SLIDE1

Like capcai in here all things can be mix, put together, and absolutely delicious. Cause this is not common capcai. This capcai is burned out.

19 November 2013

Photo Studio Pertama Captain Kid

19 November 2013 capcai bakar

Dulu waktu baru ada Jendral Kancil saya punya obsesi akan ada foto studio, tiap bulan, sampai anaknya setahun. Terus setelah itu akan ada foto keluarga tiap tahun. Nyatanya? Cuma ada foto Jendral Kancil waktu berumur satu bulan dan satu tahun. Foto keluarga? Cuma ada waktu saya wisuda, Om-nya wisuda, dan foto hamil kemarin. Eaaaa... rencana ya.. secara biaya imunisasi lebih prioritas ya Mak...

Kog ga pakai kamera saku aja? Errr.. dulu belum punya kamera saku. Begitu punya kamera.. kog fotonya belum seciamik foto studio ya? *ditoyor mas-mas fotographer studio terus disodori flayer kursus singkat Mahir fotografi*

Kembali ke foto studio pertamanya Captain Kid, demi menjunjung asas keadilan,  kemarin saya bawalah anak bayi ini foto studio. Kalau dulu kakaknya umur sebulan atau dua bulan sudah diajak foto studio..adiknya ada peningkatan dikit lah... umur tiga bulan baru diajak foto. Hahaha. 

Captain Kid.. Rambutnya belum merata ituuu
Jendral Kancil. Mukanya beda ya...


Berduaaa... "Sini dek.. ngadap sini.."

Kostumnya juga sama. Baju merah-merah yang dipakai ini adalah baju yang 8 tahun lalu dipakai kakaknya. Hihi.. udah dikasih kemana-mana taunya balik lagi. Yo wes.. nanti dipigurain itu baju. *rencananya*
 
Terus personelnya.. kalau dulu Jendral Kancil cuma foto sendirian karena Bapaknya ogah difoto terus emaknya ngambek karena bapaknya ga mau difoto, sekarang Captain Kid foto sama semua-mua. Malah Bapaknya paling gaya.

 
Hasilnya gimana? Capek ya harus tetap pose sambil nunggu anak bayinya ketawa. Pegal dan keringatan. *puk-puk Jendral Kancil yang udah sabar banget walau capek*

Jadi... tahun depan foto lagi? Insyaallah.. *kirim proposal ke suami*

25 October 2013

Dinas ke Palembang

25 October 2013 capcai bakar

Saya baru pulang dari Palembang lohhhh. 

Terus kenapa? Bukannya tiap lebaran ke Palembang ya? *dialog imajiner bersama pembaca*

Iya sih.. tiap lebaran saya ke Palembang. Tapi yang sekarang beda.. ini perjalanan dinas pertama saya yang tujuannya Palembang. Huwooo... yang serba pertama-pertama kan harus cerita gitu. Ya kan? Kan. Jadi saya mau cerita bedanya ke Palembang saat bulan puasa dengan saat hari biasa. Kalau pas puasa dan lebaran kan banyak tempat makanan yang tutup. Nah,di hari biasa enggak. Pada buka semua. Jadi saya bisa menjajal banyak makanan palembang. Iye..wisata dinas kuliner.

Saya berangkat dari Jakarta pukul 7 malam lewat banyak. Lalu mendarat dengan selamat di bandara Sultan Mahmud Baharuddin II setelah sejam-an nonton Monte Carlo. Iya.. ada tivinya dong.. tumben kan penerbangan singkat pakai tivi-tivian segala. Jadi bilang apa pembacaaaa? Alham-du-lillah.

Terus, begitu sampai di bandara, saya agak bengong-bengong. Ini bandaranya kog lebih bagus ya? Kog cakepan sih? Pakai krim apa? *dikira iklan tje fuk* Rupanya cuma pakai shampo sedang ada perluasan bandara, jadi bangunannya baru-baru dan kinyis-kinyis gitu. Di luar bandara malahan ada replika jembatan ampera. Ini saya yang ga ngeh apa emang baru dibangun sih?

sumber gambar: noppy blog

Setelah agak bengong-bengong lihat kekinclongan bandaranya, saya juga bingung gimana pergi ke hotelnya. Setiap ke Palembang (yang tentunya bersama suami), kita selalu nunggu dijemput atau naik taksi tembak. Jadi persepsi saya di Bandara Palembang itu ga ada taksi argo. Bingung karena saya ga tau lokasi hotelnya dan ga tau rentang ongkos taksinya. Gimana bisa menang pas tawar-menawar? Untunglah ternyata di Palembang ada taksi berargo. ADA TAKSI ARGO SODARA-SODARA! HUWOOOO! *dikeplak wong palembang pakai kapal selam*

Jadi dekat pintu keluar, kita akan melihat booth taksi bandara. Tinggal daftar deh.. terus nanti digiring bapak supir ke taksinya. Ya ke taksinya dong ya, masa ke rumahnya. Biayanya daftarnya cuma Rp6.000. Terus kemarin dari bandara  ke hotel cuma habis Rp65.000,00.


Gambar diambil dari webnya
Selama di Palembang saya menginap di Swissbelinn hotel. Dekat kantor dan masuk budget. Dilihat dari webnya sih bagus ya.. tapi... itu karena dia fotogenic. Cih. Fasilitasnya sih persis seperti gambar (minus pemanas air dan teh-teh), tapi kualitasnya enggak. Bangunannya tua. Dindingnya banyak yang terkelupas. Lantainya juga. They really need a renovation. Kalau kualitas handuk, sprei, bantal, air, dll sih ga masalah.

Terus.. karena hotelnya terletak di pinggir jalan, suara kendaraan terdengar jelas ke dalam kamar. Beruntung buat saya yang hanya terbangun kalau dengar suara anak nangis, suara lalu lintas ini ga begitu ganggu. Malah nemenin. Iya.. sini penakut kalau harus tidur-tidur sendiri. Apalagi kalau dapat kamar nyempil di ujung lorong. Terus malam-malam ada yang gedor-gedor  kamar sebelah dengan gedoran debt collector. Yuk... 

Ketidakpuasan terhadap pilihan hotel ini secara tersirat terlontar juga dari Bapak Bos. Beliau bolak-balik nanya rate hotel-hotel lain. Maaf ya Pak.. ga maksud. Cuma rate kita ga nyampe pak kalau ke Novotel atau Aryaduta. Maap pak..

Keuntungan milih hotel di pinggir jalan itu adalah banyak tempat makan di sekeliling hotel dan ada Alfamartnya juga.... Penting loh buat emak-emak irit ples menyusui yang selalu kehausan tapi ogah beli air mineral mahalnya hotel. Ngomong-ngomong soal menyusui dan asi perah, minibar di hotel ini ga dingin mamak... ice pack eike ga ada yang beku. Kamar sama kulkas, lebih dingin kamar dong. Saya udah minta tolong room service agar diijinkan menggunakan freezer dapur mereka. Tapi ga ada tanggapan. Aku.. pasrah aja. 

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------

sumber dari yukmakan.com
Besoknya sebelum ke kantor, kita wisata kuliner makan siang dulu. Makanan "berat" khas Palembang adalah pindang patin. Pindang patin ini semacam sup ikan yang dibumbui pedas. Mirip-mirip asam padeh padang.

Di Palembang ada dua tempat makan pindang patin yang  terkenal. Pertama restoran Musi Rawas, ini sangking larisnya mau makan saja kita harus ngantri satu jam. Masyaallah.. makannya aja cuma lima belas menit. Terus tempatnya biasa aja. Jadi ga terlalu enak buat duduk-duduk lahap apalagi buat menjamu bapak bos.

Beda dengan restoran Sri Melayu ini. Tempat makannya nyaman banget. Besar, jadi daya tampungnya banyak. Rindang juga karena dikelilingin pohon. Parkirannya juga luas. Terus kalau mau suasana lain kita bisa milih makan di pendopo-pendopo. Pendopo-pendopo ini dibangun di atas kolam ikan. Hoho... siap-siap deh terkaget-kaget saat ada ikan yang meloncat. Kalau bawa Jendral Kancil sepertinya bakal senang deh ngeliatin ikan-ikannya.

Disini saya memesan pindang tulang (iga sapi), bukannya pindang patin. Soalnya saya ga begitu suka ikan air tawar. Doyannya ikan laut yang dagingnya kenyal-kenyal karena melawan arus samudera. Untuk minumnya saya memesan es kelapa utuh/ es dogan. Sambil menunggu pesanan datang, pelayannya akan membawakan berbagai macam lauk dan lalapan pelengkap. Lalapan disini bukan sayuran mentah tapi potongan sayur macam pare, terong, labu yang sudah direbus. Lauk-lauk penggembiranya ada ikan seluang goreng. Ikan seluang ini mirip teri medan yang besar-besar itu. Tapi ga kering dan ga asin. Terus ada bedug, yang bentuknya mirip sate lilit bali. Bedug ini olahan dari ikan gabus dan pepaya muda. Terus ada tempoyak juga, duren yang difermentasikan. Terus, apalah artinya makan di sumatera tanpa beraneka macam sambal. Ada sambal mangga yang pedas dan sambal minyak yang asin-asin segar. Aku suka.

Selain Pindang tulang dan patin, RM Sri Melayu ini juga menyediakan pindang salai (ikan asap, rasanya alot-alot gimana gitu dengan aroma yang khas) dan pindang udang. Kalau bawa Jendral Kancil sepertinya bisa dicoba pindang udang ini. Iya ya.. namanya emak-emak, lihat tempoyak ingat suami. Makan es kelapa yang enak itu langsung ingat Jendral Kancil. Kayaknya kalau diajak minum es kelapa ini bakalan doyan deh. Karena meski dihidangakan bersama tempurung dan sabutnya, air kelapa ini sudah ditambahi gula. Manis. Jendral Kancil pasti doyan. Terus es kelapanya juga dicemplungi potongan daging kelapa yang tebal-tebal. Aku suka... Ayuk suamiii!

Ternyata setelah ngobrol sama suamii, katanya rumah makan Sri Melayu ini restoran mahal buat dia. Jadi Suami juga belum pernah makan di situ. Hihi.. Itu kan dulu, waktu masih jadi remaja kinyis-kinyis tapi kere.. sekarang kan sudah bapak-bapak, sudah terjadi penebalan dompet dan tubuh.

Setelah makan, saya langsung melipir ke kantor. Literally, saya benaran melipir, soalnya kantor dan Sri Melayu ini sebelah-sebelahan. Ramah-tamah dulu sebelum FGD Trainning Need Analysis (TNA) 2014. Senang deh kalau FGD gini. Banyak ketemu orang pintar dengan pemikiran hebat. Selama FGD itu kita ngebahas banyak masukan untuk diklat-diklat, mata pelajaran, instruktur, sampai ide membangun balai diklat baru. Seru. Ga ngantuk sama sekali padahal FGDnya di siang bolong.

