SLIDE1

Like capcai in here all things can be mix, put together, and absolutely delicious. Cause this is not common capcai. This capcai is burned out.

26 August 2011

Arus Mudik

26 August 2011 capcai bakar

Masih ada 50 menit lagi sebelum saya bisa absen pulang, ke atm, ambil uang, balik ke kostan, bayar kostan, ganti sprei, minta dipasangi AC, ngepel (kalau sempat), nyegat taksi, ke travel (entah Baraya atau Cititrans. Udah pesan Cititrans, tapi Baraya lebih dekat kantor juga lebih murah. Tentu saja lebih tidak nyaman ketimbang cititrans), dan sampai berjumpa lagi Jakarta. 
Ga sampai seminggu nanti saya sudah balik lagi ke Jakarta. Bukan karena liburnya habis. Tapi karena Mama, Papa, serta adik bungsu saya lebaran di Jakarta. Terus kakak saya mendadak punya ide untuk touring ke Lampung serta Palembang untuk mempertemukan Mama dan Papa dengan para besannya. Hehehe.. orang tua saya hanya bertemu besan-besannya saat pernikahan saja.Asyik sih.. tapi ga kebayang gimana capeknya. *nari hula-hula*

Jadi setelah tiga bulan jadi penduduk Jakarta, saya menyerah. Menyerah nge-kost murah di Kalibata karena jarak tempuh 3 jam pulang pergi via busway (di musim anak sekolah libur). Macet dan berdiri kejepitnya sih ga masalah. Nyampe kostan langsung teparnya itu yang ga oke. Ga ada waktu buat ngelakuin hal lain. Tadinya saya kira saya langsung kerja di kantor Kalibata. Jadi dengan pede bayar kostan di Kalibata. Cuma Rp300.000. Tapi ya gitu.. saya yang baru keluar dari wisma ber-ac dan berkamar-mandi  dalam yang lengkap pakai shower serta kloset duduk, kaget berat waktu liat kosannya cilik, ga pakai tempat tidur, berkipas angin, dan kamar mandi luarnya sempit banget. Padahal kostan kalibata itu sama saja kondisinya dengan kostan saya awal-awal di  Bandung. Lebih cihui malah. Rencananya sih ini kostan awal sampai saya dapat kostan yang ber-ac dan kamar mandi dalam.




Tapi... waktu saya laporan ke kantor pusat...  saya dapat kabar kalau harus mengabdi dulu ke Kantor Pusat selama 9 bulan. Tarakdukcessss! Mulailah petualangan saya pulang-pergi Kalibata-Gatsu tiap hari. Awalnya belagu mau nahan-nahanin dirisebulan di Kalibata. Sayang duit ceritanya. Tapi dapat teman satu kostan yang muntah-muntah setiap kejebak macet dan kehimpit manusia busway itu ga memotivasi banget ya. Jadi manja nyari kostan di pinggir kantor yang harganya 3 kali lipat kostan lama. Hihihi. *sungkem ke jeng Erlita*

Kostan ini jauh lebih besar, toiletnya oke. Masih di luar sih.. tapi lebih besar. Sebenarnya ada AC, tapi kita minta tolong ibunya ga usah dipasang biar bisa menghemat Rp200.000. Alhamdullilah ibunya baik. Mau. Tapi ya.... sebulan pertama masih oke. Bulan selanjutnya? Saya masuk angin dengan hebohnya. Dua hari muntah-muntah melulu. Semua makanan langsung keluar. Kalau sudah begitu... uang dua ratus ribu yang dihemat ga ada artinya. Apalagi dapat teman kostan baru yang pakai AC itu tidak memotivasi banget. Jadi manja.. pengen pasang AC juga. Bwahahaha. Makanya bulan ini mau langsung pasang AC. 






Padahal ya... senior-senior disini yang jabatannya udah oke gitu, yang penghasilannya udah lancar gitu.. kostannya di bawah sejuta semua. Bahkan salah satu ibu bos saya. Jadi berasa manja. Tapi aku kan princes. *ditakol cinderella*

Iya nih.. berasa manja. Kostan kudu pakai AC.. travel harus Cititrans. Padahal Baraya itu dekat banget sama kantor jadi aku ga perlu ngeluarin duit taksi lagi dari pool ke kantor. Jadi bakal ngehemat 50% ongkos bolak-balik Jakarta-Bandung. Tapi kan ga nyaman. Hiks. Bingung. Dilema.


Dannn lagu kantor sudah berkumandang... Mari kita pulang dengan hati senang karena gaji dipercepat dan ada surat tugas pertama untuk saya. Akhirnya. Eh mohon maaf lahir batin ya... serta doakan saya tidak lupa absen lagi. Minggu kemarin saya dua kali lupa absen pulang. Walau belagu bilang "Gaji dipotong sih ga masalah -kan ceritanya abdi negara- Penilaian kinerja jelek yang jadi masalahnya" saya tetap bolak-balik ngurus lupa absen pulang itu ke SDM dan TI. Doakan lancar ya. Saya sudah pasang alarm biar ingat absen tiap hari kog. Hahaha.


24 August 2011

Berburu Hujan di Kota Tas

24 August 2011 capcai bakar

Jumpa lagi di jalan-jalan weekend ramai ala Capcai. Kali ini saya pelesiran ke Bogor. Tetap dong dengan geng Litbang. Rencananya sih mau main ke Kebun Raya Bogor, mau foto-foto sampai baterai kamera habis. Bukan karena kita banci kamera sih.. tapi lebih karena ini salah satu metode wisata hemat. Cuma foto-foto ini kan? Ga harus beli baterai abc atau film fuji. Cukup ceklek-ceklek dan pasang tampang cantik seharian.

