng Dunia Sepanjang Masa disini dengan cara meninggalkan komen di cerita yang kita pilih. Satu cerita hanya bisa dikerjakan oleh satu orang dalam jangka waktu sehari. Ketik ulang menggunakan huruf arial ukuran 12 lalu kirim hasil ketikan (dalam format doc) ke storytyper@gmail.com beserta nama lengkap, email, alamat facebook, dan id twitter. Lebih lengkap mengenai tat cara pengetikannya bisa dilihat disini.

Semua ketikan yang dibuat akan diedit dan disatukan lalu disumbangkan ke Yayasan Mitra Netra Jakarta. Mereka akan mengubah file ketikan alfabet biasa menjadi braille. Kemudian dicetak menggunakan mesin dan kertas khusus untuk buku braille. Selain dicetak juga akan disediakan dalam bentuk file untuk di download, untuk mempermudah yayasan tuna netra yang ada di seluruh Indonesia untuk mengakses sendiri kebutuhannya.

Mari berbagi! Lumayan kan sambil nunggu macet saat semua blog sudah dibaca, semua status sudah dikomentari, dan semua tweet sudah di RT.