SLIDE1

Like capcai in here all things can be mix, put together, and absolutely delicious. Cause this is not common capcai. This capcai is burned out.

28 October 2015

Penyakit gila no 33 pasangan LDR adalah munculnya keinginan absurd yang tidak penting dan suka tidak dapat ditahan-tahan. 

Oh, ga perlu ditanya sama Mamak Ikal  apakah ini penyakit gila benaran atau karangan saya semata. Mamak ikal ga pernah LDR an. Beliau selalu bareng sama suaminya. Alhamdulillah ya.

Maka sekitar sebulanan kemarin saya terkena penyakit gila nomor 33 ini. Tiba-tiba saya sangat ingin punya peliharaan ikan cupang, satu aja. Pakai batu warna-warni, dan tumbuhan sebatang. Persis seperti gambar ini. Pengin banget. Penginnya itu yang sampai setiap hari kepikiran terus gitu.


Kenapa ikan cupang? Karena meski saya suka dengan perut gendut dan mata belok ikan mas koki, ikan mas koki itu manja. Perawatannya rumit. Dan... saya ini orang yang cuma mandi kalau mau pergi kerja dan orang yang suka malas cuci muka serta pakai krim malam. Gimana juga mau rajin bersihin akuarium demi ikan mas koki, rajin bersihin muka buat diri sendiri aja malas. 

Jadi setelah tanya jawab dengan penjual ikan cupang yang bilang ikan ini tahan seminggu ga dikasih makan dan tahan seminggu pula airnya ga diganti, saya pun kepincut. Pengen melihara ikan cupang. Banget. Titik.

Maka dimulailah petualangan Capcai mencari akurium lucu, batu cantik, dan tanaman palsu. Yang ternyata susah ya. Akuarium bagus dan menawan hati kog mahal sih? Kenapa sih hati ini cenderungnya sama barang-barang mahal tapi dompet ini maunya yang murah. Kalian gitu juga ga? *ditoyor hadirin*

Setelah mempertimbangkan penampilan yang agak memikat hati dan harga yang tak terlalu mencekek kantong, saya pun memilih akuarium pink cantik lucu lengkap dengan pasir pink dan tanaman palsu dari Ace Hardware. Harganya 80ribuan saja. Udah komplit kan ini ya.. tinggal nyari ikannya.

Eh kog pas turun ke pameran bunga saya jatuh hati sama pot bunga yang lebih kelihatan mahal tapi harganya lebih murah? Jadilah pot bunga murah namun kelihatan mahal itu saya beli juga. Tadinya cuma mau punya satu ikan saja, ya ini kan lagi nyoba melihara. Kalau langsung melihara dua ikan, seperti baru nikah terus hamil dan dapat kembar. Shock saya. Tapi apa daya, akuarium pink udah dibeli namun pot bunga ini lucu sekali.  Jadi saat itu saya punya dua akuarium lucu yang minta diisi.

Setelah ada dua akuarium di kamar, saatnya beli ikan cupang di mamang pasar kaget. Yang mana setelah tiga kali kunjungan ke pasar kaget selalu berbuah belanja printilan lain bukannya ikan cupang karena mamangnya ga jualan-jualan. Ya ampun.. mau melihara ikan cupang aja kog halangannya gini amat ya? Ini mau melihara ikan cupang apa mau melihara adik-adik berondong sih? *drama*

Untunglah di kunjungan keempat saya dan mamang ikan cupang berjodoh. Sayapun berhasil membawa dua ekor ikan cupang. Tadinya sama suami, yang lagi dinas di Jakarta, disarankan untuk membeli yang betina juga sebagai teman hidup. Kasian ikannya kalau sendirian. Nanti stress. Ini suara hati ikan cupang apa curhatan suami ya? Namun karena yang betina biasa saja modelnya dan mamangnya ga mau ngasih diskonan (iya... rajam aku karena nawar sama pedagang-pedagang kecil ini) jadinya saya cuma  membeli dua ekor ikan cupang yang jantan. Threesome kita. Eh.

Masukin ke akuarium dan.... minggu pertama langsung ditinggal pulang ke bandung dua hari. Saya sih menitipkan kunci ke penjaga kostan. Minta ikannya dikasih makan dua kali sehari. Cuma ga minta airnya diganti. Mari kita buktikan kata-kata mamang ikan cupang itu, apakah ikannya kuat.

Hasilnya? Kuat dong ikannya.. cuma kog airnya keruh banget ya. Jadi sepertinya harus sering-sering ganti air.

Minggu kedua, ikan cupangnya terpaksa ditinggal seminggu karena saya dinas ke luar kota dan langsung balik bandung. Cuma kali ini saya lupa ninggalin kunci. Jadi selama seminggu ikannya ga dikasih makan. Nyiksa banget sayanya. *tertunduk malu*

Hasilnya? Satu ikan tewas. Satu lagi bertahan hidup.

Minggu ketiga. ikannya ditinggal pulang ke bandung dan saya lupa (lagi) nitipin kunci dan lupa ganti air. Biasanya sebelum ditinggal ke Bandung, air akuariumnya saya ganti dan saya kasih makan dulu. Tapi minggu ini lupa dan ga sempat balik ke kostan sebelum ke Bandung.

Hasilnya, ikannya bertahan hidup. Kece benar ikan satu ini.

Minggu keempat, pertengahan minggu ikan kedua ini pun tewas. Padahal dikasih makan tiap hari. Mungkin sebenarnya dia sudah lemas, sudah kritis. Terus pemiliknya bukannya jadi rajin ganti air malah tetap ganti air seminggu dua kali aja. Jadi aja dia  tewas. Mamang ikan cupang hanya bual belaka. Lhoh?! Tetap ya.. salah promosi si Mamang bukan salah pemilik yang malas-malasan.

Karena ikan cupang mati dua-duanya, saya ga berani laporan sama Tuan Suami. Nanti pasti dimarahin. Tukang nyiksa hewan. Jadi saya diam-diam saja. Cuma my hubby know me so well lah ya. Begitu saya ga pernah nyinggung tentang ikan cupang, beliau langsung nanya "Ikannya mati ya?" hahaha.. ketahuan deh.

Lalu mulailah pengarahan panjang kali lebar soal ga boleh melihara hewan lagi. Tadinya saya masih mau nyoba melihara ikan cupang sekali lagi, kegagalan itu kan hanya kesuksesan yang tertunda. Namun Tuan Suami langsung mengultimatum ga boleh punya peliharaan. Ya mari istri sholehah nurut perintah suami.

Jadi demikianlah, berakhir sudah petualang Capcai memelihara ikan cupang. Mari untuk mengusir sepi kembali berkutat dengan buku dan film saja. Atau melihara dedek-dedek lucu yang suka makan jagung? Eh.

Oh ya.. keinginan absurd berikutnya adalah SAYA PENGEN BANGET MAIN KE SEAWORLD. Tuh kan.. suka absurd. Penyakit gila no 33 penderita LDR. 

Capcai dan Cupang

28 October 2015 capcai bakar

Penyakit gila no 33 pasangan LDR adalah munculnya keinginan absurd yang tidak penting dan suka tidak dapat ditahan-tahan. 

Oh, ga perlu ditanya sama Mamak Ikal  apakah ini penyakit gila benaran atau karangan saya semata. Mamak ikal ga pernah LDR an. Beliau selalu bareng sama suaminya. Alhamdulillah ya.

Maka sekitar sebulanan kemarin saya terkena penyakit gila nomor 33 ini. Tiba-tiba saya sangat ingin punya peliharaan ikan cupang, satu aja. Pakai batu warna-warni, dan tumbuhan sebatang. Persis seperti gambar ini. Pengin banget. Penginnya itu yang sampai setiap hari kepikiran terus gitu.


Kenapa ikan cupang? Karena meski saya suka dengan perut gendut dan mata belok ikan mas koki, ikan mas koki itu manja. Perawatannya rumit. Dan... saya ini orang yang cuma mandi kalau mau pergi kerja dan orang yang suka malas cuci muka serta pakai krim malam. Gimana juga mau rajin bersihin akuarium demi ikan mas koki, rajin bersihin muka buat diri sendiri aja malas. 