Tapi sayang rencana tinggal rencana. Sampai di Bogor (setelah salah ngantri di jalur yang macet padahal jalur yang benar kosong melompong gitu *tepok jidat rame-rame*) tujuan utama peserta perempuannya beralih ke Tajur. Cari tas murah ya kakakkkk. Berhubung peserta lelaki nurut-nurut aja asal perut keiisi maka dimulailah petualangan mencari Tajur, maklum ga satupun diantara kita tau tajur itu dimana.

Di bayangan saya Tajur itu seperti Kota Kembang di Bandung, satu pasar isinya pedagang tas semua. Atau seperti Cibaduyut, Sepanjang jalan kiri kanannya orang jualan sepatu kulit, bedanya di Tajur, kiri kanan pedagang tas.Ternyata salah sodara-sodara. Gitu masuk daerah Tajur kami langsung  ketemu Terminal Tas. dan toko-toko besar lainnya. Dilepeh dong sama kita-kita... "Di Bandung juga ada!" Alasan lain, toko-tokonya ga diemperan gitu. Berasa aura mahalnya.

Foto diambil dari sini
Kamipun meneruskan perjalanan pelan-pelan. Terus bengong.. deretan tokonya cuma segini? Pendek. Saya langsung negatif thingking. Jangan -jangan ini bukan daerah Tajur, jangan-jangan ini daerah yang meniru Tajur dengan maksud menipu turis macam kami. *dramah*. Karena belum ada yang mau belanja, kami memutuskan sarapan dulu di Pujasera seberang deretan toko-toko itu. Awalnya ragu-ragu sih. Secara dari luar tidak terlihat keramaian. Either kami kepagian atau tokonya memang sepi. Tapi berhubung perut sudah memanggil-manggil, kita nekat masuk.

Gitu masuk... Pelayannya saja terlihat kaget ada pengunjung. Hahaha. Haduh. Yo wes lah. Yang penting makan. Hasilnya? Makanannya biasa aja. eatable sih. Tapi ga berkesan. Harganya juga lumayan mahal. Yang penting perut udah keiisi jadi bisa jalan lagi. Berbekal petunjuk tukang parkir kamipun mengarah ke SKI Katulampa. Namanya aneh ya.. dan bayangkan nama itu yang bolak-balik harus ditanyakan ke pak polisi, pedagang pinggir jalan, atau penduduk setempat. Setiap mau nanya jalan, saya nanya balik ke teman nama jalannya apa? Itupun dengan wajah ga yakin nama jalan yang saya dengar dan yang saya sebutkan benar atau tidak. (x__x)

Ternyata SKI Katulampa itu ada di belakang Mall Ekalosari ya. Dari jalan masuknya kita bisa ngeliat mallnya. Hihi. Gitu masuk di sebelah kiri ada rumah pribadi yang gedeeeee banget. Googling sana-sini rupanya SKI itu berdiri di tanah pribadi. Tajir pisan sih kamuuuu. Sirik saya. Bayangin deh dia punya tanah seluas 4 hektar yang diatasnya dibangun satu toko tas gedeeee, satu toko sepatu gedeeee, satu food court gedeeee, satu mushola, ada area flying fox, danau, kolam ikan, playing ground, paint ball, esdebra esdebre. Masya Allah.. itu duitnya semana coba.

Foto diambil dari sini Silahkan di klik banyak foto-foto soal SKI

Bukan mau narsis.. mau nunjukin danau gede di belakang. Bwahahha
Toko Tasnya. Ada stand roti unyil Venus juga. Aseli.
Playing groundnya.
banyak keluarga kura-kura.
gede banget! Sayang kolamnya kotor. Amis
Bisa main perahu-perahuan
Berhubung ga bawa anak-anak kita langsung menuju toko tasnya. Tanpa -catet ya- melirik ke toko sepatu. kan rencananya liat tas. Dompetnya juga cuma buat liat tas. Hihi. Toko tasnya ini semacam hall yang gedeeee banget. Milihnya jadi enak karena ga desak-desakan. Tapi saya ga doyan. Pertama modelnya norak -apa saya yang ga pinter nyari ya-. Kedua harganya ratusan ribu aja gitu. Hiyahhh.. aku pikir 30ribuan atau 50ribuan gitu *dikemplang penjualnya* Yang bagus itu banyakan tas ransel, tas laptop, atau koper. Harganya memang lebih murah daripada hypermarket-hypermarket gitu sih. Tapi saya kan ga perlu. Tas cewek juga ga perlu sih.. tapi kalau murah kan jadi perlu. Hihi.
Ada sih tas cewek yang bagus dan modelnya ga norak. Tapi mahal, trus modelnya juga burbery banget. Kan saya sok-sokan anti piracy gitu. lagian mana ada yang percaya itu tas asli kalau yang makai masih naik turun busway macam saya. Jadi hasil di SKI Katulampa? Nihil.