Selesai FGD, kita kembali ke hotel. Awalnya kita berencana jalan-jalan keliling kota ya.. tapi apa daya ada laporan yang harus diselesaikan. Namanya juga perjalanan dinas, tugasnya dulu dong Mak yang diutamakan. Baiklah... mari kita begadang bikin laporan. Sebelumnya.. makan Martabak Har dekat hotel boleh ya Pak Bos?

 sumber: budaya-indonesia.org
Martabak Har (Haji Abdul Rozak) ini menurut saya sama seperti martabak telur, minus daging. Isinya ya cuma telur saja. Dihidangkan bersama kuah gulai dengan rebusan kentang dan sambal kecap. Cara makannya seperti gambar disamping ya.. Bukan dijadiin lauk.. *lirik teman dinas bareng ini.. :p* Rasanya gimana? 

Saya kan fansnya martabak telur mesir yang berlimpah daging itu ya.. jadi pas ketemu marttabak ini ya biasa aja. Bikin kangen iya. Bikin gila menahan rindu, enggak.

Waktu makan di Martabak Har, kita juga mesan nasi minyak berserta lauk pauk. Lauk-pauknya dihidangkan ala restoran padang gitu, digebrokin ramai-ramai di meja biar pembeli ngiler terus ngambil lebih dari satu lauk. Untungnya saya kuat iman.. walau sangat tergoda buat nambah lauk lain. Saya cuma makan kari kambing sedangkan teman saya makan ayam. Pilihan menahan diri dengan satu lauk ini ternya tepat sekali. Karena.... harga lauk-pauknya ditembak banget deh. *Lirik gemas kasir martabak Har.*

Bayangin ya.. makanan khasnya aka martabak Har itu cuma Rp15.000 rupiah. Tapi ayamnya Rp22ribu, Kari kambing Rp40ribu, sayur kacang doang Rp15ribu, dan teh susu Rp10ribu. Gilak. Kari kambing sepotong 40ribu aja.. pengen dikremes deh. Terus sayur gulai kacang sepiring kecil harganya sama dengan martabak. Hih! Aku blog-in nih.. blog-in. Biar semua orang tau.

Kecewa ditembak sama Martabak Har, kita memutuskan jalan-jalan dulu. Biar fresh ngerjain laporan. Alasan... padahal mah emang pengen jalan-jalan dulu. Lagian Bapak Bos pergi jalan-jalan ini. Kita diam-diam ikut jalan-jalan juga dong. Jangan bilang-bilang yes?

Tujuan pertama, kemana lagi kalau bukan ngeliat Jembatan Ampera. Ikonnya Kota Palembang. Ngeliatnya dari Benteng Kuto Besak aja. Biar ringkes. Sayangnya hari itu lampunya mati. Jadi ga gonta-ganti warna kayak biasanya. Yah....



Ternyata kalau di hari biasa  Benteng Kuto Besak ramai banget. Banyak pedagang kerak telor. Saya sempat bingung... ini di Palembang apa PRJ? Terus ramainya sama anak kecil yang main-main. Dek ga sekolah apa? Ini malam sekolah loh..

Tempat makannya di dingklik gitu. Kelar makan sekalian nyuci piring mungkin.

Selain anak kecil ada juga muda-mudi yang pacaran. Makan di restoran terapung. Kalau buat pasangan emak-bapak yang berduit makan di River Side Restoran bisa jadi pilihan. Buat muda-mudi yang masih minta duit jajan? Cukup restoran ini aja. Sama-sama terapung kan? Hihi.
 
Resteron terapung ekonomis dengan latar River Side Restoran.
Berhubung kita baru makan di  Martabak Har, acara makan-makan di sini terpaksa dilewatkan. Walau sempat masuk dan belagak mau makan di River Side padahal cuma numpang-numpang lihat aja. Mari main foto-fotoan saja di Benteng Kuto Besak. Meng-abuse kamera pocket.

Benteng Kuto Besak dari kejauhan

Sok-sok artistik padahal kameranya ga bisa nangkap.

Bangkitnya Ayuk Sungai Musi. Film horor garapan Capcai

Udah keliling-keliling benteng. . Tapi malam masih panjang... harus ngapain lagi iniii? Kalau datangnya siang-siang, naik perahu dan berlayar di suangai musi bisa jadi pilihan. Kalau malam, ga ada perahu yang berangkat. Gelap banget.. ga keliatan apa-apa di sungainya. Setelah bingung-bingung.. kita akhirnya melipir ke Mesjid Agung. Mau lihat air mancur yang warna-warni. Sayangnya... air mancurnya lagi direnovasi. Eaaaaa... yo wes lah.. foto-foto saja di depan mesjidnya. 


Model buat kalender tahun depan.

Lalu its a wrap! Mari balik ke hotel dan ngerjain laporan.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Besoknya setelah menyerahkan laporan ke kantor kita makan pempek di Vico. Ini pengalaman pertama saya makan pempek disini. Biasanya kan di Candy. Foto-fotonya nyulik dari banyumurti.net. Sila di-klik ya.. buat ulasan pempek vico yang lebih lengkap.

banyumurti.net
Di setiap tempat makan pempek, kita akan disuguhi sepiring pempek beraneka ragam. Jadi bisa puas nyicipin aneka model pempek. Mulai pempek telor kecil, adaan, kulit, tahu, pastel, keriting, dan lenjer.  Kalau kurang tinggal nambah aja. Terus harganya ga dihitung per piring kog. Yang dihitung berapa buah yang dimakan. Jadi bisa ga diabisin.

Katanya andalan di sini adalah pempek kulit dan cukanya. Buat saya, pempek kulitnya terlalu tebal. Jadi kurang crispy. Saya malah lebih suka pempek pastelnya (pempek yang diisi cacahan pepaya muda). Kalau pempek tahu masih enakan Candy. Cukanya memang lebih enak dan lebih pedas daripada Candy.

Buat variasi pempek? Sepertinya lebih lengkapan makan di Cek Bakar. Disini ga ada lenggang atau pempek bakar.

banyumurti.net

Kalau makan pempek kurang nendang, silahkan dicoba makan tekwan atau model. Mirip sup-sup gitu. Bedanya tekwan sama model apa sih?? Kalau tekwan itu bola-bola kecil, sedangkan model itu potongan pempek telur besar.


banyumurti.net

Minuman khas palembang itu es kacang merah. Kayak es campur yang diisi kacang merah. Saya kemarin malah mesan es tape. Hahaha. 






Kalau mau bawa pempek ini untuk oleh-oleh bisa loh.. dia menyediakan berbagai paket oleh-oleh mulai dari 100ribu sampai 250ribu. Kalau mau yang kecil-kecil aja bisa. Kalau mau dicampur dengan pempek kapal selam atau lenjer yang besar juga bisa. Nanti kotaknya sudah dipacking dan  diikat. Tinggal dibawa pergi. Kalau mau dikirim ke saudara juga sudah bisa. Tinggal sebutin alamatnya. 

Kata saya, kalau soal dibawa pulang pempek vico masih kalah dengan candy. Di candy pelayanannya lebih cepat dan ga pakai repot. Pilih-pilih, bayar, langsung dilumurin tepung. Di vico saya masih harus bolak-balik nanya udah selesai dipacking apa belum. Gitu mau nambah lagi juga harus nunggu sejam. Huh. Kemarin saya beli paket yang berisi 40 pempek kecil seharga 100ribu. Saya kira isinya ada pastel, keriting, tahu, etc. Ternyata cuma telur, lenjer, dan adaan. Huh lagi. Tapi... pempek manapun di Palembang jauh-jauh-jauh lebih enak dari pempek di Jawa. Jadi ya tetap hepi tumi. :D

Jadi.. kapan kita balik ke Palembang suami? Gak usah nunggu lebaran ya...

-----------------
Swissbelinn Hotel
Jl. Jend. Sudirman No. 1111A
Palembang 30128  
Tel    : 0711 371 000

Rumah Makan Sri Melayu
Jl. Demang Lebar Daun No.1 , Palembang - Sumatera Selatan. Punya cabang juga di Kebayoran Baru dan Bintaro


Rumah Makan Har
Jalan Jendral Sudirman No 1078
Simpang Sekip, Palembang

Pempek Vico
Jalan Letkol Iskandar no 541-542 (Seberang PIM)

18 October 2013

Setelah lama ga nonton film, tadi malam saya nonton film lagi. Seperti biasa.. laptopnya ditaruh di perut. Yang beda cuma.. kali ini ga ada anak bayi di perut. Ga ada yang nendang-nendang lagi. Dan saya sendirian di kostan. Lalu brebrs mili.

Film, Laptop, Lalu Kalian

18 October 2013 capcai bakar

Setelah lama ga nonton film, tadi malam saya nonton film lagi. Seperti biasa.. laptopnya ditaruh di perut. Yang beda cuma.. kali ini ga ada anak bayi di perut. Ga ada yang nendang-nendang lagi. Dan saya sendirian di kostan. Lalu brebrs mili.

24 September 2013

Waktu saya tes Toefl/EPT di LIA kemarin, saya memutuskan harus pijat. Mumpung lagi di luar tanpa anak bayi. Mumpung stok susu yang dikeluarkan sudah sampai malam. Mumpung pinggang saya sakit. Sakitnya sih biasa aja.. kalau dibandingkan sakit saat melairkan. Ya iyalah masa ya iya sih. *krik* Cuma kalau kelar mandiin anak bayi saya pasti bungkuk-bungkuk.. ga bisa langsung tegak. Pas ruku juga.. ga bisa rata. Sakit cuy.

Tadinya mau pijat di salon sekalian hair spa-meni-pedi, tapi pijatan salon kan begitu ya.. lembut-lembut cantik.. curiga ga nendang. Jadi saya memutuskan mencoba Bersih Sehat saja. Panti pijat keluarga yang famous di dunia maya ini.

Sampai di lokasi, saya lalu memilih pijat tanpa lulur selama satu jam. Itu yang paling murah sih....*goyang-goyang malu*. Soalnya lagi bokek dan belum mompa dari pagi, jadi mau yang cepat selesai aja. Begitu masuk saya langsung senang dengan interiornya. Bersih, sebersih namanya. *ditoyor pembaca yang merasa kalimatnya sungguh sangat novelis 70an*. Karena saya sendirian saya diantar ke ruangan yang khusus buat wanita. Kalau datang sama suami boleh milih seruangan. 

Saya diminta buka baju oleh terapisnya. Karena ga disediakan disposable undies, ya silahkan saja dipakai undiesnya. Ga bakal dimarahin terapisnya kog. Sebelum tengkurap terapisnya menawarkan untuk menggunakan aromatherapy (gratis) dan diinjak. Secara saya ga gitu doyan wangi aromatherapy, saya tolak dong. Lagian lagi pilek.. rasanya sih ga bakal kecium aroma apapun. 