Jadi setelah tanya jawab dengan penjual ikan cupang yang bilang ikan ini tahan seminggu ga dikasih makan dan tahan seminggu pula airnya ga diganti, saya pun kepincut. Pengen melihara ikan cupang. Banget. Titik.

Maka dimulailah petualangan Capcai mencari akurium lucu, batu cantik, dan tanaman palsu. Yang ternyata susah ya. Akuarium bagus dan menawan hati kog mahal sih? Kenapa sih hati ini cenderungnya sama barang-barang mahal tapi dompet ini maunya yang murah. Kalian gitu juga ga? *ditoyor hadirin*

Setelah mempertimbangkan penampilan yang agak memikat hati dan harga yang tak terlalu mencekek kantong, saya pun memilih akuarium pink cantik lucu lengkap dengan pasir pink dan tanaman palsu dari Ace Hardware. Harganya 80ribuan saja. Udah komplit kan ini ya.. tinggal nyari ikannya.

Eh kog pas turun ke pameran bunga saya jatuh hati sama pot bunga yang lebih kelihatan mahal tapi harganya lebih murah? Jadilah pot bunga murah namun kelihatan mahal itu saya beli juga. Tadinya cuma mau punya satu ikan saja, ya ini kan lagi nyoba melihara. Kalau langsung melihara dua ikan, seperti baru nikah terus hamil dan dapat kembar. Shock saya. Tapi apa daya, akuarium pink udah dibeli namun pot bunga ini lucu sekali.  Jadi saat itu saya punya dua akuarium lucu yang minta diisi.

Setelah ada dua akuarium di kamar, saatnya beli ikan cupang di mamang pasar kaget. Yang mana setelah tiga kali kunjungan ke pasar kaget selalu berbuah belanja printilan lain bukannya ikan cupang karena mamangnya ga jualan-jualan. Ya ampun.. mau melihara ikan cupang aja kog halangannya gini amat ya? Ini mau melihara ikan cupang apa mau melihara adik-adik berondong sih? *drama*

Untunglah di kunjungan keempat saya dan mamang ikan cupang berjodoh. Sayapun berhasil membawa dua ekor ikan cupang. Tadinya sama suami, yang lagi dinas di Jakarta, disarankan untuk membeli yang betina juga sebagai teman hidup. Kasian ikannya kalau sendirian. Nanti stress. Ini suara hati ikan cupang apa curhatan suami ya? Namun karena yang betina biasa saja modelnya dan mamangnya ga mau ngasih diskonan (iya... rajam aku karena nawar sama pedagang-pedagang kecil ini) jadinya saya cuma  membeli dua ekor ikan cupang yang jantan. Threesome kita. Eh.

Masukin ke akuarium dan.... minggu pertama langsung ditinggal pulang ke bandung dua hari. Saya sih menitipkan kunci ke penjaga kostan. Minta ikannya dikasih makan dua kali sehari. Cuma ga minta airnya diganti. Mari kita buktikan kata-kata mamang ikan cupang itu, apakah ikannya kuat.

Hasilnya? Kuat dong ikannya.. cuma kog airnya keruh banget ya. Jadi sepertinya harus sering-sering ganti air.

Minggu kedua, ikan cupangnya terpaksa ditinggal seminggu karena saya dinas ke luar kota dan langsung balik bandung. Cuma kali ini saya lupa ninggalin kunci. Jadi selama seminggu ikannya ga dikasih makan. Nyiksa banget sayanya. *tertunduk malu*

Hasilnya? Satu ikan tewas. Satu lagi bertahan hidup.

Minggu ketiga. ikannya ditinggal pulang ke bandung dan saya lupa (lagi) nitipin kunci dan lupa ganti air. Biasanya sebelum ditinggal ke Bandung, air akuariumnya saya ganti dan saya kasih makan dulu. Tapi minggu ini lupa dan ga sempat balik ke kostan sebelum ke Bandung.

Hasilnya, ikannya bertahan hidup. Kece benar ikan satu ini.

Minggu keempat, pertengahan minggu ikan kedua ini pun tewas. Padahal dikasih makan tiap hari. Mungkin sebenarnya dia sudah lemas, sudah kritis. Terus pemiliknya bukannya jadi rajin ganti air malah tetap ganti air seminggu dua kali aja. Jadi aja dia  tewas. Mamang ikan cupang hanya bual belaka. Lhoh?! Tetap ya.. salah promosi si Mamang bukan salah pemilik yang malas-malasan.

Karena ikan cupang mati dua-duanya, saya ga berani laporan sama Tuan Suami. Nanti pasti dimarahin. Tukang nyiksa hewan. Jadi saya diam-diam saja. Cuma my hubby know me so well lah ya. Begitu saya ga pernah nyinggung tentang ikan cupang, beliau langsung nanya "Ikannya mati ya?" hahaha.. ketahuan deh.

Lalu mulailah pengarahan panjang kali lebar soal ga boleh melihara hewan lagi. Tadinya saya masih mau nyoba melihara ikan cupang sekali lagi, kegagalan itu kan hanya kesuksesan yang tertunda. Namun Tuan Suami langsung mengultimatum ga boleh punya peliharaan. Ya mari istri sholehah nurut perintah suami.

Jadi demikianlah, berakhir sudah petualang Capcai memelihara ikan cupang. Mari untuk mengusir sepi kembali berkutat dengan buku dan film saja. Atau melihara dedek-dedek lucu yang suka makan jagung? Eh.

Oh ya.. keinginan absurd berikutnya adalah SAYA PENGEN BANGET MAIN KE SEAWORLD. Tuh kan.. suka absurd. Penyakit gila no 33 penderita LDR. 

26 October 2015

Pengobatan Bell's Palsy

26 October 2015 capcai bakar

Seperti yang tertulis di postingan yang ini, saat Tuan Suami menderita Bell's Palsy, kami -beliau ding, saya kan cuma kadang-kadang aja nemenin- hanya menempuh pengobatan alternatif. Salah duanya bekam dan akupuntur. Yuk mari diulas.

1. Bekam

Kalau mau nonton video step by stepnya silahkan klik ini
Bekam di Indonesia terkenal sebagai pengobatan yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW, padahal sebenarnya pengobatan ini sudah dipraktekkan jauh sebelum itu dan tidak di arab saja. Cuma karena masuk ke Indonesia lewat para pedagang Arab dan Gujarat (yang turut menyebarluaskan agama islam), pengobatan ini identik dengan pengobatan dalam islam. Dan cukup diagung-agungkan karena dinilai sesuai dengan sunnah Nabi. 

Saya? Sejujurnya menurut saya pengobatan alternatif ga masuk logika saya. *cium tangan sensei dan habib-habib ini* Ada alasan yang tepat kenapa dokter itu kuliahnya lama dan susah. Tapi namanya berusaha kan boleh saja, kita ga tahu jalannya kesembuhan itu dari mana. Yang penting pengobatan alternatif ini dikonfirmasi dengan pengobatan medis. 

Kalau kata terapisnya sudah sembuh, ya pergilah ke dokter. Cek. Udah sembuh beneran apa sembuh katanya saja. Kalau sudah mengikuti pengobatan dalam jangka waktu sebulan, ya periksa lagi ke dokter. Ada perkembangan yang bagus? Atau jangan-jangan malah memburuk. 

Oke kembali ke bekam. Sebelum terkena Bell's Palsy, Tuan Suami memang sudah pernah mencoba terapi bekam ini dan ngajakin saya. Saya sih males nyoba karena ga percaya. Jadi saat ia terkena Bell's Palsy suami juga langsung pergi ke tempat bekam ini. Saya pernah sekali (doang) nemenin suami terapi bekam, dan lumayan seram ya caranya. 

Jadi awal-awal pasien diminta membuka baju dan menggulung celana lalu rebahan di kasur. Setelah itu tubuh pasien akan dipukul-pukul dengan sapu lidi (apa sapu rotan?) dengan semangat. Gak papa.. setelahnya pasien akan dipijat-pijat kog. Mungkin ini agar aliran darahnya lancar. 

Setelah itu terapisnya akan mengeluarkan cup-cup kecil dan ditempelkan ke titik-titik tertentu di tubuh. Dengan semacam alat pompa, udara dalam cup ini dikeluarkan sehingga daging tubuh naik ke atas dan memerah. 

