SLIDE1

Like capcai in here all things can be mix, put together, and absolutely delicious. Cause this is not common capcai. This capcai is burned out.

25 March 2013

Siapa yang malam seninnya dapat ucapan 

"Nanti kalau Ayah mau ngantar Bunda ke Jakarta bangunin Adek ya? Mau ikut ngantar."

Iya.. saya. Dan saat emaknya speechless bapaknya nanya

"Adek masih kangen Bunda ya?"

Anak gengsi tentu saja tidak mau bilang kangen sama emaknya. Malah bilang mau tahu aja tempat travel Bunda. Lalu suami membesarkan hati dengan berkata "Dia kangen kog.. cuma gengsi aja" saat anaknya sudah tidur.

Iya ngerti... akhir-akhir ini saya berasa Jendral Kancil mulai menjadi tantangan. Saat emak-emak lain heboh terrible two, kita gak mengalaminya. Yang ada di umur-umur sekarang. Teori saya karena mau punya adik. Jendral Kancil lebih jahil, lebih emosi, lebih manja, lebih sensitif. Marah-marah? Ngambek? Sering. Biasanya karena saya ngejahilin, Jendral Kancil langsung ngambek. Langsung marah. Terus nangis. Emaknya salah terus. Sedih sih.. ngajak main anak, yang tadinya ketawa-ketiwi, tiba-tiba mood anaknya berubah jadi marah, terus kesal, ngambek, dan nangis. Hancur. *drama queen*

Tapi kelihatan kog kalau Jendral Kancil lagi butuh dimanja... dulu ditinggal emak bapaknya pacaran diam aja, diajak-ajak malah ga suka. Kemarin-kemarin pas emak bapaknya pulang pacaran ditanya "Dari mana aja? Lama banget" Tumben. Besoknya malah nangis dengan bilang "Ayah bunda pacaran terus, makan enak. Anaknya ditinggal cuma makan telor. Ga ada makanan." Eaaaa... nangisnya deras gitu.. padahal makan telor cuma pas malem doang. Pagi makan hokben, siang makan ayam, sore ngemil mie goreng.

makanya pas weekend ini diajak jalan bertiga, anaknya senang banget. Ketawa-ketawa sepanjang jalan. Main-main.Nyanyi-nyanyi. 

Di lain pihak emaknya ga bisa manja-manja sama bapaknya. Mau pelukan, ada yang nyempil minta ditengah. Emaknya minggir biar bisa dekat bapaknya eh ada yang melas "Adek mau di tengah". Tidurnya mau dipeluk-peluk. Padahal biasanya ogah di tengah. Kalau ga di pinggir, di bawah, atau di kamar sendiri.

Ya gpp lah, gitu anaknya tidur, bapak-emaknya minggir-minggir biar bisa berduaan. Tenang ya Nak.. sayang sama kog.

Challenging Ceven

25 March 2013 capcai bakar

Siapa yang malam seninnya dapat ucapan 

"Nanti kalau Ayah mau ngantar Bunda ke Jakarta bangunin Adek ya? Mau ikut ngantar."

Iya.. saya. Dan saat emaknya speechless bapaknya nanya

"Adek masih kangen Bunda ya?"

Anak gengsi tentu saja tidak mau bilang kangen sama emaknya. Malah bilang mau tahu aja tempat travel Bunda. Lalu suami membesarkan hati dengan berkata "Dia kangen kog.. cuma gengsi aja" saat anaknya sudah tidur.

Iya ngerti... akhir-akhir ini saya berasa Jendral Kancil mulai menjadi tantangan. Saat emak-emak lain heboh terrible two, kita gak mengalaminya. Yang ada di umur-umur sekarang. Teori saya karena mau punya adik. Jendral Kancil lebih jahil, lebih emosi, lebih manja, lebih sensitif. Marah-marah? Ngambek? Sering. Biasanya karena saya ngejahilin, Jendral Kancil langsung ngambek. Langsung marah. Terus nangis. Emaknya salah terus. Sedih sih.. ngajak main anak, yang tadinya ketawa-ketiwi, tiba-tiba mood anaknya berubah jadi marah, terus kesal, ngambek, dan nangis. Hancur. *drama queen*

Tapi kelihatan kog kalau Jendral Kancil lagi butuh dimanja... dulu ditinggal emak bapaknya pacaran diam aja, diajak-ajak malah ga suka. Kemarin-kemarin pas emak bapaknya pulang pacaran ditanya "Dari mana aja? Lama banget" Tumben. Besoknya malah nangis dengan bilang "Ayah bunda pacaran terus, makan enak. Anaknya ditinggal cuma makan telor. Ga ada makanan." Eaaaa... nangisnya deras gitu.. padahal makan telor cuma pas malem doang. Pagi makan hokben, siang makan ayam, sore ngemil mie goreng.

makanya pas weekend ini diajak jalan bertiga, anaknya senang banget. Ketawa-ketawa sepanjang jalan. Main-main.Nyanyi-nyanyi. 