Soal tawaran diinjak juga saya tolak karena ga yakin sanggup nahan sakitnya. Yo wes dipijat-pijat saja. Pijatannya enak tapi sakit. Ini antara tenaga pemijatnya kekerasan atau badan saya yang memang lagi rontok parah. Sepertinya sih yang kedua, soalnya ada lokasi-lokasi yang ga sakit saat dipijat. Terus Ibu pemijatnya ini semangat betul kalau saya kesakitan. Makin sakit makin fokus dese mijat disitu. Hiks.. mau teriak kog ya malu. 

Melihat gelagat si Ibu yang fokus di punggung dan pundak, saya memberanikan diri request dipijat di pinggang. Dari tadi cuma kesenggol dikit. Si ibu lalu dengan semangat bilang "Kalau gitu diinjak ya." Errr.. baiklah.. daripada sudah mahal-mahal tapi sakitnya ga mental. Yukk.. tarik napas. 

Dan.... sakitnya ampun daaaah. Pool. Ini mijaknya ga asal mijak sih..pas banget titik-titik yang ditekannya. bahkan saat punggung saya diinjak, bisaan dong tulangnya bunyi keretek-keretek.. Aku kagum. 

Hasilnya gimana? Sakitnya sih ilang tapi belum mental semua. Lumayan lah,.. kalau digerakin sudah  ga sakit tapi ya masih kerasa. Pundak saya yang menjadi sasaran pijat si Ibu malah kerasa aagak nyut-nyutan. Padahal tadinya biasa aja. Ya.. masih enakan dipijat paraji (dukun bayi) sih. Waktu dipijat paraji saya langsung berasa segar dan punya tenaga buat beres-beres rumah. Kalau ini ya biasa aja.

Sayangnya, ibu parajinya ga datang-datang lagi walau sudah dipanggil. Mungkin kemarin bayarnya kurang. Itu yang saya ga doyan dari "tarif seikhlasnya". Kalau kurang malah bikin ga enak. Padahal kalau punya tarif ya pasang aja.. biar sama-sama enak kan? Kan.

Akhir kata ijinkanlah saya bertanya kepada pembaca sekalian.. kalau pijat di salon atau panti pijat gini kan kita suka dapat shower puff/sisir yang masih diplastikin ya, masih baru. Itu boleh dibawa pulang apa ga sih? *Pembaca bubar*

*tutup tirai bilik pijat*


Bersih Sehat Bandung
Jl. Sultan Tirtayasa No 31. Bisa jalan kaki dari EF Banda/Total Buah Segar
022 4260765(84)
Tarif sejamnya 100ribu untuk pijat saja. Maksimal 2,5 jam seharga 250ribu. Bisa lulur juga, sejamnya 175ribu. Tarif lengkap silahkan klik ini.
Harga dan fasilitas beda-beda tergantung cabang. Ada yang gratis spa, sauna dan aromatherapy. Kalau yang di Bandung ini cuma ada aromatherapy (sepertinya).

Pijat di Bersih Sehat

24 September 2013 capcai bakar

Waktu saya tes Toefl/EPT di LIA kemarin, saya memutuskan harus pijat. Mumpung lagi di luar tanpa anak bayi. Mumpung stok susu yang dikeluarkan sudah sampai malam. Mumpung pinggang saya sakit. Sakitnya sih biasa aja.. kalau dibandingkan sakit saat melairkan. Ya iyalah masa ya iya sih. *krik* Cuma kalau kelar mandiin anak bayi saya pasti bungkuk-bungkuk.. ga bisa langsung tegak. Pas ruku juga.. ga bisa rata. Sakit cuy.

Tadinya mau pijat di salon sekalian hair spa-meni-pedi, tapi pijatan salon kan begitu ya.. lembut-lembut cantik.. curiga ga nendang. Jadi saya memutuskan mencoba Bersih Sehat saja. Panti pijat keluarga yang famous di dunia maya ini.

Sampai di lokasi, saya lalu memilih pijat tanpa lulur selama satu jam. Itu yang paling murah sih....*goyang-goyang malu*. Soalnya lagi bokek dan belum mompa dari pagi, jadi mau yang cepat selesai aja. Begitu masuk saya langsung senang dengan interiornya. Bersih, sebersih namanya. *ditoyor pembaca yang merasa kalimatnya sungguh sangat novelis 70an*. Karena saya sendirian saya diantar ke ruangan yang khusus buat wanita. Kalau datang sama suami boleh milih seruangan. 

Saya diminta buka baju oleh terapisnya. Karena ga disediakan disposable undies, ya silahkan saja dipakai undiesnya. Ga bakal dimarahin terapisnya kog. Sebelum tengkurap terapisnya menawarkan untuk menggunakan aromatherapy (gratis) dan diinjak. Secara saya ga gitu doyan wangi aromatherapy, saya tolak dong. Lagian lagi pilek.. rasanya sih ga bakal kecium aroma apapun. 

Soal tawaran diinjak juga saya tolak karena ga yakin sanggup nahan sakitnya. Yo wes dipijat-pijat saja. Pijatannya enak tapi sakit. Ini antara tenaga pemijatnya kekerasan atau badan saya yang memang lagi rontok parah. Sepertinya sih yang kedua, soalnya ada lokasi-lokasi yang ga sakit saat dipijat. Terus Ibu pemijatnya ini semangat betul kalau saya kesakitan. Makin sakit makin fokus dese mijat disitu. Hiks.. mau teriak kog ya malu. 

Melihat gelagat si Ibu yang fokus di punggung dan pundak, saya memberanikan diri request dipijat di pinggang. Dari tadi cuma kesenggol dikit. Si ibu lalu dengan semangat bilang "Kalau gitu diinjak ya." Errr.. baiklah.. daripada sudah mahal-mahal tapi sakitnya ga mental. Yukk.. tarik napas. 

Dan.... sakitnya ampun daaaah. Pool. Ini mijaknya ga asal mijak sih..pas banget titik-titik yang ditekannya. bahkan saat punggung saya diinjak, bisaan dong tulangnya bunyi keretek-keretek.. Aku kagum. 

Hasilnya gimana? Sakitnya sih ilang tapi belum mental semua. Lumayan lah,.. kalau digerakin sudah  ga sakit tapi ya masih kerasa. Pundak saya yang menjadi sasaran pijat si Ibu malah kerasa aagak nyut-nyutan. Padahal tadinya biasa aja. Ya.. masih enakan dipijat paraji (dukun bayi) sih. Waktu dipijat paraji saya langsung berasa segar dan punya tenaga buat beres-beres rumah. Kalau ini ya biasa aja.

Sayangnya, ibu parajinya ga datang-datang lagi walau sudah dipanggil. Mungkin kemarin bayarnya kurang. Itu yang saya ga doyan dari "tarif seikhlasnya". Kalau kurang malah bikin ga enak. Padahal kalau punya tarif ya pasang aja.. biar sama-sama enak kan? Kan.

Akhir kata ijinkanlah saya bertanya kepada pembaca sekalian.. kalau pijat di salon atau panti pijat gini kan kita suka dapat shower puff/sisir yang masih diplastikin ya, masih baru. Itu boleh dibawa pulang apa ga sih? *Pembaca bubar*

*tutup tirai bilik pijat*


Bersih Sehat Bandung
Jl. Sultan Tirtayasa No 31. Bisa jalan kaki dari EF Banda/Total Buah Segar
022 4260765(84)
Tarif sejamnya 100ribu untuk pijat saja. Maksimal 2,5 jam seharga 250ribu. Bisa lulur juga, sejamnya 175ribu. Tarif lengkap silahkan klik ini.
Harga dan fasilitas beda-beda tergantung cabang. Ada yang gratis spa, sauna dan aromatherapy. Kalau yang di Bandung ini cuma ada aromatherapy (sepertinya).

23 September 2013

Mmmm... kalau saya kabar-kabarin CPNS lagi bukaan dimana-mana telat ga? Telat dong ya.. secara udah ada yang ditutup. *nanya sendiri jawab sendiri* Jadi lagi musim penerimaan CPNS nih dan saya perhatikan sekarang perkiraan nilai toefl muncul sebagai salah satu dokumen yang disyaratkan. Sepertinya mau menghemat uang negara yang digunakan untuk menyelenggarakan tes bahasa inggris. Maka dengan cerdasnya pemerintah menyuruh orang-orang yang butuh kerjaan buat tes sendiri. Pakai duit sendiri tentunya.

Ini agak nusuk ya.. mau kerja buat cari uang harus keluar uang buat tes. Yang ga punya pemodal pasti agak berat keluar uang buat ikut tes-tes begini. Tes toefl itu ga murah loh.. 200ribuan minimal. 

Jadi karena kemarin suami yang melihat karier saya suram di tempat kerja sekarang memaksa saya buat ikutan tes-tes lagi. Sebenarnya saya agak malas.. ya masih sama-sama PNS gitu loh. Yang sekarang kan sudah salah dua PNS teroke di Indonesia. Jenjang karier saya aja yang ga oke. Jadi saya mensyaratkan mau ngelamar kalau penempatannya di Bandung. Kalau enggak.. gak usah. Nunggu OJK saja. Tambatan hati setelah belum berhasil masuk BI. Sayangnya di OJK kebentur umur. Saya kira masih bisa, makanya kaget pas tau tahap administrasi aja ga lolos. 

Saya yang "ipk nya 3,75-pengalaman oke-organisasi oke-sertifikasi oke" ga lolos administrasinya. Huh *ditoyor jamaah*. Setelah ditelaah sepertinya bermasalah di umur. Ya umur-umur segini memang sudah bukan kelas staf baru lagi.. Ketuaan. Encok, jadi ga bisa disuruh fotokopi dan antar surat, apalagi ganti galon ruangan. 

Kog maksa harus di Bandung? Soalnya meski saya ngomel-ngomel saya ngelihat dipaksa dan diomelin emaknya bikin banyak perubahan baik pada Jendral Kancil. Sama saya ga ada itu ceritanya nunda-nunda ganti baju gitu balik dari sekolah, nunda bikin PR, baju kotor ga di laundry bucket, handuk ga dijemur, ga latihan hapal surat pendek, ga nyapu lantai abis makan, dannn banyak lagi. *pukpuk Jendral Kancil* Jendral Kancil juga bilang kalau Bunda ngomel jauh lebih menyeramkan dari ayah, jadi dia kepaksa patuh. 

Apalagi hari ini tiba-tiba ada yang nanya "Bunda kapan ke Jakarta?" gitu dijawab minggu depan langsung keluar suara sedih. Beuhhhh... iris aja nak.. iris aja hati emak.. *sambil sodorin jeruk nipis buat tetesan* 

Ya.. saya lagi nyari-nyari kerjaan di Bandung. Nyari beasiswa juga biar bisa ngelamar BI lagi. Makanya kemarin juga ikutan tes toefl, buat ngelamar kerja juga buat ngelamar beasiswa. Ternyata sekarang tempat les-tempat les semacam TBI dan EF itu ga mengadakan prediction test lagi. Diganti dengan Toefl ITP. Kalau prediction test kan bisa dilakukan kapan aja, kita tinggal daftar terus tes, nah kalau ITP ini berjadwal dan cuma diadakan sebulan sekali. Untungnya sih.. jadwal tes ITP di berbagai tempat les itu beda-beda setiap bulannya. Jadi lebih longgar waktunya. Ga enaknya.. biaya untuk ITP lebih mahal daripada sekedar prediction test. 