Setelah didiamkan beberapa saat, cupnya dilepas. Lalu terapis akan menusuk titik tersebut berulang-ulang dengan jarum kecil. Langkah ini sepertinya lumayan menyiksa karena suami saya mengaduh. Setelah ditusuk-tusuk, terapis akan mengulangi proses penempelan cup. Kali ini bedanya ada darah yang ikut keluar dan memenuhi cup bekam. Setelah beberapa saat cup dilepas dan darahnya dibersihkan. Selesai deh.  

Iya darah yang keluar kental seperti gel dan warnanya gelap. Apakah ini berarti darah Tuan Suami kental, banyak racun, dan mengakibatkan penyakit yang dia derita? Setahu saya sih darah yang keluar dari tubuh memang otomatis mengental, kalau ga mengental kan bahaya pas luka. Bisa-bisa ngocor terus. Warnanya yang lebih gelap juga karena terpapar udara kan ya. Jadi.. ya gitu lah. Hahahha

Terus kemarin bekamnya di mana? Di Bekam Ruqiyah Center di Jalan Suci. Jadi kalau dari Gasibu, dia ada di sebelah kiri jalan di Surapati Core, letaknya di belakang Radio Mora. Biayanya cuma Rp40.000,00. 

Saya juga sempat nyoba detoxnya, ya daripada disuruh bekam atau terapi lintah kan? Jadi pasien diminta menyelupkan tangan dan kaki ke air es yang sudah dicampur ramuan. Hasilnya? Itu Harry Potter dan Ron Weasley kog mau-maunya disuruh ngambil pedang di kolam es. Pengen mati ya? Ternyata air es itu dingin banget yaaaaa. Saya ga kuat. 

2. Akupuntur

Hasil googling-googling di google (ya nurut ngana di mana lagi. dikeplak!) ada beberapa klinik akupuntur di Bandung ya bisa menyembuhkan bells palsy.  Berikut klinik-klinik yang masuk short list kami.

dipilih karena lokasinya yang ada di kota, Jl. Braga no 44 dan prakteknya buka di hari Sabtu. Saat saya menelpon ke 08986189994, disarankan untuk datang sebelum jam 2 siang. Cuma karena hari itu ga kekejar, jadi kita pindah ke klinik berikutnya.

Niramaya Klinik (081 224 734 506/0819 100 20 235)
Lokasinya ada di Jalan Jakarta No 9. Prakteknya senin s.d sabtu(Yay! Weekend praktek!) mulai dari jam 3 sore. Sayangnya hari itu, dokternya ga ada jadi ga bisa akupuntur. Kalau untuk kecantikan sepertinya boleh dilakukan oleh terapisnya tapi karena ini bells palsy, pengobatannya harus sama dokternya langsung. 

Resepsionisnya baik, jadi dia meminta no telepon saya sehingga kalau sabtu depan dokternya ada bisa dikabari langsung. Cuma... karena jadwal dokternya ga cocok terus dengan kesibukan weekend keluarga kicik nan bahagia. Kamipun melipir ke dokter Bana.

Oh ya Selain kecantikan dan penyakit, klinik ini juga menerima pasien kesuburan. Kalau kesuburan dompet serta kesuburan sabar nerima ga dok?

Dokter Bana
foto diambil dari
http://budi-wibowo.com/periksa-ke-dokter-bana-akupuntur.html
Dokter Bana ini sepertinya salah satu dokter akupuntur yang terkenal di Bandung, karena antrian pasiennya Subhanallah. Panjang betul mak. Padahal sekali panggil, pasien yang masuk 5 orang. 

Pendaftaran pasien sudah dibuka dari jam 2 siang, padahal dokternya baru praktek mulai jam 4 sore. Jam 4 sore saya nekat datang ke Jl. Muhammad Toha no 129 (100 m dari PT Inti, seberang Honda Amarta). 

Nekat karena tentunya pasien lain sudah antri sebelum jam 2, jadinya saat dihitung-hitung oleh Bapak di bagian pendaftaran, kami kebagian jam 11 malam. Iya.. ga salah baca kog... kebagian masuknya jam 11 malam. Untungnya masih di hari yang sama, ga kebayang kalau baru kebagian esok harinya. Untungnya boleh ditinggal. Jadi setelah makan pempek enak depan Bank BCA, saya dan Tuan Suami memutuskan kembali ke kantor Suami.

Oh iya, pendaftarannya itu ada dua jalur, pendaftaran untuk akupuntur dan untuk suntik plus periksa karena dokter Bana juga dokter umum. 

Pukul setengah sebelas malam, kami kembali ke klinik dokter Bana. Laporan ke bapak di bagian pendaftaran kalau sudah ada di tempat. Ga pakai lama (di kliniknya) nama kami pun dipanggil beserta 3 pasien lainnya. Masuk ke bilik-bilik sebelum ditanyai dokternya. 


Saat tiba ke saya, dokternya menanyakan ada keluhan apa. Lalu dengan jujur saya cerita kalau yang sakit itu suami, tapi dia takut jadi saya nemenin aja. Terserahlah akupunturnya buat apa. Sambil ketawa dokternya bilang.. "Ya sudah jerawat saja ya." Padahal pengennya buat langsing. Eh. Haha. Saat ditusuk jarum sih biasa aja. Sakitan digigit semut malah. Selesai melihat saya ditusuk, sekarang giliran suami. Dan ya gitu sakitnya biasa aja. Nunggu sekitar 30 menitan sambil tidur, dokternya datang lagi dan nyabutin jarum-jarum tadi. 

Setelah itu kita konsultasi dan bayar Rp100.000/orang, sama dokter saya diresepkan obat jerawat yang bisa ditebus di toko obat di sebelah beliau. Yah.. ikut memakmurkan sekitar. Soalnya berkat praktek dokter Bana, tukang parkir dan pedagang makanan kan ikutan jadi laris manis. 

By the way, sambil konsultasi Tuan Suami sempat nanya-nanya.. 
"Ini bisa buat apa saja dok?"
"Apa aja bisa."
"Gedein dada bisa dok?"
sambil ketawa dokternya jawab "Gedein bisa, ngecilin bisa."
"Oh..." sambil senyum-senyum senang. Maksudnya selama ini kurang puas gitu?! *toyor!*
Terus karena ternyata klinik prakteknya dekat banget dengan kantor BPK Bandung sepertinya kalau dapat penempatan di Bandung saya bakal sering ke sini deh buat ngegedein. Daftar dari jam 12 juga rela. Hahaha. 

Selain praktek di Mohammad Toha, dr. Bana juga praktek di rumahnya di Jalan Pandawa no 72 ( 022 6073644) dari jam 6 s.d 9 pagi. Tapi cuma hari Senin, Selasa, Kamis, dan Jumat. Namun meski ada nomor teleponnya, dr. Bana tidak menerima pendaftaran dan konsultasi via telepon. Jadi ini nomornya buat apa ya? Saya juga bingung. 

Kalau yang di Mohammad Toha, pendaftarannya bisa via telepon di 022-5200604. Dan kalau hari rabu bukanya dari pukul 8 pagi. 

3. Terapi Hiperbaric

Pertama kali dengar terapi ini saat ketemu orang Kelautan dan Perikanan. Jadi awalnya terapi ini ditujukan untuk penyelam* yang terkena Decompression Sickness dan Emboli Gas Arteri (soal emboli gas arteri bisa dibaca di sini dan di sini). Namun seiring perkembangan jaman (duh.. bahasa eike) terapi ini juga digunakan untuk menjaga kebugaran dan.. wait for it.. keawetmudaan. Karena terapi yang melibatkan pemberian oksigen murni ini mempercepat regenerasi sel-sel tubuh. Maka, sel kulit pun kembali lentur, lebih halus, mengurangi kadar minyak, dan jerawat. Menggoda bukan emak-emak?!

Oleh dokter Kantor suami disarankan untuk melakukan terapi ini untuk membantu pemulihannya. 

