SLIDE1

Like capcai in here all things can be mix, put together, and absolutely delicious. Cause this is not common capcai. This capcai is burned out.

29 February 2016

Ngidam Sawo Dulu

29 February 2016 capcai bakar

Dulu.. waktu hamil Jendral Kancil saya ngidam sawo banget banget. Pengen banget makan sawo. Ini ga biasa... karena saya ga pernah suka sawo. Teksturnya lembek-lembek benyek gitu. Namanya ngidam, yang suka jadi ga suka banget. Yang ga suka jadi suka banget. 

Sayangnya masa itu nyari sawo susah. Saya dan Suami Prohemer sudah keliling kemana-mana tapi ga ketemu. Entah memang lagi ga musim atau kami yang ga tahu harus nyari ke mana.


Akhirnya setelah dicari berhari-hari, kami menemukan penjual buah sawo di pasar kaget Gasibu. Sangking leganya,Tuan Suami langsung beli sekilo dong. Misi menunaikan ngidam istri selesai. Begitu dapat, seingat saya, buahnya ga saya makan sama sekali... antara memang ga suka atau sudah lewat pengennya.

Mengingat susahnya nyari buah sawo saat saya hamil dulu, begitu punya rumah sendiri.. Tuan Suami sengaja menanam pohon sawo di halaman. Alasannya "Biar ga susah kalau kamu kepengen lagi."

Yang mana enggak. Hamil Captain Kid saya ga ngidam sawo. Namun setiap ngelihat buah sawo, Suami selalu cerita gimana dulu susahnya nyariin keinginan saya.

-----------

Yang Tuan Suami ga tahu adalah... 


Sebenarnya saya waktu itu kepengen makan buah kiwi banget banget. Iya.. kiwi. Bukan sawo.

Sebagai pasangan muda yang baru meniti rumah tangga, saya mikir-mikir kalau mau minta dicariin kiwi. Mahal. Hahaha. Masa-masa hamil Jendral Kancil, keuangan kami cukup banget. Cukup buat beli susu hamil yang selalu saya minum ketika cuma bisa makan indomie (karena uang udah abis padahal suami belum gajian). Cukup buat meriksa kandungan ke dokter sekali-sekali aja. Cukup buat beli peralatan bayi, setelah bayinya lahir. Pokoknya cukup. (Kan katanya rejeki ga ada yang kurang.. yang ada cukup dan berlebih.)

Jadi waktu itu rasanya kalau minta dibeliin kiwi yang mahal, saya nambah beban suami. Maka saya berpikir buah apa yang mirip kiwi tapi murah. Muncullah sawo di pikiran saya. Kiwi itu dua biji aja belasan ribu kan ya.. sementara sawo sekilo cuma lima ribuan.


Waktu saya ngasih tau Tuan Suami, baru-baru ini...setelah Jendral Kancil berumur 10 tahun, Tuan Suami cuma bilang..

"Kalau beliin kiwi aja, aku masih sanggup. Nyarinya juga lebih gampang daripada sawo."
Dan setelahnya.. ia membelikan saya buah kiwi. Mungkin biar isterinya ga penasaran. Makasih ya. I know you will grant all my wish. Meski harus bersusah-payah. Buat saya cukuplah yang susah itu ngebeliin kapal pesiar aja. *dikeplak mamah dedeh* Yang lainnya cukup diganti dengan pelukan sampai sesak napas, kecupan di mata, dan kata cinta ribuan kali. oh.. ples ridhonya aja ya Suami. Muahhh!! 

25 February 2016

Cerita Segelas Kopi: Lessons from Love, Life, and Loss Cerita Segelas Kopi: Lessons from Love, Life, and Loss by Melanie Subono
My rating: 1 of 5 stars

“Gue jarang kesel sama orang, sampai suatu hari, seorang wartawan yang kelar bertanya tentang hidup dan penyakit gue akhirnya menutup wawancara dengan satu pertanyaan yang membuat gue pengen ngamuk …

‘Mbak Mel,  kalo besok mati nih, mau diinget orang sebagai apa, Mbak? Apa yang udah Mbak lakukan selama ini?’

Dan untuk pertama kalinya dalam hidup gue, gue speechless dan kehilangan spontanitas gue menjawab pertanyaan. Dan sejak hari itu juga, dengan cara gue sendiri, gue berjanji akan menjadi orang yang berguna buat siapapun dalam apapun yang gue lakukan, dengan cara apapun yang gue mampu, baik musik maupun tulisan. Baik sebagai orang yang memberi motivasi, maupun kritik. And here I am.”
-------

Buku Cerita Segelas Kopi nya Melanie Subowo ini selesai saya baca kurang dalam sehari. Bukan karena bagus banget, tapi karena pengen cepat selesai dan pindah ke buku lain. Bukunya melelahkan.