Saya lalu menyeret geng Litbang ke toko-toko kecil yang sempat kami lihat waktu mau ke SKI. Jadi masih di jalan Katulampanya. Cuma ada enam toko gitu deh dan disini murahhhhhh. Harganya mulai dari  50ribuan. Kualitasnya sih sama aja sama Pasar Kembang atau Mangga Dua gitu. Ada yang tiruan ada yang kreasi sendiri. Ada dompet 20ribuan yang kualitasnya sama persis dengan dompet 70rban yang pernah saya lihat di Ciwalk. Saya lebih suka sama toko-toko ini karena harganya lebih sesuai budget saya -saat itu-. :D


Kelar belanja-belanja sekarang saatnya wisata kuliner. Tujuan pertama Macaroni Panggang yang lagi hietss di Bogor. Saya sih doyan aja, karena ga terlalu naksir asinan bogor atau toge goreng. Restorannya asik, interiornya oke, dan lagi-lagi sepi. Kita pesan dua makaroni panggang ukuran medium. Satu pakai daging sapi, satunya lagi enggak.


Minjem celemek pelayannya dan poto ngeganggu disana.
Dan itu pilihan yang salah. Porsinya aujubilah gedenya. Harusnya sih mesen yang small aja kalau mau nyoba  dua-duanya. Saya lebih suka yang spesial, soalnya pakai daging. Kata temen saya dibandingin Macaroni panggang enakan lasagnanya. Tapi waktu itu kita ga nyoba. Ngabisin satu loyan aja ampun-ampunan apalagi mesan menu lain. mereka ga jual macaroni panggang aja kog. Ada menu nasi, iga, atau kentang goreng juga.




Selesai makan disini teman saya masih ngajakin ke Pie Apel yang lagi heits juga. Wassalam deh.perut kita udah kenyang abis. Lagian saya ga terlalu suka Pie Apel. Asem. *errr ya iyalah* jadi kita memutuskan jalan-jalan ke IPB. Setelah sebelumnya mampir ke Botani Square buat numpang pipis. IPB edan ya.. punya mall aja gitu. *geleng-geleng kepala*


Kelar foto-foto mari kita pulang. Sebelumnya mampir dulu ke Roti unyil Venus beli oleh-oleh buat anak kostan. Dan hujan langsung turun. Gedenya amit-amit. Tuh liat kita basah kuyup banget.


Dia akhir perjalanan saya berpikir, kenapa tempat makan di Bogor sepi-sepi ya? Tempat belanjanya juga sepi. jangan-jangan orang bogor ga doyan makan dan nongkrong-nongkrong atau belanja gitu ya? Apa kaminya yang datang kepagian. Dan sampai jumpa di episode jalan hemat ala Capcai. *eluselus perut dan tas baru sembari ngunyah roti unyil sekardus*

Sumber-sumber:

19 August 2011

Korea di SCBD

19 August 2011 capcai bakar


Ceritanya kan saya lumayan sering pulang pergi Jakarta-Bandung nih. Trus dari sekian banyak travel Jakarta-Bandung yang ada favorit saya itu Cititrans. Alasannya dengan harga yang sama, di Xtrans atau Cipaganti saya harus duduk berendeng tiga dalam satu deret. Kalau di Cititrans enggak. Duduknya single chair gitu. Iya sih tempat duduk di xtrans dan cipaganti lumayan gede jadi tetap (lumayan) nyaman. Tapi secara harganya sama dan fasilitasnya lebih cihui sudah pasti saya pilih Cititrans.  Jadi kalaupun saya ketiduran sampai terangguk-angguk kepalanya, pundak penumpang kiri kanan ga terganggu. (^_^)v Iya.. kalau ketiduran di jalan saya itu sampai ngangguk-ngangguk dan miring kiri kanan. Ganggu lah.

Masalahnya cititrans ini laku betul dah. Jumat malam pasti waiting list, minimal dua jam. Kalau mau pesan harus ke salah satu pool mereka soalnya kalau via telepon ga pernah diangkat. Pulsa habis, ngomong "Hai" sama ticketing nya aja ga sempat. Jadilah saya pasang strategi, selalu pesan travel langsung untuk satu bulan. Untungnya pemesanan ke tujuan manapun bisa dilakukan dari pool manapun. Taktik ini lumayan sukses sih. Saya ga pernah waiting list tapi selalu dapat jam 8 malam juga. Yang lebih awal selalu sudah penuh. 

Trus karena pulang ngantor jam 5 dan saya selalu nebeng teman yang searah jadilah saya sampai di pool Cititrans yang di SCBD pukul 6. Dua jam sebelum keberangkatan. Hahahaha *nyengir miris juga* Untunglah lokasi pool ini dilengkapi wifi dan berada di sebelah Grand Lucky. Saya bisa cuci mata keliling supermarketnya dan bisa nongkrong manis di food courtnya. Naahhh foodcourtnya Grand Lucky ini cihui loh.. ada burger, pizza, mie-miean, dan berbagai macam makanan dengan porsi raksasa. Saya suka! Jadi sayapun berjanji untuk mencoba satu persatu makanan di tempat ini. Dan tempat pertama dipersembahkan kepada Makanan Korea.

Saya lupa nama fendornya tapi letaknya dekat kasir. Disini metode pembeliannya, pesan dulu ke masing-masing fendor terus kita bayar ke kasir. Selanjutnya struknya kita kasih ke fendornya dan tinggal duduk manis nunggu makanan datang.

Pesanan saya adalah Nasi bulqoqi karena dia ada kimchinya. Kimchi (yang ditengah dan berwarna merah) ini asinan sawi putih khas korea. Rasanya asam manis pedas gitu. Pertama kali rasanya agak aneh buat saya, mungkin karena saya nyuapnya langsung banyak macam makan tumisan kailan.



Dengan harga Rp 35.000 saya dapat  satu mangkok nasi dengan sup beserta lauk seperti beef teriyaki, telor dadar gulung, bihun kecap, dan salad sayur. Supnya enak banget. Telor gulungnya sih biasa aja menurut saya, kurang padat malahan. Beef teriyakinya ga ada yang istimewa sih. Bihunnya enak. Saladnya ga disentuh karena kekenyangan. Porsinya banyak nih. Kenyang banget.