Selain untuk penyakit menyelam, kebugaran dan keawetmudaan, terapi ini juga membantu:
  1. penyembuhan luka bermasalah (luka diabetes, gangren, atau luka bakar), keracunan karbonmonoksida, luka radiasi akibat radioterapi, trauma-trauma berat seperti crush injury, infeksi tulang, serta sebelum dan sesudah skin flap (operasi pengambilan jaringan kulit dari bagian tubuh lain).
  2. Gangguan pendengaran, seperti tuli mendadak (sudden deafness), tinnitus (telinga berdenging), vertigo, dan migrain. 
  3. Mengurangi kerontokan rambut.
  4. membantu pengobatan anak berkebutuhan khusus, seperti autisme.
Saya tertarik!!! Hahaha. Cuma hati-hati buat yang ada resiko kanker, takutnya sel kankernya malah semakin aktif. 

Di RSAL Mintoharjo Jakarta ada tiga sesi pengobatan, pukul 06.30 – 08.30 WIB, 08.30 – 10.30 WIB, dan pukul10.30 – 12.30 WIB. Kata bu dokter, kalau bisa datangnya pagi-pagi sekali. Dan.. ini yang sulit. Tapi pengen euy demi kebugaran dan keawetmudaan.

Biayanya lumayan sih, sekali terapi itu Rp300.000 di Mintoharjo, Rp350.000 di RS Jakarta. *pasang lilin*. Selain di RS Mintoharjo dan Jakarta terapi ini juga ada di  RS MMC, Dr. Ramelan, Surabaya;  RSAL Halong Ambarawa,; RSAL Midiato; RSP Balikpapan; RSP Cilacap; RSU Makasar; RSU Manado; RSU Sangla Denpasar; Diskes Koarmabar; Rumah Sakit Paru Jember, Jawa Timur. (sumber dari sini)



RS TNI AL Dr. MINTOHARDJO
Jl. Bendungan Hilir no. 17
Jakarta – Indonesia
Telp/Fax 021-5732221
Telp 021-5703081 Ext.176


*Kalau mau baca-baca beberapa penyakit yang bisa muncul karena menyelam bisa diklik di sini, penting buat yang mau belajar nyelam kayak saya, meski masih cita-cita melulu

Link lain buat baca-baca:

23 October 2015

Begini ya Adek-adek, ada masanya sebelum indovision merajalela dan sebelum film korea berseliweran dimana-mana, film vampir cina dan polisi india sudah mendominasi kotak tivi di rumah-rumah rakyat Indonesia. Di rumah saya salah-satunya. Oh.. selain sinetron Cinta nya Desi Ratnasari dan Primus tentu saja. 

Kakak saya penggemar film vampir cina. Saya sih tidak. Pertama karena jalan ceritanya itu-itu aja. Lompat-lompat. Tempel kertas and they are freeze. Lalu somehow kertasnya lepas dan vampirnya ngamuk lagi. Ini ngakunya ga suka tapi meuni hapal plotnya. Kedua, saya ga suka nonton film ini karena ini film hantu. Penakut dan film hantu itu ga cocok. Gak banget. 

Jadi apa lalu saya suka nonton film India? Nope. Kebanyakan nyanyi. Lama ah. Dan Amitabh Bachchan muda  ga cakep-cakep amat. Tapi semua itu berubah saat Kuch-Koch Hota Hai menyerang. Film ini legend banget di sekolah saya dulu. Semua anak pencinta Dawson's Creek nonton ini dong. Saya kan jadi penasaran. Dan beneran ya... filmnya menguras air mata banget. Ini bikin filmnya sambil ngupas bawang saya rasa. 

Sangking legendnya film ini, ada masanya rumah-rumah di medan muter soundtracknya keras-keras dan penghuninya hapal lirik lagu-lagunya. Hapal. See... mirip demam film korea kan ya. 

Semenjak itu saya ga terlalu antipati sama film India. Kalau ada film india yang jadi pembicaraan di mana-mana saya pasti berniat menontonnya. Beberapa yang saya bela-belain nonton adalah Kabhi Kushi Kabhie Gham, 3 Idiots, dan PK . Honestly saya cuma nonton ini aja. Yang lain ga. Kepengen sih nonton film india di Blitz, just for fun. Entah Suami Prohemer mau apa gak. Bwahahahaha. Suka kurang kerjaan emang. 

Tuan Suami kayaknya ga doyan film-film india deh, soalnya saya ga pernah didownloadin film-film india. Jendral Kancil juga sama aja. Saya pernah ngajakin dia nonton 3 Idiots, eh anaknya nolak dengan alasan "Banyak banget nyanyi-nyanyi ga jelasnya" Padahal sudah saya promosikan ini filmnya insightnya bagus. Tetap aja ga mau. Meski di akhir-akhir film anaknya ikutan nonton juga sambil sibuk nanya-nanya. Hahaha. 

Jadi yang belum pernah nonton film india, dicoba lah ya nonton film-film ini... lebih menguras air mata daripada "Always"nya Snape. Oh iya.. ini kode juga buat suami.. tolong didownloadin ya.. Kecup. Kecup.

Film India dan Capcai

23 October 2015 capcai bakar

Begini ya Adek-adek, ada masanya sebelum indovision merajalela dan sebelum film korea berseliweran dimana-mana, film vampir cina dan polisi india sudah mendominasi kotak tivi di rumah-rumah rakyat Indonesia. Di rumah saya salah-satunya. Oh.. selain sinetron Cinta nya Desi Ratnasari dan Primus tentu saja. 

Kakak saya penggemar film vampir cina. Saya sih tidak. Pertama karena jalan ceritanya itu-itu aja. Lompat-lompat. Tempel kertas and they are freeze. Lalu somehow kertasnya lepas dan vampirnya ngamuk lagi. Ini ngakunya ga suka tapi meuni hapal plotnya. Kedua, saya ga suka nonton film ini karena ini film hantu. Penakut dan film hantu itu ga cocok. Gak banget. 

Jadi apa lalu saya suka nonton film India? Nope. Kebanyakan nyanyi. Lama ah. Dan Amitabh Bachchan muda  ga cakep-cakep amat. Tapi semua itu berubah saat Kuch-Koch Hota Hai menyerang. Film ini legend banget di sekolah saya dulu. Semua anak pencinta Dawson's Creek nonton ini dong. Saya kan jadi penasaran. Dan beneran ya... filmnya menguras air mata banget. Ini bikin filmnya sambil ngupas bawang saya rasa. 

Sangking legendnya film ini, ada masanya rumah-rumah di medan muter soundtracknya keras-keras dan penghuninya hapal lirik lagu-lagunya. Hapal. See... mirip demam film korea kan ya. 

Semenjak itu saya ga terlalu antipati sama film India. Kalau ada film india yang jadi pembicaraan di mana-mana saya pasti berniat menontonnya. Beberapa yang saya bela-belain nonton adalah Kabhi Kushi Kabhie Gham, 3 Idiots, dan PK . Honestly saya cuma nonton ini aja. Yang lain ga. Kepengen sih nonton film india di Blitz, just for fun. Entah Suami Prohemer mau apa gak. Bwahahahaha. Suka kurang kerjaan emang. 

Tuan Suami kayaknya ga doyan film-film india deh, soalnya saya ga pernah didownloadin film-film india. Jendral Kancil juga sama aja. Saya pernah ngajakin dia nonton 3 Idiots, eh anaknya nolak dengan alasan "Banyak banget nyanyi-nyanyi ga jelasnya" Padahal sudah saya promosikan ini filmnya insightnya bagus. Tetap aja ga mau. Meski di akhir-akhir film anaknya ikutan nonton juga sambil sibuk nanya-nanya. Hahaha. 

Jadi yang belum pernah nonton film india, dicoba lah ya nonton film-film ini... lebih menguras air mata daripada "Always"nya Snape. Oh iya.. ini kode juga buat suami.. tolong didownloadin ya.. Kecup. Kecup.

21 October 2015

Karena meski sudah berusia tiga puluh tahun, saya masih merasa hidup ini kog biasa-biasa saja. Lalu berusaha mencari pembenaran apa sih yang sudah saya raih. Lalu menemukan artikel ini di thoughcatalog, 40 Important Milestones You Can Have In Your Life Besides Getting Married, mari kita lihat seberapa banyak yang sudah diriku berhasil capai. 

Pssst.. tapi menurut saya artikel ini cuma seru-seruan saja.. dont take it (too) seriously. 