Hasil survei kemarin TBI pasang harga paling murah, 215ribu rupiah. EF 225ribu rupiah, dan ITB 235rupiah. Ya sekitar-sekitar itu.. saya lupa. Ingatnya cuma TBI paling murah, ITB paling mahal. Terus Toefl ITP ini cuma bisa dipakai untuk beasiswa, kalau mau melamar kerja jadi CPNS kebanyakan mintanya hasil tes EPT LIA. Nah lo...

Di Bandung yang menyelenggarakan cuma LIA Martadinata. LIA-LIA lain tidak. Tesnya diselenggaran seminggu sekali, hari Selasa pagi. Buat yang buru-buru,tenang saja.. kalau lagi ramai permintaan (seperti bukaan CPNS) LIA juga mengadakan ujian tambahan di hari Jumat kalau jumlah pesertanya banyak. Kemarin saya cukup meninggalkan nomor telepon dengan pesan minta ditelpon kalau ada tes di hari Jumat. Bayarnya bisa di hari itu juga, asal datangnya sebelum jam 9 pagi. Biayanya 225ribu rupiah.

Nah.. saya nyesal deh ga ikut tes TPA dan Toefl gratis yang diadakan kantor. Lumayan yak biayanya. 

Bedanya ITP dengan EPT gimana? ITP bisa digunakan untuk melamar beasiswa, EPT sepertinya tidak. hasil ITP berlaku untuk dua tahun, sedangkan EPT hanya setahun. Hasil tes EPT lebih cepat keluar daripada ITP. ETP anatara 3 s.d 7 hari sedangan ITP dua mingguan. Trus... tes EPT di LIA ini lebih susah dari ITP. Believe me.. eike dua kali tes bahasa inggris di Kemenlu (yang providernya LIA) ga lulus-lulus. Padahal Toefl ITP saya lumayan gede.

Nah sekarang saya sedang menunggu hasil tes EPTnya. Penasaran skornya berapa kog ga lulus-lulus Kemenlu. BTW, yakin mau jadi PNS? Yakin? Ga nyesal? *ngikik*


LIA MARTADINATA BANDUNG
Jl. Riau no 20 A Bandung 40115
nomor telepon: 022 4221117

Tes Toefl ITP dan EPT

23 September 2013 capcai bakar

Mmmm... kalau saya kabar-kabarin CPNS lagi bukaan dimana-mana telat ga? Telat dong ya.. secara udah ada yang ditutup. *nanya sendiri jawab sendiri* Jadi lagi musim penerimaan CPNS nih dan saya perhatikan sekarang perkiraan nilai toefl muncul sebagai salah satu dokumen yang disyaratkan. Sepertinya mau menghemat uang negara yang digunakan untuk menyelenggarakan tes bahasa inggris. Maka dengan cerdasnya pemerintah menyuruh orang-orang yang butuh kerjaan buat tes sendiri. Pakai duit sendiri tentunya.

Ini agak nusuk ya.. mau kerja buat cari uang harus keluar uang buat tes. Yang ga punya pemodal pasti agak berat keluar uang buat ikut tes-tes begini. Tes toefl itu ga murah loh.. 200ribuan minimal. 

Jadi karena kemarin suami yang melihat karier saya suram di tempat kerja sekarang memaksa saya buat ikutan tes-tes lagi. Sebenarnya saya agak malas.. ya masih sama-sama PNS gitu loh. Yang sekarang kan sudah salah dua PNS teroke di Indonesia. Jenjang karier saya aja yang ga oke. Jadi saya mensyaratkan mau ngelamar kalau penempatannya di Bandung. Kalau enggak.. gak usah. Nunggu OJK saja. Tambatan hati setelah belum berhasil masuk BI. Sayangnya di OJK kebentur umur. Saya kira masih bisa, makanya kaget pas tau tahap administrasi aja ga lolos. 

Saya yang "ipk nya 3,75-pengalaman oke-organisasi oke-sertifikasi oke" ga lolos administrasinya. Huh *ditoyor jamaah*. Setelah ditelaah sepertinya bermasalah di umur. Ya umur-umur segini memang sudah bukan kelas staf baru lagi.. Ketuaan. Encok, jadi ga bisa disuruh fotokopi dan antar surat, apalagi ganti galon ruangan. 

Kog maksa harus di Bandung? Soalnya meski saya ngomel-ngomel saya ngelihat dipaksa dan diomelin emaknya bikin banyak perubahan baik pada Jendral Kancil. Sama saya ga ada itu ceritanya nunda-nunda ganti baju gitu balik dari sekolah, nunda bikin PR, baju kotor ga di laundry bucket, handuk ga dijemur, ga latihan hapal surat pendek, ga nyapu lantai abis makan, dannn banyak lagi. *pukpuk Jendral Kancil* Jendral Kancil juga bilang kalau Bunda ngomel jauh lebih menyeramkan dari ayah, jadi dia kepaksa patuh. 

Apalagi hari ini tiba-tiba ada yang nanya "Bunda kapan ke Jakarta?" gitu dijawab minggu depan langsung keluar suara sedih. Beuhhhh... iris aja nak.. iris aja hati emak.. *sambil sodorin jeruk nipis buat tetesan* 

Ya.. saya lagi nyari-nyari kerjaan di Bandung. Nyari beasiswa juga biar bisa ngelamar BI lagi. Makanya kemarin juga ikutan tes toefl, buat ngelamar kerja juga buat ngelamar beasiswa. Ternyata sekarang tempat les-tempat les semacam TBI dan EF itu ga mengadakan prediction test lagi. Diganti dengan Toefl ITP. Kalau prediction test kan bisa dilakukan kapan aja, kita tinggal daftar terus tes, nah kalau ITP ini berjadwal dan cuma diadakan sebulan sekali. Untungnya sih.. jadwal tes ITP di berbagai tempat les itu beda-beda setiap bulannya. Jadi lebih longgar waktunya. Ga enaknya.. biaya untuk ITP lebih mahal daripada sekedar prediction test. 

Hasil survei kemarin TBI pasang harga paling murah, 215ribu rupiah. EF 225ribu rupiah, dan ITB 235rupiah. Ya sekitar-sekitar itu.. saya lupa. Ingatnya cuma TBI paling murah, ITB paling mahal. Terus Toefl ITP ini cuma bisa dipakai untuk beasiswa, kalau mau melamar kerja jadi CPNS kebanyakan mintanya hasil tes EPT LIA. Nah lo...

Di Bandung yang menyelenggarakan cuma LIA Martadinata. LIA-LIA lain tidak. Tesnya diselenggaran seminggu sekali, hari Selasa pagi. Buat yang buru-buru,tenang saja.. kalau lagi ramai permintaan (seperti bukaan CPNS) LIA juga mengadakan ujian tambahan di hari Jumat kalau jumlah pesertanya banyak. Kemarin saya cukup meninggalkan nomor telepon dengan pesan minta ditelpon kalau ada tes di hari Jumat. Bayarnya bisa di hari itu juga, asal datangnya sebelum jam 9 pagi. Biayanya 225ribu rupiah.

Nah.. saya nyesal deh ga ikut tes TPA dan Toefl gratis yang diadakan kantor. Lumayan yak biayanya. 

Bedanya ITP dengan EPT gimana? ITP bisa digunakan untuk melamar beasiswa, EPT sepertinya tidak. hasil ITP berlaku untuk dua tahun, sedangkan EPT hanya setahun. Hasil tes EPT lebih cepat keluar daripada ITP. ETP anatara 3 s.d 7 hari sedangan ITP dua mingguan. Trus... tes EPT di LIA ini lebih susah dari ITP. Believe me.. eike dua kali tes bahasa inggris di Kemenlu (yang providernya LIA) ga lulus-lulus. Padahal Toefl ITP saya lumayan gede.

Nah sekarang saya sedang menunggu hasil tes EPTnya. Penasaran skornya berapa kog ga lulus-lulus Kemenlu. BTW, yakin mau jadi PNS? Yakin? Ga nyesal? *ngikik*


LIA MARTADINATA BANDUNG
Jl. Riau no 20 A Bandung 40115
nomor telepon: 022 4221117

18 September 2013

Meski sempat beberapa kali hujan-hujan lucu, musim panas sudah resmi mendatangi Bandung.

Musim hujan yang kelamaan bikin saya kaget-kaget cantik sama panasnya kemarau kali ini. Sangking panasnya saya merasa mandi sore itu wajib. Mandi malam jadi sunah muakad. Buat perempuan yang menjungjung tinggi penghematan air dengan mandi sekali sehari ini, gejala mewajibkan mandi sore itu bisa memberikan gambaran yang jelas kepada hadirin dan hadirat bagaimana gerahnya bandung akhir-akhir ini.

Nah kalau saya kepanasan, saya berasumsi Anak Bayi juga kepanasan. Maka setiap anak bayi rewel padahal sudah disusui-disendawa-ganti popok., saya menyalahkan udara panas ini. Cerdas ya? *ditoyor*

Bayi yang riwil, bikin emak yang sudah gerah tambah gerah. Udahlah ga bisa nongkrong depan kipas angin karena takut meresikokan anak bayi kembung, ditambah cemas-panik sedap lihat anak riwil. Merembes lah semua itu keringat. Gerah. Siramin aku.. Siramin aku agar sejuk Pak Ustad.

Jadilah selama beberapa malam saat anak bayi rewel, saya buka kaca jendela sedikit.. Masukin angin malam. Begitu anak bayi tidur lagi, kacanya ditutup. Biar ga masuk angin. Kalau masuk angin kan nanti rewel juga. Ga solutif.

Jendral kancil dan suami gimana? Tidur nyenyak depan kipas angin. Kalau kedinginan tinggal minta selimut. *melirik iri*


Melihat anak bayi dan emaknya riwil tiap malam, suami programmer memutuskan membeli AC. Iyaaa AC. Butuh AC di (desa) bandung yang agak ke gunung ini, kog agak gimana gitu ya? Kog berasa manja. Kog tiba-tiba membenarkan global warming. Kog tiba-tiba berasa kiamat makin dekat. Lah?!

Tapi ini beneran panas. Sumpah. Suer.

Maka satu malam setelah menyusuin anak bayi dan meninggalkan perahan 50ml, saya dan suami berburu AC ke toko elektronik. Kami punya waktu dua jam sebelum Captain Kid (aka anak bayi) bangun dan minta susu lagi.