Teman yang saya tebengi mesan baso kampung yang kata dia enak banget. Isinya daging semua ga ada tepungnya. dan lembut banget. Buat saya yang biasa makan baso pinggir jalan sih baso ini kurang kenyal sangking kelembutannya. ga pakai borax kali ya.. Hihi. Rasanya enak. Kuahnya juga enak. Yang ga enak sih harganya Rp 8.000 satu bundaran. Bandingin sama bakso Pak Man yang Rp 8.000 dapat satu mangkok full. Hihi.





Kalau mau nyoba silahkan singgah kesini ya


13 August 2011

100 Langkah untuk Tidak Miskin

13 August 2011 capcai bakar



Penulis : Ligwina Hananto ( @mrshananto ) Pemilik QM Financial 
Penerbit : Lentera Hati
Harga : Rp72.000 Saya beli di Rumah Buku. Lupa harga setelah diskonnya berapa. Kalau mau beli online di BukaBuku Rp 54.000 dan di Kutukutubuku Rp 61.200 
___________________________________________

Saya sudah lama pengen baca buku ini. Pengen banget. Tapi harganya lumayan jadi agak maju mundur jadinya. Gitu menerima gaji pertama dari tempat kerja yang sekarang sayapun langsung membelinya di Rumah Buku. Di TogaMas ga ada waktu itu. Begitu membacanya saya langsung jatuh cinta. Harusnya beli banyak, terus dibagiin ke Kakak, mama papa, dan handai taulan lainnya. Bagus banget. 

Buku ini membahas dasar-dasar perencanaan keuangan dengan bahasa yang sangat mudah dipahami. Memberi gambaran besar apa yang harus kita lakukan dengan uang kita. Karena itu saya butuh waktu lama untuk membacanya. Baca satu bagian, diem dulu.. narik nafas dulu.. nenangin hati karena sudah menyia-nyiakan penghasilan selama ini. Coba baca buku ini dari awal. Hiks. 

Buku ini juga cocok buat orang-orang yang ga suka baca panjang-panjang, seperti Anggi nya Icreativelabs, karena desain, layout, dan tipografinya mirip buku Your Job is Not Your Career-nya Rene CC. Bahkan saya yang ga ngerti layout ini berpendapat bukunya Rene CC itu buku lokal dengan layout terkeren yang pernah saya baca. Kalau merasa buku ini masih terlalu panjang.. bisa langsung melirik ke 100 check list yang diselipkan didalamnya. 100 langkah yang harus dilakukan agar kita menjadi golongan menengah yang kuat, yang bisa mempersiapkan masa depannya, dan yang bisa membantu orang lain.


Terus karena saya sudah punya penghasilan sendiri (Yay!! Checklist pertama bisa dicontreng) Sayapun meneruskan ke langkah berikutnya, yaitu:

  1. memisahkan pengeluaran bulanan dengan pengeluaran mingguan (sudah.. on progress untuk mentaatinya dan mengatur budgetnya. Sempat kedikitan sangking hematnya. Dan sempat berlebihan)
  2. pergi ke ATM seminggu sekali saja (on progress juga. Lagi dibiasain. Kadang-kadang ngelanggar gara-gara budget mingguan dibikin hemaaaat banget. Sekarang agak dilonngarin)
  3. mengerti cara kerja kartu kredit (intinya bayar lunas di akhir bulan kan?)
  4. utang kartu kredit lunas setiap bulan (errr secara ga punya KK ya.. jadi.. contreng! Hahaha)
  5. membayar pajak dan melaporkan SPT (baru punya NPWP jadi pastinya nanti bayar kan?)
  6. punya rencana keuangan sederhana buatan sendiri (sederhana itu ngatur cash flow aja kan? hihi)
  7. mampu membayar semua tagihan/biaya hidup sendiri (Belum! *lirik sumami*)
  8. punya dana darurat minimal sekali biaya hidup sebulan (on progress juga..)
  9. punya fasilitas kesehatan  yang cukup -dari kantor atau beli asuransi kesehatan sendiri- (Belum!)
  10. mampu beramal minimal 2,5% dari penghasilan bulanan 
  11. memiliki rekening belanja (belumm.. sekarang masih belanja sesuka hati)
  12. mampu menyisihkan 10% dari penghasilan bulanan untuk ditabung (on progress juga. lagi dibiasain. diitung hutang. pokoknya gitu dapat rapelan harus menuhin nominal yg harus ditabung)
  13. mengatur penghasilan tahunan dan pengeluaran tahunan (belum.. kan ditanggung sumami)
  14. mampu berlibur tanpa berutang (binun.. berliburnya kan dibiayai sumami)

Jadi dari 15 langkah itu, baru 6 yang sudah saya lakukan dan 4 yang on progress. Cih! Harus pasang target di akhir tahun 2011 ini kelimabelas langkah itu sudah saya contreng. Sebenarnya ada beberapa langkah lain yang sudah saya lakukan tapi berhubung eike perfeksionis wannabe mari kita komplitin per 15- per 15 ya..

Trus karena saya kejar setoran biar cepat beres keuangannya, saya menargetkan menabung 30% sebulan. Sekarang sih baru belajar 20% dulu, 10% tabungan untuk Dana Darurat dan 10% investasi di RD. Sisanya nanti pas rapelan turun.