Di lain pihak emaknya ga bisa manja-manja sama bapaknya. Mau pelukan, ada yang nyempil minta ditengah. Emaknya minggir biar bisa dekat bapaknya eh ada yang melas "Adek mau di tengah". Tidurnya mau dipeluk-peluk. Padahal biasanya ogah di tengah. Kalau ga di pinggir, di bawah, atau di kamar sendiri.

Ya gpp lah, gitu anaknya tidur, bapak-emaknya minggir-minggir biar bisa berduaan. Tenang ya Nak.. sayang sama kog.

05 March 2013

Never Ending Battle

05 March 2013 capcai bakar

Pagi kemarin saya agak-agak meriang lucu gitu baca timeline @tikabanget yang sedang membahas caesar vs normal, asix versus formula, esdebra esdebre. Never ending battle di kalangan emak-emak yaaaaaa. Kalau baca-baca sih seringnya yang caesar atau susu formula dizalimi yang normal dan asix. 

Haha tapi ada loh yang caesar menzalimi yang normal.. ini beberapa yang pernah saya dengara langsung




Emak X: aku tiga anak caesar semua, jadi bawahnya masih original, kaya' gadis.

eike (dalam hati tentunya): maksud yey? Ayam ki-ef-ci? *brb senam kegel tiap detik*

Emak Y: hari gini masih di bidan? 

eike: speechless.. secara barusan saja dia memuji-muji komunitas gentle birth yang manaaaa sebagian besar didalangi oleh ibu-ibu bidan terhormat ya. Dan Jendral Kancil itu lahiran di bidan kog.. iya bidannya ga ngerti asi eksklusif (jendral kancil langsung dikasih SGM sama beliau), iya bidangnya ga mencatat score apgar, iya ga ada itu namanya IMD (anaknya buru-buru dibersihin).. Tapi beliau tau eike udah kontraksi ketimbang dokter kandungan di rumah sakit. Lupakan saja soal IMD, ASIX, Apgar, dll kalau ada pasien kontraksi, dokternya masih ga periksa dalam dan masih bilang paling cepat bulan depan lahirannya. Dan iyes.. gara-gara itu juga kami berniat lahiran kedua ini di Bidan saja. Bidan yang tau IMD, Apgar, dan ASIX kalau bisa yang mempraktekkan gentle birth dan waterbirth sekalian. 

Emak Z: yang sebelah saya nolak caesar sampai berhari-hari.. akhirnya dicaesar juga. sampai harus dioksigen bayinya. Sama aja. Ga mikir keselamatan, sibuk mau normal.

Eike: Hei.... tauk ah...

Kalau saya sih jelas.. kalau belum pernah kontraksi, terus diinduksi, lalu berujung harus caesar.. ya gak usah lah banding-bandingin lebih sakit mana, lebih kuat mana, lebih manja yang mana yes? Seperti mana berani kita bilang melahirkan jauh lebih sakit daripada disunat. Ga bisa dibandingin. 

Saya pernah menyaksikan, seseorang yang memberi petuah like a pro padahal dia belum pernah mengalaminya. Dan booom.. kejadian deh sama dia. Saat dia galau.. saya ga berhenti ngikik. Sorry.. ga bisa ditahan.

Jadi yo wes ah...

04 March 2013

Mencari dokter kandungan

04 March 2013 capcai bakar

Ngobrol-ngobrol soal layanan memuaskan, saya mau cerita sedikit (yakin?????) soal layanan dokter kandungan. Dulu waktu hamil Jendral Kancil, bulan-bulan pertama kita ke dokter Sophie di Kimia Farma. Biasaaaa anak muda bandung gaulnya kan di BIP kan. Nah.. fasilitas kesehatan yang terlihat dekat dari BIP (saat itu) adalah Kimia Farma. Berhubung pendatang dan ga punya tetua di Bandung, kita sama sekali ga punya referensi dokter-dokter ok. Tebak-tebak buah manggis.
www.thealmightyguru.com
Untungnya dokter Sophie ini bagus. Hasil googling juga banyak yang bilang beliau bagus, meski galak. Iyaaaa galak. Tepatnya tegas, dan saya yang pemalu ini jadi takut kalau mau nanya-nanya. Berhubung antrian dokter Sophie ini mengular, kami pindah ke dokter lain. Masih dekat-dekat BIP. Di klinik kecantikan Shanti. Ya, ga ada yang terlalu berkesan sih.. Biasa aja. Tadi rencananya ga pindah-pindah dokter lagi.. Tapi apa hendak dikata, di Trimester akhir dokternya naik haji. Digantikan oleh seorang dokter pria.