Ohh.. Di Bandung ada dong toko elektronik pinggir jalan yang buka sampai malam. Di jalan ABC. Toko-toko pinggir jalan ini bahkan menerima kartu kredit dengan cicilan 0%. Oke lah sekarang. Kalau mau yang produk segala merk ada tinggal ke Elektronik Solution. Ini juga buka sampai malam.

Pilihan kami ya Electronic Solution ini.. Cucu matanya lebih panjang. Cuci mata yang kena restrain budget. Ketahuan deh kalau lagi bokek. *gosok-gosok dompet berharap keluar jin*

ACnya yang kecil aja. 1/2 PK cukuplah. 3/4 PK ideal.  Kamarnya kan belum seluas lapangan futsal. Setelah tawaf di barisan AC sampai sol sepatu nipis, kita naksir AC inverter. AC inverter ini suhunya bisa menyesuaikan sendiri. Jadi kalau dihidupin seharian (ya kan anak bayinya seharian di rumah) ga makan listrik banyak-banyak.

Tips buat yang mau beli AC, low watt ga selalu berarti hemat listrik. Lah kalau dia perlu waktu lebih lama untuk mendinginkan ruangan kan listriknya banyak juga. Karena itu menggunakan AC dengan PK yang sesuai luas ruangan itu penting. Terus AC low watt penggunaan listriknya stabil. Dari pertama dihidupkan sampai dimatikan. Ini cocok untuk pemakaian AC yang kurang dari 8 jam sehari. Kalau lebih (seperti saya)? Hematan pakai AC tipe inverter. Karena dia mendinginkan lebih cepat (dengan watt lebih besar) lalu pelan-pelan menurunkan suhu (dan watt juga) sesuai kondisi ruangan. Kalau sudah mencapai suhu yang diinginkan ya dia turun. Gitu.

"Okee bungkus!" Kata saya ke mbak-mbak salesnya.
Bukannya ngebungkus pakai karet tiga mbaknya malah ngomong "Ini belum masuk biaya peralatan dan masang ya Bu."
"Hmmm.. Berapa mbak biaya tambahannya?"

Sumpah saya baru tahu harga yang tertera itu hanya untuk ACnya. Harga selang dan kawan-kawannya beda lagi.

"400ribu sekian bu."
"Oke"
"Terus tambah biaya transport Bu karena ibu tinggalnya di kabupaten"
"Okelah.." Karena sudah beberapa kali beli barang di sini, saya tahu kalau ada ongkos transport

"Terus Bu.." Tambah mbaknya
"Iya mbak?" Mulai mengeluarkan tatapan sadis. Mau apa lagi? Apa? Apa? Kuras saja aku.
"Karena kabupaten, biaya pasangnya tambah 50ribu lagi"
"Hmmm"
"Dibayar di tempat saja Bu"
"Hmmm... Ga jadi mbak" saya langsung balik badan.

Kalau ada tambahan biaya transport sih saya ngerti. Lebih jauh maka butuh bensin lebih banyak kan? Nah kalau biaya pasang jadi nambah itu yang saya ga ngerti. Pasang di kota maupun di desa kan sama. Orangnya segitu.. Tenaganya segitu.

Kalau yang ngantar sama yang pasang beda mobil, masih masuk akal. Yang ga masuk akal itu kenapa bayar di tempat? Kog ga di kasir aja seperti tambahan biaya transport?

Bukan.. Ini bukan karena 50ribu selembar saja. Ini karena komponen biayanya ga jelas. Saya jadi ogah.

Tapi sekarang masih kepanasan.. Tapi itu ga jelas biayanya... *garuk-garuk dinding*

Lalu galau sambil mandi tengah malam terus lirik katalog AC.

Karena Lima Puluh Ribu Selembar

18 September 2013 capcai bakar

Meski sempat beberapa kali hujan-hujan lucu, musim panas sudah resmi mendatangi Bandung.

Musim hujan yang kelamaan bikin saya kaget-kaget cantik sama panasnya kemarau kali ini. Sangking panasnya saya merasa mandi sore itu wajib. Mandi malam jadi sunah muakad. Buat perempuan yang menjungjung tinggi penghematan air dengan mandi sekali sehari ini, gejala mewajibkan mandi sore itu bisa memberikan gambaran yang jelas kepada hadirin dan hadirat bagaimana gerahnya bandung akhir-akhir ini.

Nah kalau saya kepanasan, saya berasumsi Anak Bayi juga kepanasan. Maka setiap anak bayi rewel padahal sudah disusui-disendawa-ganti popok., saya menyalahkan udara panas ini. Cerdas ya? *ditoyor*

Bayi yang riwil, bikin emak yang sudah gerah tambah gerah. Udahlah ga bisa nongkrong depan kipas angin karena takut meresikokan anak bayi kembung, ditambah cemas-panik sedap lihat anak riwil. Merembes lah semua itu keringat. Gerah. Siramin aku.. Siramin aku agar sejuk Pak Ustad.

Jadilah selama beberapa malam saat anak bayi rewel, saya buka kaca jendela sedikit.. Masukin angin malam. Begitu anak bayi tidur lagi, kacanya ditutup. Biar ga masuk angin. Kalau masuk angin kan nanti rewel juga. Ga solutif.

Jendral kancil dan suami gimana? Tidur nyenyak depan kipas angin. Kalau kedinginan tinggal minta selimut. *melirik iri*


Melihat anak bayi dan emaknya riwil tiap malam, suami programmer memutuskan membeli AC. Iyaaa AC. Butuh AC di (desa) bandung yang agak ke gunung ini, kog agak gimana gitu ya? Kog berasa manja. Kog tiba-tiba membenarkan global warming. Kog tiba-tiba berasa kiamat makin dekat. Lah?!

Tapi ini beneran panas. Sumpah. Suer.

Maka satu malam setelah menyusuin anak bayi dan meninggalkan perahan 50ml, saya dan suami berburu AC ke toko elektronik. Kami punya waktu dua jam sebelum Captain Kid (aka anak bayi) bangun dan minta susu lagi.

Ohh.. Di Bandung ada dong toko elektronik pinggir jalan yang buka sampai malam. Di jalan ABC. Toko-toko pinggir jalan ini bahkan menerima kartu kredit dengan cicilan 0%. Oke lah sekarang. Kalau mau yang produk segala merk ada tinggal ke Elektronik Solution. Ini juga buka sampai malam.

Pilihan kami ya Electronic Solution ini.. Cucu matanya lebih panjang. Cuci mata yang kena restrain budget. Ketahuan deh kalau lagi bokek. *gosok-gosok dompet berharap keluar jin*

ACnya yang kecil aja. 1/2 PK cukuplah. 3/4 PK ideal.  Kamarnya kan belum seluas lapangan futsal. Setelah tawaf di barisan AC sampai sol sepatu nipis, kita naksir AC inverter. AC inverter ini suhunya bisa menyesuaikan sendiri. Jadi kalau dihidupin seharian (ya kan anak bayinya seharian di rumah) ga makan listrik banyak-banyak.

Tips buat yang mau beli AC, low watt ga selalu berarti hemat listrik. Lah kalau dia perlu waktu lebih lama untuk mendinginkan ruangan kan listriknya banyak juga. Karena itu menggunakan AC dengan PK yang sesuai luas ruangan itu penting. Terus AC low watt penggunaan listriknya stabil. Dari pertama dihidupkan sampai dimatikan. Ini cocok untuk pemakaian AC yang kurang dari 8 jam sehari. Kalau lebih (seperti saya)? Hematan pakai AC tipe inverter. Karena dia mendinginkan lebih cepat (dengan watt lebih besar) lalu pelan-pelan menurunkan suhu (dan watt juga) sesuai kondisi ruangan. Kalau sudah mencapai suhu yang diinginkan ya dia turun. Gitu.

"Okee bungkus!" Kata saya ke mbak-mbak salesnya.
Bukannya ngebungkus pakai karet tiga mbaknya malah ngomong "Ini belum masuk biaya peralatan dan masang ya Bu."
"Hmmm.. Berapa mbak biaya tambahannya?"

Sumpah saya baru tahu harga yang tertera itu hanya untuk ACnya. Harga selang dan kawan-kawannya beda lagi.

"400ribu sekian bu."
"Oke"
"Terus tambah biaya transport Bu karena ibu tinggalnya di kabupaten"
"Okelah.." Karena sudah beberapa kali beli barang di sini, saya tahu kalau ada ongkos transport

"Terus Bu.." Tambah mbaknya
"Iya mbak?" Mulai mengeluarkan tatapan sadis. Mau apa lagi? Apa? Apa? Kuras saja aku.
"Karena kabupaten, biaya pasangnya tambah 50ribu lagi"
"Hmmm"
"Dibayar di tempat saja Bu"
"Hmmm... Ga jadi mbak" saya langsung balik badan.

Kalau ada tambahan biaya transport sih saya ngerti. Lebih jauh maka butuh bensin lebih banyak kan? Nah kalau biaya pasang jadi nambah itu yang saya ga ngerti. Pasang di kota maupun di desa kan sama. Orangnya segitu.. Tenaganya segitu.

Kalau yang ngantar sama yang pasang beda mobil, masih masuk akal. Yang ga masuk akal itu kenapa bayar di tempat? Kog ga di kasir aja seperti tambahan biaya transport?

Bukan.. Ini bukan karena 50ribu selembar saja. Ini karena komponen biayanya ga jelas. Saya jadi ogah.

Tapi sekarang masih kepanasan.. Tapi itu ga jelas biayanya... *garuk-garuk dinding*

Lalu galau sambil mandi tengah malam terus lirik katalog AC.

14 September 2013

Hampir tiga bulan di rumah kan ya? Berarti hampir tiga bulan juga semua belanja onlen dikirim ke kantor suami. Artinya.... ketauan aja gitu kalau sering belanja. Awal-awal sih suami ga komentar. Lama-lama mulai "Belanja apa lagi?" Akhir-akhir ini malah "Belanja lagi? Jualannya kapan?"

Istri cerdas tentu menjawab

"Aku kan dapat gajinya dari pajak rakyat.. ya harus dikembalikan lagi  ke rakyat. Agar maksimal pemberdayaannya. Kalau jualan.. masak ngambil uang rakyat lagi."

Udah mau noyor? :D

Pajak dan Online Shop

14 September 2013 capcai bakar

Hampir tiga bulan di rumah kan ya? Berarti hampir tiga bulan juga semua belanja onlen dikirim ke kantor suami. Artinya.... ketauan aja gitu kalau sering belanja. Awal-awal sih suami ga komentar. Lama-lama mulai "Belanja apa lagi?" Akhir-akhir ini malah "Belanja lagi? Jualannya kapan?"

Istri cerdas tentu menjawab

"Aku kan dapat gajinya dari pajak rakyat.. ya harus dikembalikan lagi  ke rakyat. Agar maksimal pemberdayaannya. Kalau jualan.. masak ngambil uang rakyat lagi."