Dan ini RD pertama yang saya beli pakai uang sendiri. Nitip belinya sih ke Bapak Sumami. Karena beliau yang punya rekening Commonwealth nya . Kenapa Commonwealth? Karena setelah keliling-keliling ke berbagai bank, customer service yang paham benar dengan reksadana ini hanyalah Commonwealth. Bank lain malah bingung-bingung cantik.


Berhubung pakai rekening bapak sumami sepertinya saya perlu meminta beliau membuat surat wasiat yang mencantumkan data lengkap akses ke rekening ini. In case yaaaa, kebanyakan koding bikin beliau kena amnesia mendadak. #sinetron.


Jadi gitu dapat gaji 10% langsung saya transfer ke ATM Tabungan. 10% ke commonwealth (bbm sumami,  minta dibeliin RD, terus print screen bukti pembeliannya. Bwahaha). 5% zakat. Pisahin pengeluaran bulanan (kostan,pulsa, belanja bulanan, vitamin, etc). Sisa di ATM cuma untuk pengeluaran mingguan (makan, laundry, galon, jajan, transportasi, belanja mingguan macam buah,susu,cemilan) dan sisa pengeluaran mingguan itu yang saya anggap budget belanja. Harusnya dipisahin sih ya.. biar belanjanya ga lebai. Hihi. 


Terus saya juga sedang tertarik mengadopsi buku lain Ligwina, Plan Now! (bisa dibeli di Buka Buku dan Kutukutubuku seharga Rp29.750) Ayo yang mau mulai merencanakan keuangan sendiri. Silahkan dibeli bukunya.

Kata Saya


Buku ini wajib punya buat yang orang-orang yang ingin tahu bagaimana mengatur sendiri keuangannya. Wajib punya juga buat orang-orang yang mau hidupnya terjamin. Rezeki itu memang Allah yang kasih. Kalau sudah dikasih Allah, kewajiban mengaturnya terletak di tangan kita. Diatur biar hidup kita tidak menyusahkan orang lain, bahkan bisa membantu orang lain. Yuk dibeli!

09 August 2011

Paket Hebat Keluarga dari Indosat

09 August 2011 capcai bakar

Masih ingatan postingan saya yang ini, yang ngebahas perubahan apa saja yang saya alami selama menjadi penghuni ibukota? Masih inget kalau ternyata tak hanya berat badan yang membengkak, jatah pulsa sayapun membengkak dua kali lipat. Terus hasil curhat-curhat dengan teman-teman sesama calon pegawai, saya kaget waktu mengetahui teman saya yang punya dua nomor telepon hanya menghabiskan Rp 25.000 untuk satu nomor setiap bulannya.  Dua puluh lima ribu rupiah saja sodara-sodara! Bahkan sebelum LDR-an dengan dua lelaki kiyut itu saja saya sudah menghabiskan lebih dari Rp 25.000 setiap bulan dan nomor yang saya pakai cuma satu loh.. yah secara hapenya juga cuma satu.

Usut punya usut teman saya itu pakai Indosat dong dan ternyata Indosat punya program hemat berjudul Paket Hebat Keluarga yang memungkinkan dia menelpon empat nomor Indosat (dan juga mentari) sepuasnya dari pukul 00.00 hingga pukul 17.00 hanya dengan Rp 500. Denggg.. sepuasnya ke empat nomor cuma lima ratus rupiah? Pantesan aja hemat.

Dipikir-pikir program ini cocok banget buat saya, Si bapak sumami dan #jendKancil kan ga suka ditelpon lama-lama tu kan. Mau siang mau malam mereka sih ga doyan ngobrol lama di telepon. Sedangkan paket hemat dari operator saya saat ini hanya cocok untuk pasangan yang doyan ngobrol berjam-jam. Padahal saya harus sering menelpon sumami untuk membangunkannya di pagi hari, mengingatkannya menjemput #jendKancil (iya... bapak programmer satu ini sibuk banget.. kadang-kadang karena keasyikan kerja lupa kalau anaknya lagi di sekolah), atau sekedar telpon-telpon centil bilang kangen  #aisss. Makanya saya tidak bermasalah dengan masa berlaku program yang hanya di jam kerja itu.

Trus dengan program ini saya bisa menelpon #jendKancil sebentar-sebentar (tapi sering) tanpa khawatir pulsa habis. Bisa tetap ngobrol pas dia pulang sekolah, bisa ngecek dia makan apa, sudah belajar belum, di tempat les gimana, dan banyak lagi meski kami terpisahkan tol Cipularang. Sepertinya sih program Paket Hebat ini memang diciptakan untuk mamih-mamih deh, secara kita bisa menelpon suami dan anak-anak pada jam kerja, bisa mengobrol dengan anggota keluarga meski lagi sibuk, dan heitssssnya nih bisa mencari tau lokasi anggota keluarga kita. Hahahhaha *ketawa senang... copot GPS dari sepatu sumami dan #jendKancil* Terus semua itu bisa diperoleh hanya dengan Rp 500/ hari. *diulang lagi soalnya shock dengan harganya yang murah*

Masalahnya adalah keluarga besar saya bukan pemakai Indosat, berhubung dulu di Sumatera cuma ada satu operator yang available. Tapi hari gini cuma punya satu nomor? Please ah.. *ditampol* Orang tua saya sih memang punya beberapa nomor lain agar bisa menelpon murah ke adik-adik. Tapi saya dan kakak dari dulu cuma punya satu nomor. Kebayang deh gimana ramainya kami ngobrol kalau semua punya nomor Indosat sebagai nomor lain *berbinar-binar* Apalagi sekarang sudah bulan puasa dan saya cuma sahur sendirian. Pasti senang rasanya sahur sambil nelpon Papa, Mama, Kakak,  adek-adek, sumami, serta #jendKancil. Nanya “Sudah bangun? Sahur pakai apa?”  Buat nomor #jendKancil sih bisa dengan gampang diganti ya... nah buat saya yang nomor itu udah hits kemana-mana? Demih cinta keluarga, saya rela pakai dua nomor. *nadah IPhone ke bapak sumami*