Waktu itu, saya maunya dokter kandungan perempuan saja. Hahaha....anak pertama, malu kalau sama dokter laki. Tapi berhubung sudah trimester akhir, ya sudah terima nasib saja. Dodolnya dokter pengganti ini adalah saat saya datang dengan keluhan sakit yang hilang timbul.

Itu anak pertama kan dan selama hamil saya tidak pernah merasakan sakit apapun. Jadi saat ada sakit saya kira itu sakit biasa.. Sakit yang wajar muncul di trimester akhir karena bayi turun ke jalan lahir. Manalah saya tau itu kontraksi. Mana juga saya tau kalau keputihan berwana pink ( ini kalimat oxymoron) adalah tanda akan melahirkan. Sumpah saya sudah baca banyak buku hamil... Tapi ya kalau tidak mengalami sendiri memang ga tau.

Jadi saat periksa ke dokter dan dokternya masih bilang saya akan melahirkan PALING CEPAT bulan depan, kita balik dong yaaaa. Jalan-jalan ke BIP. Yang ada suami jalan-jalan, saya duduk meringis di Texas. Tambah sakit. Kita buru-buru cari second opinion, hasilnya saya sudah bukaan 4. Ealah... Dokternya apa-apaan sih. Coret!

Jadi, dari kehamilan pertama saya tidak punya rekomendasi dokter kandungan. Dokter Sophie ok, cuma dari rumah sekarang Kimia Farma itu jauhnya subhanallah. Antriaannya juga astafirullah. Skip ah. Mau cari yang dekat rumah dan antriannya biasa saja.

Di kehamilan yang kedua Mampirlah ke Hermina. Dokter yang available weekend sore adalah dokter Seno. Lelaki. Ga masalah.. yang penting available sabtu-minggu sore. Karena kalau weekend kita tidurnya suka bablas balas dendam.

Pertemuan pertama, dokternya sabar sekali dalam melayani pertanyaan.... suami. Iya.. setiap periksa, mau Jendral Kancil atau yang ini suami saya yang heboh nanya-nanya. Ga sekedar nanya tentang bayi/hamil-hamilan things ya.. tapi nanya kode-kode yang ada di USG. Jadi setiap dokternya klik-klik apapun harus dijelaskan tujuannya apa. Hoho.

Periksa yang kedua, saya melipir coba dokter lain. Karena.... selama kehamilan ini saya pusing-pusing terus. Tekanan darah 130. Kata dokter kantor, harus diwaspadai takut pre-eklamsia (semoga tidak. Amin). Diminta jaga makanan. Nah, sama dokter Seno, tekanan darah itu ga masalah. Pusingnya juga wajar.. namanya lagi hamil.

Jadi saya memutuskan mencoba dokter lain (Pasangannya Budi di buku-buku bahasa Indonesia jaman dahulu). Dan.. katanya memang ga masalah. Wajar. haha.. jadi yang bikin parno yang mana. Sayangnya sama dokter Pasangan Budi ini kita ga sreg. Antriannya lama. Beliau juga buru-buru ngobrolnya. USGnya juga sakit karena perut ditekan banget. gambar usg ga jelas dengan alasan bayinya sudah gede jadi ga bisa ke capture semua. Ih... waktu Jendral Kancil sampai trimester terakhir masih kelihatan jelas kog. Dan goongnya adalah.. dese ngasih vitamin dan obat mual yang muahal banget. Total biaya 4x dari konsultasi ke dokter Seno. (btw semua keluhan saya ternyata sama dengan salah seorang teman yang periksa ke dokter ini juga)

Buku bahasa indonesia jaman dulu dari sini


Suami ngamuk dong.. hahaha. Gak usah ke dokter Pasangan Budi lagi.

Besoknya (benar-benar sehari setelah, sampai dinasehatin suster hermina kalau periksa memang sebulan sekali saja) kita periksa balik ke dokter Seno. USG nya enak dan dapat gambar bayi yang jelas. Kita juga ngobrol-ngobrol panjang. Walau tetap saya ga dapat izin terbang. haha.. iya balik periksa ke dokter itu demi mencari second opinion.. tentang keamanan terbang di trimester pertama.

Nyari dokter itu emang jodoh-jodohan ya. Ya semoga dijodohkan dengan yang terbaik. Saat ini, kami akan secara rutin berkunjung di dokter Seno.