  1. Signing a lease for an apartment that’s completely yours. Kostan diitung tak? Itung lah ya. It's completely mine kan ya. 
  2. Doing something that’s terrified you your entire life. Saya takut banget banget dengan ketinggian. Jadi harusnya ngambil bungee jumping or sky diving gitu.. but nope. Belum. Turun dari seluncuran kolam renang aja aku masih ga mau.
  3. Going through a painful breakup and refusing to let it drown you. I (alhamdulillah) am never going through a painful break up, and hope my mariage will last until death do us part. Tapi kalau melalui masa-masa suram saat bersama-sama merenda kasih ya pernah lah. Dan we are survived and getting stronger. Alhamdulillah. 
  4. Asking for a raise when you know you deserve it. PNS ieu.. PNS. Raise datang tanpa diminta (dan ga berdasarkan kinerja lah ya.)
  5. Giving money – that you don’t have quite enough of yet – to people or causes that need it. Check.
  6. Discovering or rediscovering spirituality in your life. Saya pernah bilang kan kalau tidak terlahir sebagai muslim saya mungkin akan menjadi atheis yang pada prinsipnya tidak mempercayai Supreme Being. Semua hal bisa dijelaskan dengan logika dan ilmu pengetahuan. Tapi untunglah saya lahir sebagai muslim dan bertemu suami yang sholeh. Kalau dulu banyak keyakinan dan kepercayaan suami yang bikin saya "Plis ah.. jangan ditelan bulat-bulat." sekarang sudah di tahap "Okelah." Dan somehow.. buat hidup lebih tenang ya. 
  7. Taking your parents on a vacation. Belum... doain ya mak! Umroh gitu aja kita rame-rame?
  8. . …Or even just out to dinner. Saya pernah ngajakin mama kencan berdua aja. Pijit-pijit cantik yang dilanjut makan. Terus pernah diajakin papa makan sushi. Meski dari awal saya tahu papa bakal ga doyan, we are talking a man who even doesnt like pizza, ya mari kita coba. Dan benar aja emang ga suka. Ga kemakan bahkan. Hahaha. I love date with them. Harus dipersering lagi.
  9. Reconnecting with an old friend that you’ve always regretted losing touch with. Mmm... ini belum. Baeklah. Mari dibikin list teman-temannya.
  10. Giving a heartfelt, well-written, meaningful speech as the Best Man or Maid of Honor at the wedding of someone who is very special to you. Di Indonesia apa ya yang mirip-mirip ini? Belum sih. Sepertinya mari dibikin postingan. 
  11. Accepting a job or promotion that pulls you out of your comfort zone and places you in a city or country where you barely know anyone. Belum.
  12. Buying or leasing a car completely on your own. Belum.. selama masih bisa naik angkutan umum.. why i need car for myself. (bilang aja ga berani nyetir..cibir pembaca)
  13. Reaching a point in your life where, even if you still care about your looks, you’re more concerned with your character, your choices, and the people you surround yourself with. Alhamdulillah.. iyes.
  14. Embarking on a journey to lose weight or get in shape, because you feel that it’s what your body truly needs to be healthier. Ongoing progress.. semoga istiqomah ya.. *tutup segala camilan yang ga sehat di kantor*
  15. The first time you solve a major problem in your life without seeking advice or approval from those around you. Major problem? Not yet. Eike masih meminta pendapat Tuan Suami.
  16. Making a huge physical change that you want, but aren’t quite ready for yet – a major haircut, a piercing, a tattoo, a hair color change, a wardrobe that you’ve always always felt was more “you,” etc. Belum... i want a piercing tapi mihil ya bok.. ratusan ribu aja selubangnya. Dan belum berani makai blazer neon buat ngajar. Padahal pengen.
  17. Deciding to go back and get your Masters if you feel that that’s the best thing for you to do at this moment in time.  I will! *pecut diri sendiri*
  18. Getting on your own health insurance plan. BPJS diitung ga? Hihi.
  19. Quitting a perfectly good job – not because it’s a challenge or it’s difficult, but because it makes you truly miserable and unhappy. Belum.. :(
  20.  …And quitting said job without telling or “asking” your parents first, because you’ve already figured out how you can budget out your savings until you find something else. Belum lah ya. Kalaupun saya keluar dari pekerjaan sekarang, rasanya ga mungkin kalau ga ngobrol terlebih dahulu dengan Mama Papa. Bukan soal dampaknya terhadap keuangan tapi lebih karena melepas pekerjaan mapan di tempat yang bagus. 
  21. The first holiday you spend with friends instead of family. sebagai pelaku LDM, hari libur adalah harta berharga yang inginnya hanya saya habiskan bersama keluarga. Thats why i never attend a wedding on weekend except it held at Bandung. Sampai suatu saat taman-teman SMP saya ngajakin reuni. Di Bandung sih.. tapi nginap. Jadi tetap mengurangi jatah waktu saya bersama keluarga. Sempat gegana (red: gelisah galau merana. Dangdut pisan.) sampai saya nekat memutuskan ikut reuni. And that one of my best decison. Love the reunion and the squad. 
  22. Getting to that age where you buy your own plane tickets home, instead of begging your parents to do so for you. Lah.. ini kan sudah jadi perantauan sejak kapan tahun ya.. mudik tahunan dan ditambah perjalanan dinas. Hihi. 
  23. Changing a tire by yourself on the side of the road, with no help. Belum. Dan semoga ga usah. Hahaha. 
  24. . …Or, if that would be a disaster, signing up for your own AAA membership.  Belum. Tapi sepertinya bakal memilih ini saja.
  25. Getting to the point where you make appointments on your own for things like physicals and dermatology check ups – with no insistence from your mother. Ngerasa perlu melakukan check up sih udah. Tapi... baru ala kadarnya. Bukan full med check gitu.
  26. Going on your first vacation with a significant other – paid for by you two and you two alone. Udah sih... lah secara kawinnya aja udah lama ya. Tapi liburan yang bukan mudik lebaran ini udah lamaaaaaa banget. Aku mau lagi.  
  27. Developing your own honest, genuine political beliefs. Not because you want to sound smart at parties, but because as you get older, you’re starting to become less naive and more concerned about important issues that your country faces.  Belum.. saya belum merasa politik itu menarik untuk diikuti dan diperdebatkan (sehingga memutuskan tali silahturahmi)
  28. Owning a piece of furniture in your place that wasn’t a giveaway from your parents, wasn’t found on the street, and wasn’t purchased at IKEA.  Sudah.. will write about it later.
  29. Having certain luxuries that you like to spend your hard-earned money on once in a while, like super soft bedsheets, or a massage, or a really delicious bottle of wine. Sudah.. dan banyak. Hahahaha. 
  30. . …And getting to the maturity level where you can tell the difference between treating yourself, and being financially reckless and irresponsible. Errrrr.. i can tell the difference and i knew it.. but i can resist the urge. Hahahaha.
  31. When you have people over for dinner – and it’s a meal you cooked by yourself.  Not yet. Gak pede saya. Kalau masak buat keluarga kicik nan bahagia ini saya pede. Kalau buat orang lain, belum pede. Ya suami kalau ga makan kan bakal dipelototin yes? 
  32. Finding out, and actually understanding, what the hell adeductible is. No... i even need google translate to understand what is adeductible. And.. secara eike PNS yang mana pajaknya nihil.. jadi ya.. ga perlu sih.
  33. Telling someone you love them without knowing for sure whether they love you back. Ke anak kicik sombong tapi kesayangan bunda masuk hitungan ga?
  34. Feeling genuinely happy when your friend hits a huge milestone, and learning to not worry about the small bout of jealousy or panic you feel over it. Yes.. bahkan saya terlecut. Sini kan anaknya panasan. Baru panik nyari beasiswa setelah melihat banyak temannya yang ngelanjutin sekolah ke Inggris. Panik aku.. panik. Kalau ga gitu santai-santai aja.  
  35. Getting on your own cell phone plan, and realizing that when you’ve overused your data, there are no more family arguments to be had. It’s just you and your credit card, paying the overage charges on your own. Eike ga pakai pasca bayar...
  36. Setting up a 401K, because you want to. Not because someone lectured you about the importance of it. Belum... Hiks. 
  37. Traveling to a city you’ve always wanted to explore, and paying for everything on your own dime. Belum.. hahaha. 
  38. Reaching an age where you know how to admit when you’re wrong. Errr... udah tahu sih.. tapi kadang-kadang (sering ding) males minta maafnya.
  39. Finding that one book that changes your life, even if it’s in the smallest way possible. Harry Potter termasuk? 
  40. Getting to a point in your life where you look at teenagers and college kids and think I’m so glad I’m not in that stage anymore, as opposed to I’d give anything to go back. Iyes.. masa-masa itu emang indah. Less responsibility. Less wories. Having fun and go crazy. Tapi Saya menikmati masa-masa ini kog.
Hasil akhir, Sudah tercapai 17 poin,  yang belum 19 poin, dan  ragu-ragu 4 poin. Masih banyak ya ceu yang belum, mostly financial things. Jadi ingat artikel 10 Things to Know about money Before You are 30.