Gimana caranya biar bisa ikutan prgram ini?
  1. harus punya kartu indosat atau mentari dulu dong ya..
  2. ketik LGN kirim ke 888 untuk perpanjangan otomatis atau ketik HEBAT kirim ke 888 untuk pembelian satu hari saja.
  3. Selanjutnya kita bisa mendaftarkan empat nomor sekaligus dengan cara mengetik DAFTAR (spasi) No Indosat 1(spasi)No Indosat 2(spasi)No Indosat 3(spasi)No Indosat 4 lalu kirim ke 888
  4. untuk mengetahui lokasi keluarga *ketawa puas* ketik LACAK (spasi) 62 (No.Indosat) kirim ke 9111
  5. info lebih lengkap ples tarif-tarifnya bisa klik disini ya

BTW nomor yang kita daftarkan akan mendapat notifikasi, jadi harus ngobrol dulu sama yang didaftarkan biar tidak direject.  Terus empat nomor yang sudah kita daftarkan juga bisa diubah-ubah, jadi ga selamanya harus nomor-nomor itu aja. Ya barangkali ganti nomor apa ganti pacar (buat yang belum nikah ya nonah-nonah) ya kan ya kan? 

Kata saya

Programnya cihui. Saat menelpon juga tidak pernah putus di tengah jalan atau tidak terhubung. Suara jelas. Cuma harus rajin ngutak-ngatik handphone biar tahu detail program ini, karena di web indosatnya juga ga ada info yang detail. Saya saja sampai lupa step-step mengubah nomor yang sudah didaftarkan karena sibuk ngutak-ngatik mau tau. Jadi harus sabar ngutak-ngatik. Harus sabar juga kalau ditengah-tengah proses 888 nya no connection. Repot di awal aja kog.

Trus kalau kita daftar program ini kita berhak mengikuti Kontes Ibu Hebat Srikandi Keluarga yang berhadiah Paket Liburan Keluarga 3 hari 2 malam ke Bali (untuk 4 orang anggota keluarga, termasuk tiket pesawat, akomodasi dan uang saku harian). Gratis! Uwauuu... *ngeces* 

Caranya cukup menulis pengalaman kita sebagai emak-emak dan mengumpulkan handai taulan untuk memberikan vote sebanyak-banyaknya. Tenang saja setiap tiga voter terbaik akan mendapatkan hadiah Rp 100.000 setiap minggunya. Tuu.. kita senang, pemilih juga senang kan. Untuk keterangan lebih lengkap bisa klik disini Cepatan ya, kontesnya ditutup tanggal 18 September ini. *buru-buru bikin karangan biar bisa dadah-dadah dari Bali* 

05 August 2011

Madre-nya Dee

05 August 2011 capcai bakar

Penulis: Dewi Lestari
Penerbit: Bentang Pustaka
Harga : Rp 39.950 di Rumah Buku. Dapat dibeli online dengan harga yang sama di Bentang Pustaka, BukaBuku, atau Kutukutubuku. Di Rumah Buku saya dapat edisi bertanda tangan dan gantungan kunci Madre.
_____________________________________________

Kepulangan saya ke Bandung selalu disertai persinggahan ke Toga Mas dan Rumah Buku. Saya butuh bacaan (dengan harga diskonan tentunya). Kenapa gak di Jakarta? Karena saya belum tau toko buku diskonan di Jakarta. Hahaha.. ayukk ada yang mau nyulik saya?

 Madre adalah salah satu buku yang sudah lama saya incar. Blame it to twitter! Saya mengadopsi Madre dari Rumah Buku, setelah sebelumnya pergi ke Toga Mas dan kehabisan. Padahal stok buku ini di Rumah Buku berjibun.

Dengan harga hampir 40ribu rupiah, saya membawa pulang Madre beserta sebuah gantungan kunci dan sampul gratis. Kalau di Toga Mas, buku dibawah Rp20.000 akan dikenakan biaya sampul sebesar Rp700. Padahal dulu gratis. Setelah saya ingat-ingat, kemarin saya membeli dua buah komik seharga Rp24.000/biji. Dengan asumsi diskon 15% (diskon umum di TogaMas) maka harga komik tersebut jadi Rp20.400 sebijinya kan. harusnya saya dapat sampul gratis kan? Tapi tetap dong ga disampul gratis. Ah.. saya juga ga teliti kemarin. Ga bawel. Hiks.



Trus pembayaran menggunakan debit selain BCA akan dikenakan charge 3% di TogaMas. Ini yang bikin malas banget. Diskonnya jadi cuma 12% aja dong. Disuruh bayar buat sampul sih masih oke ya. Diskon berkurang itu yang bikin saya mangkel-semangkelnya.

Maksud hati memakmurkan perusahaan kecil tapi dibikin sebel. Sayapun pindah ke Rumah buku saja. Walau harus nunggu lama banget buat disampulin. Walau kabarnya ini merupakan perpanjangan tangan Gramedia. Emangnya kenapa kalau Rumah Buku perpanjangan Gramedia? Logikanya sih dengan harga yang sama persis dan juga lokasi yang dekat abis, Rumah Buku bersaing langsung dengan Toga Mas.