Udah mau noyor? :D

13 September 2013

Lebaran 1434H

13 September 2013 capcai bakar

Lebaran tahun ini kita di Bandung saja, karena anak bayik belum 10 minggu. Meski sang Bapak keukeuh kalau umur 2 minggu udah boleh dibawa naik pesawat, emak parno cari aman di 10 minggu ya. Sorry Pak JK kali ini bukan lebih cepat lebih baik.

Maka selamat tinggal tiket garuda pulang-pergi yang murah itu. 

Eh.. ada pembaca yang geleng-geleng melihat tidak terencananya hamil kali ini? Ya lebaran itu kan pasti.. hamil itu yang belum pasti. Ngeles.. padahal emang keburu beli tiket dulu baru implusif memutuskan hamil. 

Jadi kita ga ikut takbiran karena mama masih sibuk masak dan ga ada kendaraan juga. Ketinggalan sholat ied karena ketiduran semua. Akhirnya ya..setelah  makan lontong+ayam rendang+sambalado kentang bikinan mama yang enak gitu.. kita semua tidur-tiduran dengan baju lebaran. Ga ada tamu. Krik.

Ya gimana mau ada tamu secara penghuni kompleks cuma bersisa 3 keluarga (termasuk kita). Jadilah kita datang ke rumah bapak koordinator keamanan dan Pak RT. Ngobrol... ngobrol.. Jendral Kancil ngabisin kue. Lalu pulang. Makan lontong lagi. Terus goler-goler lagi.

Sebelum lebaran hari pertama ini berlalu garing, untunglah Pak Uncu yang di Rancaekek datang lalu secara implusif bikin pempek. Iya sukanya tiba-tiba. Mak uncu Rancaekek ini kan wong Palembang juga macam suami jadi mereka saling bertukar ilmu bagaimana membuat pempek telor yang cantik dan cepat.

peserta kursus kilat bikin pempek telok

suami sang penanggung jawab rebusan

Saya sih senang saja ada pempek di rumah. Pempek dua kilo ikan pun habis dalam sekejab. Untung Suami Prohemer sempat menyingkirkan beberapa buat istri yang sibuk nyusuin di kamar, jadi sempat ngerasain. 

Besoknya, hari raya kedua, kita mulai sibuk nyari-nyari tempat wisata yang sudah buka. Dapatlah Saung Udjo. H+1 sudah buka aja dong. Dulu kami pernah sekali ke Saung Udjo, sedangkan buat mama dan tante ini baru pertama kali. Begitu masuk tempat Saung Udjo yang penuh bambu-bambu si Mama langsung bilang "Baca bismillah Nin.  Bilang assalammualaikum." Geez... my mom and his sixth sense, Siang bolong gitu loh.. kan aku jadi takut ples cemas. 

Meski lebaran, Saung Udjo tetap ramai dengan pengunjung. Ada yang lokal maupun interlokal (dikata sambungan telepon apa ya). Pantes aja tetap buka. Kali ini tiket masuk untuk orang dewasa 70ribu dan 50ribu untuk anak-anak. Ini sudah termasuk welcome drink berupa es lilin/teh manis/air mineral. Ga perlu bawa uang banyak-banyak karena disana ada mesin gesek. 

Sambil menunggu pertunjukan sore, kami keliling-keliling toko souvenirnya buat cuci mata. Adik bungsu saya beli oleh-oleh buat cem-cemannya di Medan. Hahaha.*buka rahasia adek di blog. Ya mumpung ga dibaca*

di toko souvenir udjo

Setengah jam sebelum pertunjukan dimulai kita berangkat ke aulanya buat memilih tempat duduk strategis. Itu aja udah telat dong.. podium tengah cuma tersisa barisan paling atas. Jadinya Tante dan mama saya memilih duduk di podium samping tapi dekat panggung. Biar bisa ikutan nari katanya.

Pertunjukkannya gimana? Walau sudah pernah kesini, saya tetap amazed setiap melihat pertunjukkannya. Tetap keren. Tetap bikin wow. Ga ngebosenin. Apalagi tahun ini ada tambahan pertunjukan. 

Tari merak. Salah satu pertunjukan di Saung Udjo.  penarinya cantik-cantik dan selalu senyum. Padahal masih cilik-cilik.  


Pertunjukan angklungnya


Pemirsah juga bisa mencoba menggoyangkan para angklung
Pemilik saung udjonya menciptakan angklung yang ga perlu digoyang kuat-kuat. Cukup ditoel saja. Hasilnya? Angklungnya bisa dimainkan seperti piano. Keren! Banget!

Angklung toel. Angklungnya dibalik.
Penutupan.. nari bareng. Rame.
Gimana yang duduk dekat panggung? Jadi nari? Jadi dong.. sepanjang pertunjukkan malah. Dan sukses bikin penonton lain ikutan nari -sampai ditegur mc malah- Hahaha. 

Senang! Apalagi pulang-pulang dapat tambahan es lilin karena Suami ngobrol-ngobrol dengan kakang penjaga counternya. Yang bikin tambah senang adalah komentar Mama dan Tante. 

"Bagus banget.. kita itu sukanya acara budaya gini.. ga percuma bayar 70ribu. Tadi kirain lihat angklung aja kog semahal itu. Tapi gak.. ini bagus banget."
Aaaa.. langsung hepi dan pandang-pandangan sama suami.

Selesai dari Saung Udjo, kita makan dulu di bakso Malang Mandeep yang enak bangetbanget itu sebelum Tante, Mama, dan Adik-adik balik ke Jakarta. Besoknya Mama dan Adik bungsu saya sudah kembali ke Medan. 

Selesai melepas kepergian semua keluarga ke Jakarta, kami kembali makan. Iya makan lagi. Kali ini makan steak di Suis Butcher. Ini dalam rangka penelitian kog.. mana yang lebih cocok di lidah kami, Suis Butcher apa Karnivor. *alasan ya...*

Capcai: Punya anak dua sajaaa | Jendral Kancil: Iyaaaaa

Sayangnya ga ada foto steaknya karena baterai kamera keburu habis. Yang sempat kefoto cuma burger pesanan Jendral Kancil.






Hasil penelitiannya sih.. Suis Butcher ini steaknya serius. Rasa dan presentasinya kelas steak-steak restoran/hotel mahal gitu. Rasanya enak. Banget. Saus mushroomnya lebih enak ketimbang Karnivor. Disini malah dapat air putih gratis jadi ga perlu pesan minuman lagi. Dan menurut saya steak itu cocoknya ya sama air putih. Desert di Suis Butcher juga enak-enak. Beda dengan karnivor yang dokus di daging, jadi sayur dan desertnya ya biasa aja. Cuma buat saya yang suka beban kalau makanan ga dihabisin, steak Karnivor jadi pilihan. Soalnya sayur karnivor itu sedikit.. bisa saya habisin. Kalau sayur/salad di suis butcher serius jumlah dan penyajiannya. Kebanyakan buat saya.

Kelar makan-makan. Balik ke rumah yang sepi ditinggal para tamu. Lebaran tahun ini resmi berakhir. Sayapun kangen sama mama. Kemarin-kemarin bisa fokus ngurus bayi (nyusuin-jemur-mandiin-mompa) dan ngurus diri (makan-oles ramuan sana sini). Waktu ada mama aroma masakan tercium tiap saat. Mau sarapan udah disiapin. Ples dibawain ramuan air daun pepaya dan bubur kacang ijo. Rumah udah diberesin. Jemuran udah dilipat. Gitu ga ada mama, mana sempat saya pakai bengkung atau bikin ramuan penambah asi. Mau mompa aja pontang-panting nyari waktunya.

Jadi ngerasa bersalah tiap mama nyuruh minum ini itu atau pakai ini itu saya ga nurutin. Berasa deh sekarang. Terus mamanya dengan sabar  nurutin kemauan saya, ngadapin muka cemberut saya tiap disuruh minum/pakai macam-macam. Ga ngeluh, ga marah.

Yang paling penting tiap anak bayik rewel Mama ga pernah nuduh asi saya dikit atau nyuruh pakai susu. Pas mompa hasilnya dikitpun Mama ga komentar. tapi kalau banyak langsung dipuji.

Sehat-sehat ya ma. Cepat kelar thesisnya. Pindah ke Jawa aja nemenin anak-cucu. Panjang umur. Doain ya anak-anaknya banyak rejeki jadi bisa bantu mama dan bikin mama senang. Semoga masih diberi umur biar kita bisa ngumpul lagi pas lebaran ya Ma. Hepi-hepi ya Ma. Sabar-sabar ya sama anaknya yang keras ini. Peluk.

Psst.. kalau cuma ketemu orang tua pas lebaran, dua tahun sekali karena gantian sama mertua... kita bisa ketemu berapa kali lagi ya Ma?

--------
Pertunjukan Saung Angklung Udjo setiap hari dari pukul 15.30 sampai 17.30.
Jl. Padasuka no 118 Bandung 40192
022 72 114, 10 136
 
Bakso Malang Mandeep
depan HDL Seafood di daerah Pusdai.

Buka dari jam 11 pagi sampai 11 malam di Jl. RE. Martadinata aka Jalan Riau No. 201 Cihapit Bandung Wetan Bandung Jawa Barat  40113, Indonesia
022 7205778

Helooo 28!


Agustus kemarin saya ulang tahun. Ke dua puluh delapan sepertinya. Mulai ga ngitung ulang tahun keberapa setelah berumur 21.. hahaha.. Btw.. dua tahun lagi 30 ya? Udah ngapain ajaaaaa... ih.

Berhubung Agustus tahun ini berbarengan dengan lebaran, saya ga mengharapkan kado dari Tuan Suami. Lebaran, tahun ajaran baru, dan lahiran numplek jadi satu. Dompet sudah dimaksimalkan penggunaannya. Cuma.. karena saya kenal tabiat suami yang pasti ngerayain.. saya cuma nebak bakal dikasih kue. Tapi tebakan ini sempat pupus karena sebelumnya kita sudah makan-makan besar di Karnivor dalam rangka early birthday celebration.

Tahun ini mumpung keluarga saya datang dengan formasi nyaris lengkap, kami memutuskan buka puasa bareng sekaligus makan-makan di Karnivor. dadakan. Jadi ga booking tempat sama sekali dan karnivor penuh. Jangankan mau waiting list.. mau parkir saja sulit. 

Berhubung lapar kita memutuskan makan di mana saja. Yang penting makan. Putar sana-sini, penuh semua. Sampai yang bisa dapat parkir cuma Bebek Slamet. Makanlah disini. Menunya cuma bebek aja. Meski kurang menggugah selera, peserta makan-makan ga protes.. kelaparan sepertinya. 

Selesai makan, pulanglah kami dengan perut terisi tapi hati masih mendamba Karnivora. Jadi begitu di tengah jalan suami -yang naik kendaran lain- telepon kalau dia dapat tempat di Karnivora. Kita langsung putar balik! Hahaha.


yang kaget lihat porsinya steak monster.
Dan anaknya yang senyum jahil
Di Karnivora, suami yang penasaran dengan steak monster langsung memesan steak monster. Dinamakan steak monster karena beratnya setengah kilo sendiri saja. Rupanya ini bukan buat dimakan sendiri (seperti perkiraan suami) tapi buat dimakan ramai-ramai. Berhubung yang lain sudah pesan satu porsi sendiri, Tuan suami kebagian tugas menghabiskan Steak monster itu.