Lalu... ini postingan blog apa daftar link buat artikel lain sih? Yah.. yang penting bisa ngobatin kangen kan. *smirk*

My Version of 40 Important Milestones You Can Have In Your Life Besides Getting Married

21 October 2015 capcai bakar

Karena meski sudah berusia tiga puluh tahun, saya masih merasa hidup ini kog biasa-biasa saja. Lalu berusaha mencari pembenaran apa sih yang sudah saya raih. Lalu menemukan artikel ini di thoughcatalog, 40 Important Milestones You Can Have In Your Life Besides Getting Married, mari kita lihat seberapa banyak yang sudah diriku berhasil capai. 

Pssst.. tapi menurut saya artikel ini cuma seru-seruan saja.. dont take it (too) seriously. 

  1. Signing a lease for an apartment that’s completely yours. Kostan diitung tak? Itung lah ya. It's completely mine kan ya. 
  2. Doing something that’s terrified you your entire life. Saya takut banget banget dengan ketinggian. Jadi harusnya ngambil bungee jumping or sky diving gitu.. but nope. Belum. Turun dari seluncuran kolam renang aja aku masih ga mau.
  3. Going through a painful breakup and refusing to let it drown you. I (alhamdulillah) am never going through a painful break up, and hope my mariage will last until death do us part. Tapi kalau melalui masa-masa suram saat bersama-sama merenda kasih ya pernah lah. Dan we are survived and getting stronger. Alhamdulillah. 
  4. Asking for a raise when you know you deserve it. PNS ieu.. PNS. Raise datang tanpa diminta (dan ga berdasarkan kinerja lah ya.)
  5. Giving money – that you don’t have quite enough of yet – to people or causes that need it. Check.
  6. Discovering or rediscovering spirituality in your life. Saya pernah bilang kan kalau tidak terlahir sebagai muslim saya mungkin akan menjadi atheis yang pada prinsipnya tidak mempercayai Supreme Being. Semua hal bisa dijelaskan dengan logika dan ilmu pengetahuan. Tapi untunglah saya lahir sebagai muslim dan bertemu suami yang sholeh. Kalau dulu banyak keyakinan dan kepercayaan suami yang bikin saya "Plis ah.. jangan ditelan bulat-bulat." sekarang sudah di tahap "Okelah." Dan somehow.. buat hidup lebih tenang ya. 
  7. Taking your parents on a vacation. Belum... doain ya mak! Umroh gitu aja kita rame-rame?
  8. . …Or even just out to dinner. Saya pernah ngajakin mama kencan berdua aja. Pijit-pijit cantik yang dilanjut makan. Terus pernah diajakin papa makan sushi. Meski dari awal saya tahu papa bakal ga doyan, we are talking a man who even doesnt like pizza, ya mari kita coba. Dan benar aja emang ga suka. Ga kemakan bahkan. Hahaha. I love date with them. Harus dipersering lagi.
  9. Reconnecting with an old friend that you’ve always regretted losing touch with. Mmm... ini belum. Baeklah. Mari dibikin list teman-temannya.
  10. Giving a heartfelt, well-written, meaningful speech as the Best Man or Maid of Honor at the wedding of someone who is very special to you. Di Indonesia apa ya yang mirip-mirip ini? Belum sih. Sepertinya mari dibikin postingan. 
  11. Accepting a job or promotion that pulls you out of your comfort zone and places you in a city or country where you barely know anyone. Belum.
  12. Buying or leasing a car completely on your own. Belum.. selama masih bisa naik angkutan umum.. why i need car for myself. (bilang aja ga berani nyetir..cibir pembaca)
  13. Reaching a point in your life where, even if you still care about your looks, you’re more concerned with your character, your choices, and the people you surround yourself with. Alhamdulillah.. iyes.
  14. Embarking on a journey to lose weight or get in shape, because you feel that it’s what your body truly needs to be healthier. Ongoing progress.. semoga istiqomah ya.. *tutup segala camilan yang ga sehat di kantor*
  15. The first time you solve a major problem in your life without seeking advice or approval from those around you. Major problem? Not yet. Eike masih meminta pendapat Tuan Suami.
  16. Making a huge physical change that you want, but aren’t quite ready for yet – a major haircut, a piercing, a tattoo, a hair color change, a wardrobe that you’ve always always felt was more “you,” etc. Belum... i want a piercing tapi mihil ya bok.. ratusan ribu aja selubangnya. Dan belum berani makai blazer neon buat ngajar. Padahal pengen.
  17. Deciding to go back and get your Masters if you feel that that’s the best thing for you to do at this moment in time.  I will! *pecut diri sendiri*
  18. Getting on your own health insurance plan. BPJS diitung ga? Hihi.
  19. Quitting a perfectly good job – not because it’s a challenge or it’s difficult, but because it makes you truly miserable and unhappy. Belum.. :(
  20.  …And quitting said job without telling or “asking” your parents first, because you’ve already figured out how you can budget out your savings until you find something else. Belum lah ya. Kalaupun saya keluar dari pekerjaan sekarang, rasanya ga mungkin kalau ga ngobrol terlebih dahulu dengan Mama Papa. Bukan soal dampaknya terhadap keuangan tapi lebih karena melepas pekerjaan mapan di tempat yang bagus. 
  21. The first holiday you spend with friends instead of family. sebagai pelaku LDM, hari libur adalah harta berharga yang inginnya hanya saya habiskan bersama keluarga. Thats why i never attend a wedding on weekend except it held at Bandung. Sampai suatu saat taman-teman SMP saya ngajakin reuni. Di Bandung sih.. tapi nginap. Jadi tetap mengurangi jatah waktu saya bersama keluarga. Sempat gegana (red: gelisah galau merana. Dangdut pisan.) sampai saya nekat memutuskan ikut reuni. And that one of my best decison. Love the reunion and the squad. 
  22. Getting to that age where you buy your own plane tickets home, instead of begging your parents to do so for you. Lah.. ini kan sudah jadi perantauan sejak kapan tahun ya.. mudik tahunan dan ditambah perjalanan dinas. Hihi. 
  23. Changing a tire by yourself on the side of the road, with no help. Belum. Dan semoga ga usah. Hahaha. 
  24. . …Or, if that would be a disaster, signing up for your own AAA membership.  Belum. Tapi sepertinya bakal memilih ini saja.
  25. Getting to the point where you make appointments on your own for things like physicals and dermatology check ups – with no insistence from your mother. Ngerasa perlu melakukan check up sih udah. Tapi... baru ala kadarnya. Bukan full med check gitu.
  26. Going on your first vacation with a significant other – paid for by you two and you two alone. Udah sih... lah secara kawinnya aja udah lama ya. Tapi liburan yang bukan mudik lebaran ini udah lamaaaaaa banget. Aku mau lagi.  
  27. Developing your own honest, genuine political beliefs. Not because you want to sound smart at parties, but because as you get older, you’re starting to become less naive and more concerned about important issues that your country faces.  Belum.. saya belum merasa politik itu menarik untuk diikuti dan diperdebatkan (sehingga memutuskan tali silahturahmi)
  28. Owning a piece of furniture in your place that wasn’t a giveaway from your parents, wasn’t found on the street, and wasn’t purchased at IKEA.  Sudah.. will write about it later.
  29. Having certain luxuries that you like to spend your hard-earned money on once in a while, like super soft bedsheets, or a massage, or a really delicious bottle of wine. Sudah.. dan banyak. Hahahaha. 
  30. . …And getting to the maturity level where you can tell the difference between treating yourself, and being financially reckless and irresponsible. Errrrr.. i can tell the difference and i knew it.. but i can resist the urge. Hahahaha.
  31. When you have people over for dinner – and it’s a meal you cooked by yourself.  Not yet. Gak pede saya. Kalau masak buat keluarga kicik nan bahagia ini saya pede. Kalau buat orang lain, belum pede. Ya suami kalau ga makan kan bakal dipelototin yes? 
  32. Finding out, and actually understanding, what the hell adeductible is. No... i even need google translate to understand what is adeductible. And.. secara eike PNS yang mana pajaknya nihil.. jadi ya.. ga perlu sih.
  33. Telling someone you love them without knowing for sure whether they love you back. Ke anak kicik sombong tapi kesayangan bunda masuk hitungan ga?
  34. Feeling genuinely happy when your friend hits a huge milestone, and learning to not worry about the small bout of jealousy or panic you feel over it. Yes.. bahkan saya terlecut. Sini kan anaknya panasan. Baru panik nyari beasiswa setelah melihat banyak temannya yang ngelanjutin sekolah ke Inggris. Panik aku.. panik. Kalau ga gitu santai-santai aja.  
  35. Getting on your own cell phone plan, and realizing that when you’ve overused your data, there are no more family arguments to be had. It’s just you and your credit card, paying the overage charges on your own. Eike ga pakai pasca bayar...
  36. Setting up a 401K, because you want to. Not because someone lectured you about the importance of it. Belum... Hiks. 
  37. Traveling to a city you’ve always wanted to explore, and paying for everything on your own dime. Belum.. hahaha. 
  38. Reaching an age where you know how to admit when you’re wrong. Errr... udah tahu sih.. tapi kadang-kadang (sering ding) males minta maafnya.
  39. Finding that one book that changes your life, even if it’s in the smallest way possible. Harry Potter termasuk? 
  40. Getting to a point in your life where you look at teenagers and college kids and think I’m so glad I’m not in that stage anymore, as opposed to I’d give anything to go back. Iyes.. masa-masa itu emang indah. Less responsibility. Less wories. Having fun and go crazy. Tapi Saya menikmati masa-masa ini kog.
Hasil akhir, Sudah tercapai 17 poin,  yang belum 19 poin, dan  ragu-ragu 4 poin. Masih banyak ya ceu yang belum, mostly financial things. Jadi ingat artikel 10 Things to Know about money Before You are 30.