Seandainya TogaMas tidak mampu memenangkan persaingan maka Gramedia akan mendominasi pasar lagi kan? Terus kalau dia sudah mendominasi pasar, ga ada jaminan harga-harganya masih akan didiskon minimal 15%, kan? Terus nanti saya beli kemana? 

Ada kemungkinan besar Rumah Buku bisa mengungguli TogaMas. Soalnya selain sampul gratis untuk buku seharga berapapun dan tidak ada charge kalau mau debit seperti yang saya sebut di atas, penataan buku-buku di Rumah Buku (yang persis Gramedia) membuat kita lebih enak mencari buku. Ga sekedar dideretin di rak seperti di TogaMas. Kan pegel liat-liat judul sambil miring-miringin kepala. Penataan buku yang dideretkan juga menutup kemungkinan calon pembeli tertarik membeli karena cover buku yang memikat. Jadi kalau ke TogaMas biasanya kita sudah tau mau beli buku apa. Bukan nyari-nyari lagi. Karena penataannya ga bikin kita doyan ngulik-ngulik.

Jadi Jeng Capcai.. postingan ini ngebahas Madre apa TogaMas versus Rumah Buku?

Hehehe. Itu mukadimahnya.. Latar belakang cerita.

Soal Madrenya, saya hanya suka dua buah cerita. Jatuh cinta dengan Madre dan menyukai Menunggu Layang-Layang. Iya, Madre ini kumpulan 13 cerita pendek dan puisi. Sisanya saya ga begitu suka. Ga ngerti. Apalagi puisi-puisinya. Saya ga doyan baca puisi.  Kalau dua cerita tadi lain cerita. Mereka benar-benar bagus. Saya sampai patah hati begitu mengetahui bagian Madre telah berakhir. Saya mau lagi. 

Kata Saya

Beli saja. Ga rugi kog. Cerita soal Madrenya benar-benar bagus. Yang lainnya diskip saja. Langsung ke bagian Menunggu Layang-Layang pasti dijamin puas. Hihi. Dan mohon maaf review bukunya jauh lebih pendek daripada bahasan TM versus Rbnya. *melipiiiiirrr jauuuuhhhh*

03 August 2011

Yang Terakhir dan Yang pertama

03 August 2011 capcai bakar

Weekend kemarin akhirnya saya pulang ke Bandung. Memang sudah jatah pulangnya sih.. sekalian mau kencan nonton Hary Potter terakhir. Yay!!! Iya, nonton Harry Potter terakhir!! *diulang biar efek dramatisnya keluar* Sebenarnya ga semua film Harpot saya tonton di bioskop. Harry Potter and  The  Sorcerer's Stone pastinya. Itu tahun 2001. Terkagum-kagum melihat permainan Quiditch diwujudkan di film. Jauh..jauh lebih keren daripada hayalan saya. Film-film selanjutnya saya lupa.. beberapa nonton di bioskop, beberapa nonton di tv. Iya sih, saya ga gitu maniak sama filmnya. Beda cerita dengan novel-novelnya. Harus punya dan pre order kalau perlu. 

Balik ke soal nonton harpot yang terakhir. Awalnya bapak sumami sudah memesan tiket untuk hari Sabtu jam 3 siang di Blitz. Iya kita doyannya nonton di Blitz. Nonton di XXI hanya dan hanya jika dapat tiket Premiere (Iyaaaa udah pernah nonton di premiere dong. Sekali. Hahaha Sayangnya ga sempat foto-foto jadi ga bisa diceritain disini. Hiks.) Melihat permintaan saya tentu saja bapak sumami lebih memilih Blitz. Its cheaper than Premiere.

Namun, manusia cuma bisa berencana. Akhirnya Tuhan juga yang memutuskan. Jumat pagi kita mendapat kabar kalau Ibu ga bisa ngejaga #jendKancil di hari Sabtu. Ada urusan keluarga. Dheng! Batal deh kencannya. Dengan hati hancur, sayapun terpaksa menjualdua helai  tiket Harpot itu.

Loh kenapa ga tetap nonton sembari ngajak #jendKancil? 

Pertama, film ini bakal banyak adegan perang yang bisa bikin seram anak kecil. Waktu nonton Harry Potter and The Goblets of Fire di tivi aja #jendKancil pakai acara kabur-kabur takut. Di bioskop kan rugi kalau kabur-kabur gitu. Bisa heboh teriak minta dimatiin layarnya.
Kedua, karakter-karakternya sudah berpacaran jadi pasti ada adegan cium-cium yang belum mau saya liatin ke #jendKancil. Dulu pas ngelihat adegan Harry dan Cho Chang yang saling lihat-lihatan terus tersenyum malu-malu aja #jendKancil ikutan tersipu-sipu. Waktu saya tanya kenapa dia jawab "Ada love kan?" Gubrak ah.. cepat banget gedenya! Ga rela emak.
Ketiga orang dewasa yang ga baca bukunya aja suka bingung sama film ini *melirik bapak sumami* apalagi anak kecil yang belum pernah dibacain satu buku sampai habis.

Maka bergerilyalah saya di twitter dan facebook. Pasang status jualan dan dalam sekejab dibeli jeng Astri. Teman satu kamar selama diklat yang ternyata adik sahabatnya bapak sumami. Siiip ga rugi uang.