Rasanya gimana? Menurut tuan suami lebih enak yang porsi biasa. Steak monster ini karena gede banget ada bagian-bagian yang terlalu kering dan bumbunya tidak menyerap. Tapi kalau buat makan-makan hemat steak ini boleh dicoba sih. Selain steak monster, ada juga pizza dan burger dalam ukuran luar biasa buat dimakan ramai-ramai..


Steak yang lain gimana? Enak. Favorit saya Sirloin dengan kuah arabica/mushroom dan mashed potato/curly potato. Sukalah.. saya mau datang lagi. 

steak yang normal

Kalau minumannya sih biasa aja. Saya doyannya air putih.

Terus kabar tuan suami yang makan steak setengah kilo gimana?


Yap keblenger. Ga habis. Jadinya dibawa balik buat sahur. Hahaahha. Perayaan hari itu ditutup dengan gembira. Perut kenyang dan hati senang... lebaran tanpa rendang daging (berhubung harga daging masyaAllah)? Ya ga masalah.  Udah puas duluan kan? Kan? *melirik tajam ke adik-adik*

Yang pulang dengan perut senang
Karena sudah ada perayaan ini, sayapun ga berharap dapat kejutan apa-apa lagi di hari ulang tahun. Sampai di malam ulang tahun saya, suami tiba-tiba pergi tanpa permisi. Saya kesel karena ditinggal tanpa kepastian. Untungnya sebelum ngomel-ngomel via sms saya ingat kalau besok saya ulang tahun.. jadilah daripada mengirim sms penuh misuh-misuh, saya meng-sms suami dengan tuduhan "Lagi nyari kue ulang tahun buat istri ya?".

Suaminya ga ngaku dong. Tapi siapa coba yang datang subuh-subuh bawa ini?


Latarnya anak bayik. Hadiah spesial tahun ini.

Kelar nih surprisenya? Belummm dong.

Pagi-pagi saya lihat ada sms soal pemesanan kue di hape suami. Bwahaha... kebongkar.

Sayapun dengan isengnya ngegodain suami yang mau berangkat. "Mau ngambil kue pesanan buat istri ya?" Yang ditanya cuma mesem-mesem aja.

Malamnya benar aja, suami -yang katanya pergi mau ngurusin kantor kaosnya- pulang-pulang bawa kue. Lagi.


Kali ini yang bawa anak sulung ya. Gantian. 

Tulisannya entah kenapa cheers up... mungkin istri cemberut terus karena kecapekan.

Jadi mari kita tutup perayaan tahun ini dengan doa semoga istri tetap ceria terus dan penuh semangat meski melalui cobaan dunia. 







Ditutup? Yakin? Ooo tentu tidak. Here comes the real cake!!! Yay!!! Jadi karena istri cental-centil bilang "Pesan kue ya?  Ya" suami membeli kue kedua sebagai kue palsu biar aku mengira kue yang dia pesan adalah kue kedua itu. Kue aslinya ya ini. Cakeeep.


Jadi setelah kue kedua, saya pikir udah kelar dong ya. Yang ulang tahunpun pergi tidur dengan hati riang. Suami pergi ronda ke pos satpam ijinnya. Ternyata bukannya ronda, dia malah bawa pulang bawa kue ketiga yang dari tadi disimpan di pos satpam. Aaaaaaa aaku kaget, ga nyangka ada kue lagi. 

Black velvetnya enyak... enyak... Sebenarnya sih semua kue ulang tahun itu enak di lidah saya. Dan saya senang dapat banyak kueeee. The more the merier my happy tummy. 

Paginya saat bersih-bersih rumah, hati saya hangat lihat bungkusan lilin berantakan di halaman. Sisa-sisa suami masang lilin diam-diam di luar sambil megang kue gelap-gelap. Hiks. Makasih Suami. Semoga rejekinya tambah besar dan lancar, Semoga makin sayang sama istri riwil ini. Amin.

Kue black velvetnya (dan kue-kue lainnya) bisa dipesan di Arlene 0818 0202 0538 atau 022 204 1993. kalau kue biasa ga custom kayak yang dibeli suami harganya 200ribuan. Itu aja udah cantik kog. Kalau custom gitu.. kata suami 400ribuan.

16 August 2013

The Day: Welcome Boy. Hello World!

16 August 2013 capcai bakar

Kalau ada yang iseng nunggu jam kantor (ya secara masih suasana lebaran, kerjaan belum banyak tapi ga bisa pulang setengah hari yes? Iyes) dan mau baca bagian preambulenya silahkan mampir kesini.

20 Juli 2013. 40 minggu 3 hari.

Dari malam saya bolak-balik kebangun. Antara kontraksi yang saya pikir diare dan melukin Jendral Kancil yang panas (lagi. Kali ini pakai banget). Jadi sepanjang malam setiap kontraksi saya pergi ke toilet. Ngeringis-ngeringis sedap di situ. Balik ke kamar melukin Jendral Kancil yang kebangun karena badannya panas. Ketiduran sebentar (iya rasanya sebentar), lalu balik lagi ke toilet. Gituuuu terus.

Kalau ada yang nanya kenapa ga bisa bedain mules diare sama kontraksi kakak? Karena... eike ga pernah diare... jadi ga tau sakit diare itu gimana. Saya udah googling loh. Demi mencari tahu ini sakit diare apa kontraksi. Hasil googling kalau disertai feses ya diare, bukan kontraksi. Jadi makin yakinlah saya kalau ini diare, bukan kontraksi.

See? Google itu bukan dokter. Kata siapa kalau disertai feses itu hanya dan hanya diare. Lah kan ada ceritanya orang melahirkan keluar feses juga. Oke.. we arrived at jijay part. :D.

Begitu masuk sahur, saya bangunin Suami Programer biar makan dulu. Sekalian minta minyak kayu putih karena aku sudah tak tahan dengan sakit perutnya. Suami Programmer tentu saja ngajakin ke dokter buat dicek. Saya masih ga mau, keukeh kalau ini diare. Gimana pembaca? Udah pengen noyor istri sok tau?

Kelar suami sahur karena ngelihat saya masih ngeringkuk-ngeringkuk kesakitan Dia maksa harus periksa. Terserah ke dokter mana saja ke rumah sakit manapun. Dianterin. Saya-nya yang memutuskan cek ke puskemas dekat kantor suami aja. Jadi kalau ini beneran diare ya gak malu-maluin banget. Malu ah.. ke dokter UGD gegara diare.

Subuh-subuh kita mampir ke Puskesmas Puter. Puskesmas ini dekat banget kantor suami. Ibarat tinggal di luar negeri, cuma beda blok. Koprol 3 kali juga sampai.Tentu saja saya ga koprol.. saya ngesot.. pakai motor diboncceng suami.

Sampai di Puskesmas (yang ramai karena baru pada kelar sahur) saya langsung laporan ke Bidan jaga dan menyerahkan buku catatan kehamilan. Saya curhat kalau HPLnya sudah lewat dan saya kesakitan. Tapi bingung antara kontraksi atau diare. Bidannya langsung menyuruh saya tiduran di ruang periksa. Periksa dalam yang diiringin sakit beberapa kali. 

Vonis bidannya "Ini kontraksi Bu. Sudah bukaan dua. Kontraksinya bagus, jadi mungkin jam 7 pagi sudah lahir." Udah gitu aja. Gak disuruh nginap atau apa. Kalau mau nginap silahkan, kalau mau pulang dulu juga ga masalah. Ga lahiran di situ juga tak apa-apa. Ih.. bidannya meuni jual mahal.

Sayapun memutuskan balik dulu ke kantor, manggil ibu yang kerja di rumah buat minta tolong diambilkan tas peralatan melahirkan (yang ditinggal di rumah iyaaa.. kan udah dibilangin ga ada rencana nginap berhari-hari di kantor suami) dan jagain Jendral Kancil. 

Sampai di kantor, Jendral Kancil kebangun lagi gara-gara panas. Kali ini pakai acara nangis-nangis. Ga tau karena ga enak badan apa karena shock liat emaknya kesakitan. Kita lalu pusing. Mau melahirkan di mana? Kemarin kan pilihannya yang dekat-dekat rumah. Sekarang start point nya ga dari rumah. Ditambah Jendral Kancil sakit. Jangan-jangan nanti Jendral Kancil harus rawat inap saat emaknya melahirkan. 

Karena kita mau mengirim Jendral Kancil ke Borromeus untuk dicek lagi, saya mengusulkan lahiran di Borromeus saja.Suami menolak.. bangsal anak dengan bangsal melahirkan jauh. Kalau bolak-balik malahan susah. Yo wes.. Jendral Kancil saja yang dikirim ke Borromeus dulu. Sama Om Andi, sohib suami dari SD. Sedangkan Suami menemanin saya di kantor.

Meski bersyukur suami memilih menemani saya (kontraksi itu sakit jendral.. saya butuh pegangan..) dalam hati saya juga ketar-ketir melihat Jendral Kancil ke UGD tanpa orang tuanya. Antara sedih dan mau merelakan suami untuk nemanin anak atau butuh suami menemanin kontraksi demi kontraksi.

Iya..iya saya tahu ada banyak perempuan yang sudah bukaan 5 masih bisa twitteran dan BBMan. Kakak saya sampai bukaan 8 masih bisa ngobrol dan cuma meringis-ringis anggun. Saya? Bukaan dua aja udah ga bisa ngapain-ngapain. Rencana mau mandi dulu juga bubar jalan.. ga kuat  eike. 

Karena udah ga bisa mikir lagi dan mau cepat-cepat berada di bawah pengamatan medis (halah) saya memutuskan lahiran di Puskesmas Puter saja. Yang paling dekat saja. Kalau udah sakit, saya ga ambil pusing ini IMD, room-in, dan pro ASI. Maafkan aku Mama Yeah.

Sampai di puskesmas, setelah beberapa kali jongkok di jalan, saya memutuskan jalan-jalan di halamannya biar bukaan makin cepat. Saya mau penderitaan ini berakhir cepat. Bolak-balik jalan sambil ditungguin suami (yang duduk manis dan ngeluh ngantuk. Minta dikeplak emang) yang megangin apps untuk ngitung jeda kontraksi. Setiap kontraksi muncul saya ngasih kode jempol ke atas dan jempol ke bawah kalau kontraksi sudah kelar.

Sembari jalan itu saya sibuk ngebatin.. ya ampun kog bisa-bisanya kemarin mengharapkan cepat ada kontraksi.. kog bisa-bisanya lupa sakitnya begini amat.. Ya Allah.. kapok. 