Lalu... ini postingan blog apa daftar link buat artikel lain sih? Yah.. yang penting bisa ngobatin kangen kan. *smirk*

12 October 2015

30 Tahun!

12 October 2015 capcai bakar

Somewhen in August, Yeah i know its already October, i am turning 30! Ya ampun... udah tiga puluh aja. Udah bisa dipanggil tante sama dedek-dedek muda yang lucu. Harusnya peristiwa besar ya? Tapi diriku merasa biasa aja. Ga merasa jadi tua (itu sih denial, cibir pembaca). Dan ga merasa ada yang istimewa. Mungkin karena belum ngapain-ngapain eceuuuu. Belum berhasil membuat apa-apa juga. *lalu depresi*

Ulang tahun kemarin, dari lubuk hati, saya cuma ngarapin dikasih kue dari Tuan Suami. Secara baru aja dibeliin tivi buat di kostan sebagai pengganti tivi lama yang kalau mau nonton perjuangan banget mindahin posisi antenanya. Saya lelah mindahin antenanya tapi gambarnya ga bagus juga. Lalu saya memutuskan mendeportasi tivi lama ini ke Bandung. Biar dipakai buat nonton film pendek saja di kamar. 

Biar hidup ga sepi-sepi banget, saya mau membeli radio untuk menggantikan si tivi. Eh, sama Suami Prohemer malah dibeliin tv digital yang masih bisa ditonton dengan jernih meskipun pakai antena biasa. Iya sih bisa.. tapi cuma beberapa stasiun tivi yang memang sudah punya saluran digital. Net TV, my favorite.. stasiun baru jadi acaranya masih waras, ya gak bisa ditonton juga. Ya lumayan lah ya.. kepaksa nonton berita dan TVRI. Hahaha. 

Jadi karena sudah dibeliin tivi saya cuma ngarapin dikasih kue. Namun harapan menerima kue ini pupus karena sampai malam pun Tuan Suami masih ada di Bandung, ga di Jakarta. Saya maklum sih.. masa ninggalin kantor dan anak-anak cuma buat ngasih kue ke istri. Ya mending pesan online aja. Apalagi paginya beliau udah ngirim foto dengan ucapan selamat ulang tahun. Kalau mau ngasih kejutan biasanya dia pura-pura lupa. Ini kog ya udah ngucapin, berarti ya emang ga ada kejutan lagi pikir saya.

Tapi malam-malam (udah masuk dini hari keesokan harinya sih ya), Suami  muncul di kamar saya sambil ngebawain bento seven eleven dengan lilin yang ga mati-mati meski ditiup badai. Kenapa bento? Karena ga nemu penjual kue yang masih buka. Hahaha. Gak masalah suami.. Bentonya seven eleven ini enak kog dan istri tetap bahagia, didatangin dan bisa tidur pelukan sama dirimu.


Paginya saat saya mau berangkat kerja, suami minta diambilkan handphone di tasnya. dan saat tasnya dibuka.. ada silverqueen dan kantong goldmart dong... ya ampun romatis amat sik. Silverqueennya sih langsung habis saya makan. 

kiri dari suami.
Kanan Clutch batik dari Kakak tercinta. Dianter malam-malam ke kostan. 

Goldmartnya? Akhir bulan september, matanya hilang satu. Hiks. Ga sampai dua bulan, matanya hilang ga tau jatuh di mana. Aku sedih, now i feel you Kim!


Saya memang ga gitu akur sama perhiasan dari kecil. Mau kalung, cincin, atau anting sudah biasa jatuh dan hilang, padahal baru saja dibeli. Makanya dulu mama sampai membiarkan saya polos tanpa perhiasan karena sudah lelah melihat anaknya kembali dengan sebelah anting saja. Saat saya berkeluh kesah sama suami tentang kehilangan ini dan menyesali keputusan memakainya setiap hari, suami menjawab enteng "Kalau ga dipakai terus diapain? Dipajang? Ya dipakai lah." Lah.. dia yang ngebeliin aja santai, masa saya ga ikhlas sih. Jadi ya mencoba ikhlas.

Apalagi saat pergi ke Goldmart dan minta mereka memasang mata baru, suami saya malah sibuk nyari yang perhiasan yang matanya besar. Biar gampang dicari kalau jatuh lagi, ceunah. Saya cuma bisa menjawab, "Kalau yang jatuh kecil, nyeseknya cuma sebentar secara gantinya ga sampai berjuta-juta. Kalau yang besar gini hilang? Hadeuh.. gantinya puluhan juta. Nanti dulu... diriku masih trauma." Tetep ya... meski takut hilang tetap ga mau nolak kalau dikasih yang gede. Hahaha.

Terima kasih ya Suami, Kakak, dan anak tercintah. Thank you for loving me... *kecup sampai basah*

09 October 2015

Pilihan itu Di Kita

09 October 2015 capcai bakar


Suatu malam di sebuah Perwakilan. “Pak, bisa minta tolong dibukakan ruangan kantor?” ujar seorang pegawai yang kedua tangannya penuh memegang berbagai barang kepada petugas keamanan yang sedang berjaga di posnya. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Ia dan seorang temannya baru saja kembali dari acara kantor yang diselenggarakan di luar. “Saya ingin mengembalikan printer dan atk yang saya pinjam.” sambungnya lagi. 

Petugas keamanan tersebut menjawab dengan ramah kalau ia tidak memegang kunci ruangan sehingga tidak bisa membantu. “Kunci semua ruangan dipegang oleh masing-masing petugas cleaning service Pak.” jelasnya lagi.