Setelah kedua tiket terjual, tiba-tiba bapak sumami mengabarkan kalau anaknya ibu bisa ngejaga #jendKancil. Yah.. yah.. gimana ceritanya ini.. memang sih tiketnya belum dibayar tapi saya kan sudah janji. Masa' dibatalin. Ngedengar suara saya yang ngambek bapak sumamipun memutuskan mengantri tiket lagi, dapat yang 3D di hari Sabtu jam 11 pagi. Yay!! Makasih banyak ya... udah repot-repot ngantri dua kali sambil gendong #jendKancil yang beratnya udah lebih dari satu tabung gas gede. Makasih akhirnya jadi nonton 3D yang lebih mahal. Laki saya hebat ya.. bisa dapat tiket melulu.


Maka pergilah saya menonton dengan hati riang di hari Sabtu pagi. Harus buru-buru karena telat bangun. Jadi ngerti kenapa masih banyak seat yang available di jam segitu. Pergi pagi-pagi ke mall itu ternyata bikin malas ya. Jam makan siang juga. Pasti laper di dalamnya. Tapi demi Akang Potter mari kita terabas. Berkat keahlian bapak sumami menyetir kami bisa tiba dengan selamat dan tepat waktu. Masih bisa lihat cuplikan Transformer juga. Pemegang SIM jalur jujur itu memang beda keahliannya. Hahaha.

Filmnya gimana? Bagus. Adegan perangnya banyak, jadi ga bikin bapak sumami bosen dan bolak-balik nanya itu kenapa, ini kenapa. Tapi konsekuensinya, banyak adegan drama yang dipercepat, bahkan tuan sumami pun menyadari keabsenannya. 3Dnya juga lumayan keluar walau ga seheboh Avatar. Sepanjang film saya terus-terusan terharu, walau adegannya ga sedih-sedih betul, gara-gara mikirin ini film terakhir. Habis ini udah deh.. ga ada lagi penantian film Harry Potter. Tamat. 

Di film ini saya jatuh cinta banget sama aktingnya Alan Rickman sebagai Snape. Boo.. berasa banget gimana hancur hatinya saat tau Lily Potter akan dibunuh Voldemort. Hiks.. ngena banget deh. Trus Neville  Longbottom jadi keren gitu ya.



Lihat deh.. diantara pemeran lainnya dia paling cakep kan? Suka!



Kelar nonton kita baru sadar kalau ternyata dari tadi kita satu studio dengan teman-teman kantor lama bapak sumami. Jadi deh nerusin kencannya dengan jalan-jalan dan makan-makan sembari ngobrolin bisnis. Ada Keblug juga sebagai ibu dharma wanitanya. Makannya ke Richeese Factory, tempat makan baru di PVJ. Sejenis junkfood gitu. Ini pertama kalinya saya makan di Richeese Factory.

Tempat makannya enak, warnanya ceria, banyak colokan, udara dan pemandangannya oke. Ada tempat mainan anak juga. Kalau makanannya biasa aja sih ya. Tapi lebih murah daripada junkfood junkfood sejenis dengan menu yang lebih beragam. Ada tropical Wrap (sejenis kebab), ball cheese, stick cheese, calmary, nachos, dan banyak lagi. Menunya variatif, rasa dan tampilannya aja yang ga menggugah selera saya. Walau celupan keju sebagai pendamping makanan lain dari yang lain.

Kanan: chicken noodle. Saya kira sejenis mie ayam. Taunya spaghetti. Harusnya diberi judul Chicken Pasta. (-__-") 


Menu andalan mereka adalah Fire Wing, sayap ayam dicrispy terus dicelup ke saus cabe. Ada enam level kepedasan. Mulai dari level 0 sampai 5. Sekarang memang jamannya level-levelann ya. Kamipun mencoba dua level. Keblug level 1 dan bapak sumami yang doyan pedas mencoba level 5.

Level 1 nya Keblug. Celupan kejunya menggoda banget ya.


Pedesnya? Jangan ditanya. Buat saya yuang ga suka pedes, level 1 masih bisa kemakan. Tapi ga bisa banyak-banyak. Pedas betul. Level 5 nya? Baru satu potong bapak sumami si pemakan cabe menyerah. Katanya sih pedasnya ga enak. Pait. Saya sempat nanya sama anak ABG yang bercucuran keringat sangking kepedesannya.

Fire Wing yang bikin heboh


 "Pedesan mana Fire Wing level 5 sama Mak icih level 10?"

"Pedesan ini kak! Semoga berhasil ngabisinnya ya Kak!"

Bwahahaha.... gila pedesnya. Akhirnya fire wingsnya saya bawa pulang dan dimasak dengan indomie. Walau sudah dicemplung ke lautan kuah, pedasnya masih nampol dong buat saya. Buat tuan sumami sih lebih eatable. Buat saya? Yuk dadah babay.

Selain Fire Wing yang heboh tadi saya juga doyan minuman tehnya. Ada tiga rasa teh, strawberry, manggo, dan peach. Enak banget. Segar. Saya sukanya yang peach.

Kata Saya
Film Harry Potter and The Deathly Hallows (2) ditonton aja kalau memang ngefans.  Kalau nunggu disiarin di tivi juga ga rugi-rugi banget sepertinyaJangan lupa bawa tisu segambreng dan pakai maskara yang waterproof ya.
Richeese Factory nya silahkan dicoba.. Sepertinya lagi happening. Pesan fire wing level 1 aja dengan minuman peach sambil ngemil nachos. Udah sah jadi anak gaul bandung. Hihi. Harganya juga murah-murah.

Dan saya sudah kangen saja sama dua laki-laki sombong ini.

ngeliatin minuman.