Hampir jam 7 pagi saat sakitnya makin hebat dan eike pengen guling-guling di tempat tidur aja. Ga mau jalan-jalan lagi, capek. Jadi saya meminta suami menanyakan ke bidan sudah boleh masuk/belum. Soalnya selama nunggu di luar, pintu puskesmasnya ditutup karena lagi dipel. Jadi berasa ga boleh masuk gitu.. aku kan anaknya sensitip.... 

Yang mana keputusan untuk tiduran itu salah... kontraksinya lebih berasa saat tiduran ketimbang saat jalan-jalan. Terus interval dan durasi antar kontraksi juga tidak seaktif saat jalan-jalan. Tiduran ini memperpanjang derita sepertinya. Tapi semangat saya keburu habis, mau tiduran aja. 

Sepanjang menunggu bukaan, kita juga telpon-telponan dengan Om Andi untuk mengetahui kondisi Jendral Kancil. Jendral Kancil bilang dia diambil darah, sakit, pengen nangis katanya. Duh.. kasian. Untungnya hasil darah Jendral Kancil baik-baik saja. Disuruh pulang dan meneruskan obat dari Santosa sama dokter Borromeus. Alhamdullillah ya.. sekarang emak bapaknya bisa konsen sama melahirkan saja. 

Saat diperiksa lagi oleh Bidan, pembukaan saya sudah 8. Eh cepat aja. Dalam hati saya girang karena tinggal 2 bukaan lalu selesailah sudah. Kelar. Finish.

Karena tinggal sebentar lagi saya disuruh pindah ke ruang tindakan sembari bidannya ngomel-ngomel ke para bidan magang karena ga mengobservasi saya. Hahaha.. iya.. saat itu lagi banyak anak magang di puskesmasnya. Jadi kebayang gimana ramainya ruang bersalin itu. Ada banyak bidan karena saya masuk pas pergantian shift.. sehingga saya ditunggui bidan shift malam dan shift pagi beserta anak magang shitf malam dan pagi. Ramaiiii.

Terus meski judulnya tinggal nunggu dua bukaan lagi, sakitnya sih tetap aja oke. Secara belum boleh ngeden kalau bukaannya belum komplit, tapi aku udah pengen ngedden Bidan.. pengen pisan. *dipelototin Bidan*  Jadilah anak magang yang ramai itu disuruh merangsang pembukaan lewat payudara. Ini saya kualat karena ngetawain dosen teman SMP yang harus merangsang pembukaan pasiennya lewat payudara. Kualat saya.

Jangan mikir dirangsang lewat payudaranya macam dikilik-kilik suami ya. Enggak. Ini puting payudara ditarik dan diputer kencang oleh mbak-mbak calon bidannya. Ga ada enak-enaknya. *Ya iyalah.. ini mau melahirkan apa mau apa sih*

Saya juga merekrut salah satu calon bidan untuk diremas-remas, tangannya yang diremas.. *keplak*, saat kontraksi melanda. Secara suami yang takut darah ga mau masuk ke dalam puskesmas dan eike sudah habis tenaga untuk nyeret beliau. Mbak Bidan.. siniii.. temanin aku. 

Begitu masuk bukaan 9 (dan ketuban yang pecah.. ketubannya keruh.. dan untuk membuktikan kalau ketuban itu ga berbau, saya sempat-sempatnya mengendus tangan yang kecipratan ketuban. Hahaha.) Bidan yang tadi subuh menerima saya memutuskan pulang karena shiftnya sudah berakhir. Saya heran.. ga ditunggui sampai lahir nih? Langsung serah terima saja? Saya jadi mengulang lagi ke Bidan pagi kalau dokter memperbolehkan saya melahirkan di bidan dan janinnya kelilit tali pusar dua kali di leher.

Untungnya kalau pagi bidannya banyak jadi saat satu bidan dengan galak menginstruksikan "Ibu ga boleh ngeden dulu.. ibu ngedennya yang bener.. ikutin saya.. ibu jangan di leher.. ibu.. mata buka...blablabla", bidan lain dengan lembut mengajarkan saya ngeden.

Heh? Masih harus diajarin lagi? Bukannya udah anak kedua ini? Iye... Bidannya juga bolak-balik nanya "Ini anak pertama?". Kedua Bu.. tapi yang pertama tujuh tahun lalu. Saya lupa. Terus kepedean karena yang pertama sukses, aku ga baca-baca buku dan ga latihan ngeden yang baik dan benar. Makan tuh sombong. Hahaha. 

Tapi pas Jendral Kancil, eike juga ga tau gimana harus ngeden, tapi lahir aja kog.. *trus ditoyor Bidan.. ya iya lahir.. wong sama bidan dulu main digunting. Pantesan ga berasa susah ngeden. Misteri solved. *

Saat sudah bukaan 10, saya mulai marathon ngeden sambil diiringin instruksi dari Bidan "Bu.. tangannya di kaki, mata buka, tarik nafas, jangan di leher ngedennya, ikutin saya, gini loh bu..." Ini.. ngelahirin lebih ribet daripada bikinnya ya? Minimal pas bikin kan masih boleh teriak-teriak gitu...*senyum malu-malu*

Saat mendengarkan instruksi Bidan, saya sempat-sempatnya ngebatin "Ealah.. lagi sakit gini mana bisa saya konsen merhatiin terus nerapin ya? Iya." 

Di sela-sela kontraksi saya diminta mengambil nafas demi suplai oksigen ke adik bayi. Denyut jantung adek bayi juga dipantau saat kontraksi tidak ada. Rupanya saat kontraksi muncul, aliran oksigen dari ibu ke bayi terputus dan detak jantungnya sulit dipantau. Itulah kenapa kalau kelamaan kontraksi, bayinya lemas.

Sepertinya Bidan mulai ngerasa kalau saya sudah kelamaan ngeden, jadi dipanggilah bala bantuan. Suami. 

Suami Prohemer diminta untuk duduk di belakang saya, menyangga punggung. Posisi saya yang tadi tiduran diubah menjadi setengah duduk. Suprisingly, posisi ini bikin kegiatan melahirkan lebih mudah. Ya.. sedikit lebih mudah. Entah memang posisi menentukan atau karena ada dukungan suami yang sibuk bilang "Ayo... dikit lagi.. dikit lagi" (yang mana sesudah proses bersalin selesai saya baru tau dia buang muka terus dan mustahil bisa melihat bayinya apalagi menyimpulkan sebentar lagi kelar. Saya dikibulin.)

Akhirnya setelah berapa kali ngeden (sambil ngebatin.. ini Bidannya cuma ngeliatin aja ya? Mbok bantu ngeluarin gitu.. guntinglah apalah. Ya, saya kalau sakit, judes. Meski dalam hati aja) dan laporan "Sakit... sakit.." (yang dibalas bidannya dengan santai "Iya bu.. itu udah mau keluar makanya sakit..") bayinya keluar. Kelilit tali pusar. Nangis keras. Lengkap. laki-laki tampan. 3,4 kg. 50 cm. Aaaa..lucunya... (mendadak ga kapok lagi.. memandangi suami yang buru-buru keluar.. muntah kayaknya.)



Sembari Bidan dan para calon bidan membereskan bagian bawah (jadi bidan senior nunjukin cara menjahit dengan cepat, bidan magang praktekin dengan pelan dan hati-hati.. Aaaaakkkk), adik bayinya diletakkan di dada saya. Ada IMD dong... di puskesmas bisa IMD ternyata. Saya ga nyangka. Sayangnya meski ditungguin adek bayinya ga berhasil menemukan gentong susunya.

Kelar diambil cap kaki (bayinya bukan saya) Saya masih harus menunggu di ruang bersalin untuk observasi postpartum. Karena yang mengobservasi adalah calon bidan, saya jadi ikutan belajar, saat bidan seniornya memberi tahu apa saja yang perlu diobservasi untuk mencegah pendarahan. Tapi sekarang udah lupa apa aja yang ditanya... hm..hm... *mikir* Cuma ingat Suami sempat bilang mau nambah anak lagi... ih.. masa nifas aja belum kelar udah ngomongin bikin anak lagi

Setelah itu saya langsung mandi dan bobok-bobok cantik dengan adik bayi. Iyes.. di puskesmas musti room in. Bukan sekamar lagi.. seranjang malah. Soalnya ruangannya ga pakai kelas-kelas gitu. Ruang perawatannya cuma satu. Untungnya saat itu pasiennya cuma saya. jadi meski tempat tidurnya ada 4 tetap berasa VIP. Tenang-tenang aja suasananya.

Dan puskesmas ini sangat pro ASI. Bolak balik saya ditanyai apakah adik bayi sudah nyusu. Walaupun saya bilang adiknya tidur terus dan ga mau nyusu mereka ga lantas meminumkan susu formula. Saya malah disuruh duduk dan bangunin bayinya buat nyusu. Beda dengan Jendral Kancil, meski sama-sama di Bidan, begitu lahir Jendral Kancil langsung disusui pakai sufor tanpa seijin saya. Mungkin karena bidannya Jendral Kancil ga update perkembangan terbaru.

Jadi meski di luar rencana, semua yang saya inginkan untuk persalinan anak kedua ini terpenuhi di Puskesmas Puter. Ada IMD, room-in, pro ASI, Pro Normal serta askes nya bisa maksimal. Iyes, biayanya cuman lewat dikit dari tanggungan Askes yang cuma 400ribu sekian itu.  

Iya biaya bersalin ples nginap seharian cuma 500ribu saja. Ini bahkan lebih murah daripada biaya lahiran Jendral Kancil tujuh tahun lalu. Tujuh tahun lalu! *diulang karena takjub* Mungkin karena suami prohemer muji-muji bidannya yang dikira baru lulus kuliah bukannya sudah beranak dua. Dasar pedagang. (eh tapi emang benar bidannya kelihatan masih muda banget loh.. cantik lagi).  

Dan pujian suami dibalas bidan dengan "Ibu pakai kerudung kelihatan muda banget ya.. kemarin pas melahirkan kelihatan tua." Ya menurut ngana? Penderitaan itu ga bagus buat kecantikan wanita, catet ya wahai para suami... agar istri cantik selalu harap hati dan fisiknya dibikin hepi. :p

Paling yang kurang cuma di Puskesmas ini keperluan melahirkan harus dibawa sendiri. Bahkan sampai sabun mandi adek bayinya eh sampai plastik untuk baju-baju kotor. Ribet, yang nunggu harus bolak-balik ke warung.

Jadi Om dan Tante, postingan ini sebagai launching* resmi Rlang (dibaca er-lang, bukan riang apalagi ruang), putra kedua kami, adik Jendral Kancil, will be known in internet as Captain Kid (tadinya mau Panglima Kumbang tapi secara kisahnya kurang oke jadi ditolak istri)  dan kisah-kisahnya akan diposting di rlang.blogspot.com.

So, Hello World! Welcome baby boy!


*Launching yang kelamaan.. sekarang rambut bayinya sudah tumbuh lagi. :p