“Oh, kalau begitu, printernya boleh saya titipkan di pos saja?” tanya pegawai tersebut lagi. “Tidak bisa Pak, takutnya hilang atau kenapa-kenapa. Nanti saya yang disalahkan.” 

Mendengar jawaban petugas keamanan tersebut, pegawai yang kelelahan itu lalu menanggapi dengan ketus, “Terus gimana Pak? Printernya saya bawa pulang ke Jakarta saja?” Iya ini pertanyaan retoris. Pegawai ini ditugaskan dari kantor pusat di Jakarta dan esok dini hari ia sudah harus mengejar pesawat pulang. Sehingga ia tidak dapat menyimpan peralatan kantor tersebut di kamarnya dan mengembalikannya saat ruangan sudah dibuka. 

“Ya ga gitu pak, nanti kalau disimpan di pos, kalau printernya hilang kan jadi tanggung jawab saya.” Sanggah petugas keamanan yang merasakan kekesalan lawan bicaranya ini. Untunglah sebelum keadaan tambah memanas salah seorang pegawai dari perwakilan yang menemani mereka mendekati lalu meminta kunci ruangan apapun yang dipegang petugas keamanan dan bisa digunakan untuk menyimpan printer, ATK serta peralatan lain. Petugas keamanan tersebut lalu memberikan kunci auditorium. 

Sambil berjalan ke auditorium, pegawai dari kantor pusat tersebut mengomel. “Petugas Keamanannya gimana sih Mas? Masa kunci kantor cuma dipegang cleaning service. Ga kekontrol dong siapa saja yang masuk. Nitip barang juga ga bisa, malah takut hilang. Kalau di bawah penjagaan bapaknya saja hilang, berarti ia tidak melaksanakan tugasnya dong.”  
“Sebenarnya kunci kantor dipegang masing-masing atasan Pak. Bukan sama cleaning service,” jelasnya “Itu karena disini sering kehilangan. Dan yang dicurigai sebagai pelaku ya salah satu oknum petugas keamanan. Makanya kunci kantor tidak dipegang mereka. Itu juga yang menyebabkan bapak tadi ga mau menerima titipan, kalau pergantian shift terus oknum satpam itu mengambil kesempatan kan bahaya. Nanti bisa saling tuduh dan ia yang ujung-ujungnya disalahkan” 

Mendengar penjelasan pegawai perwakilan tersebut, pegawai dari pusat ini menanggapi pelan, “Oh.. begitu.. saya jadi nyesal tadi marah-marah ke Bapaknya. Sampaikan salam dan permintaan maaf saya ya Mas.”

Saat mendengar kisah ini, saya jadi mendapati berbagai hikmah. Iya.. jadi orang ketiga itu memang enak. Bisa memandang persoalan dengan netral, tanpa terkontaminasi emosi sebagai pelaku.

Hikmah pertama, do your best. Ga semua orang tahu apa yang sedang kita hadapi. Apakah tadi di rumah anak kita rewel saat ditinggalkan, apakah listrik sudah berbunyi minta diisi padahal uang sedang dicari, apakah tadi saat berangkat ke kantor ban bocor, apakah tadi malam kita bertengkar hebat dengan pasangan, apakah tadi di kereta kita kecopetan dan ini sudah kedua kalinya dalam sebulan, atau apakah tadi kita butuh waktu sejam untuk memakai kerudung dan hasilnya masih ga bagus juga, apakah pekerjaan yang sedang kita kerjakan adalah pekerjaan orang lain yang dilimpahkan, dan masih banyak hal-hal lain yang memungkinkan mood kita buruk dan mensahkan kita bersikap judes atau seadanya ke sekitar.

Ga semua orang tahu penyebab kita berperilaku “seadanya”, berperilaku “secukupnya”. Padahal merekalah yang bersinggungan langsung dengan perilaku seadanya dan secukupnya kita itu. Lalu merekapun menilai kita berdasarkan interaksi sesaat tadi (yang apesnya terjadi saat mood senggol bacok sedang keluar).

Orangpun menilai lalu melabeli kita sebagai pribadi yang judes, tidak mau menolong, tidak mau bekerja, tidak bisa diajak komunikasi, dan sebagainya. Padahal sehari-hari kita pribadi yang ramah,  tempat curhat, rajin bekerja, senang menolong,  dan berbagai sisi positif lain yang disukai. 

Dan layaknya berita buruk, label buruk menyebar jauh lebih cepat daripada label baik. Maka terkenallah kita sebagai Fulan si Judes atau Fulanah si tukang ngeluh. Padahal itu terjadi sekali saja saat mood kita sedang tidak bagus. Sayang kan kalau sisi positif kita ga kelihatan hanya karena khilaf sesaat. Jadi do your best anytime anywhere to anyone. Meski baru saja terkena hujan badai petir menyambar, tetap pasang senyum semanis madu dan bersikap sebaik mungkin.

Petugas keamanan sudah berlaku ramah namun karena ia tidak dapat memberikan alternatif solusi yang menyenangkan untuknya dan untuk pegawai dari pusat tadi, lawan bicaranya kesal dan menganggap dia tidak mau bekerja. Kalau dari awal ia menyarankan untuk disimpan di tempat lain yang kuncinya dia pegang dan bisa ia jamin keamananya, tentu anggapan tersebut tidak muncul. Karena mana bisa pegawai pusat ini tahu kalau di situ sering kecurian sehingga ia enggan menyimpan barang di posnya.  

Hikmah kedua, be kind. Be kind, for everyone you meet is fighting a battle you know nothing about. Karena kita ga tahu apa yang sedang dihadapi orang lain, maka berbaik hati, berbaik sangka, dan bersikap baik lah kepada orang lain meski tingkahnya menyakiti mata dan hati. Manusia itu condong kepada kebaikan. Kalau ia berperilaku sebaliknya, itu pasti ada alasannya. Jadi berbaik sangka lah. Bersabarlah. Kalau kita sempat cari tahulah alasan mengapa ia berperilaku seperti itu sebelum menilai perilakunya. 

Al Quran saja menyatakan “Sesungguhnya prasangka tak memberimu sedikitpun kebenaran” (QS An Najm 28). Jadi saat suatu prasangka (prejudice) muncul di hati kita, jangan buru-buru meyakininya sebagai kebenaran sebelum melakukan konfirmasi.  Saat seseorang terlihat tidak mau membantu, terlihat judes, dan terlihat-terlihat lainnya, jangan buru-buru melabelinya seperti itu. Cari tahu!


Jeleknya prasangka buruk ini, saat kita mencap seseorang tidak helpfull, otomatis perilaku dan ucapan kita saat berinteraksi dengan orang tersebut sudah terkontaminasi prasangka tadi. Kitapun meyakini saat kita meminta bantuan, ia tidak akan mau melakukannya. Dan jadilah ia benar-benar tidak mau membantu. Padahal bukan karena ia tidak mau, tapi mungkin karena cara kita meminta bantuan atau kalimat kita saat meminta bantuan tidak menyenangkan.

Seandainya pegawai dari pusat ini mau berpikir baik bahwa ada alasan kuat yang menyebabkan petugas keamanan tersebut tidak bisa membantunya, tentu ia akan berusaha mencari jalan keluar lain.

Hikmah ketiga adalah, perilaku kita adalah hak  kita, reaksi orang adalah hak mereka. Artinya kita tidak dapat mengatur reaksi orang atas perilaku kita. Yang bisa kita atur adalah perilaku kita. Jadi boleh-boleh saja kita bertingkah seenaknya tapi jangan harap orang tidak membalas perbuatan kurang ajar kita, apalagi mengharapkan mereka mengerti dan memaklumi kenapa kita begitu.

Sebaliknya, perilaku orang adalah hak orang itu, reaksi kita adalah hak kita. Jadi mau semenyebalkan apapun seseorang, kita lah yang mengontrol reaksi kita. Apakah kita mau jadi orang yang sama menyebalkannya saat menghadapi dia atau menjadi orang yang kita harapkan?

Seandainya pegawai dari pusat ini tidak tersulut emosi namun memilih untuk bertanya alternatif solusi yang dimiliki petugas keamanan, tentunya ia tidak akan berkomentar yang menyakiti hati. Sudahlah nyakitin hati, komentarnya juga tidak memberikan solusi.


Jadi apa pilihan anda?