Saya tahu banyak blog bagus dan inspiring yang dibukukan. Dan buku ini sepertinya banyak mengambil dari blognya penulis, yang dirasa menggugah. "Seperti" karena saya ga tau alamat blog mbaknya yang mana, beliau punya banyak. Dan yang di blogdetik archievenya (daftar tulisan) ga ada. Ya masa mau ditelusuri satu-satu. Tambah lelah nanti.

Kenapa baca bukunya berasa baca blog aja? Karena alur cerita antar satu bab ke bab lain ga ada, banyak ide yang diulang di beberapa tulisan...berkali-kali, dan terakhir saya kebingungan apa yang ingin disampaikan penulis di setiap artikelnya. Idenya banyak dan ga terarah. Apalagi sepertinya ditulis dalam kondisi emosi. Akhirnya yang seperti saya bilang tadi, membaca buku ini menguras energi. Berasa temenan sama orang yang marah-marah melulu.

Padahal isinya inspiring loh, tentang hak asasi, perempuan, pantang menyerah, cinta indonesia, dan banyak lagi. Seandainya penulis, editor, dan penerbitnya mau menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengatur artikel-artikelnya. Biar ada benang merah, ga terlalu melebar ke mana-mana, dan lebih terarah. Marah-marahnya gak masalah lah kalau memang gaya mbaknya

View all my reviews

Review: Cerita Segelas Kopi: Lessons from Love, Life, and Loss

25 February 2016 capcai bakar

Cerita Segelas Kopi: Lessons from Love, Life, and Loss Cerita Segelas Kopi: Lessons from Love, Life, and Loss by Melanie Subono
My rating: 1 of 5 stars

“Gue jarang kesel sama orang, sampai suatu hari, seorang wartawan yang kelar bertanya tentang hidup dan penyakit gue akhirnya menutup wawancara dengan satu pertanyaan yang membuat gue pengen ngamuk …

‘Mbak Mel,  kalo besok mati nih, mau diinget orang sebagai apa, Mbak? Apa yang udah Mbak lakukan selama ini?’

Dan untuk pertama kalinya dalam hidup gue, gue speechless dan kehilangan spontanitas gue menjawab pertanyaan. Dan sejak hari itu juga, dengan cara gue sendiri, gue berjanji akan menjadi orang yang berguna buat siapapun dalam apapun yang gue lakukan, dengan cara apapun yang gue mampu, baik musik maupun tulisan. Baik sebagai orang yang memberi motivasi, maupun kritik. And here I am.”
-------

Buku Cerita Segelas Kopi nya Melanie Subowo ini selesai saya baca kurang dalam sehari. Bukan karena bagus banget, tapi karena pengen cepat selesai dan pindah ke buku lain. Bukunya melelahkan.

Saya tahu banyak blog bagus dan inspiring yang dibukukan. Dan buku ini sepertinya banyak mengambil dari blognya penulis, yang dirasa menggugah. "Seperti" karena saya ga tau alamat blog mbaknya yang mana, beliau punya banyak. Dan yang di blogdetik archievenya (daftar tulisan) ga ada. Ya masa mau ditelusuri satu-satu. Tambah lelah nanti.

Kenapa baca bukunya berasa baca blog aja? Karena alur cerita antar satu bab ke bab lain ga ada, banyak ide yang diulang di beberapa tulisan...berkali-kali, dan terakhir saya kebingungan apa yang ingin disampaikan penulis di setiap artikelnya. Idenya banyak dan ga terarah. Apalagi sepertinya ditulis dalam kondisi emosi. Akhirnya yang seperti saya bilang tadi, membaca buku ini menguras energi. Berasa temenan sama orang yang marah-marah melulu.

Padahal isinya inspiring loh, tentang hak asasi, perempuan, pantang menyerah, cinta indonesia, dan banyak lagi. Seandainya penulis, editor, dan penerbitnya mau menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengatur artikel-artikelnya. Biar ada benang merah, ga terlalu melebar ke mana-mana, dan lebih terarah. Marah-marahnya gak masalah lah kalau memang gaya mbaknya

View all my reviews
Crying 100 Times Crying 100 Times by Kō Nakamura
My rating: 0 of 5 stars

“To love, to honor. To cherish, to help. Until death do us apart.”

Waktu itu, kami sedang memperbaiki sepeda motor tuaku. Waktu itu, ia memintaku untuk menjenguk Book, anjing tua kesayanganku yang sekarat. Dari dulu, Book sangat menyukai suara mesin motorku.

Waktu itu, Aku melamarnya. Waktu itu aku merasa aku adalah pria paling bahagia di dunia. Aku kira, kebahagiaan ini tidak akan berakhir. Tapi...

-------

Dulu saya pernah bikin janji sendiri kalau mau baca buku-buku ringan seperti ini saya ga akan membeli terjemahannya. Pertama karena kadang-kadang terjemahannya kurang klik di hati dan kedua biar ga terlalu merasa bersalah setelah menghabiskan waktu untuk baca novel cinta-cintaan, saya bisa beralasan ini untuk latihan bahasa inggris. :p

Cuma, ada masanya saya bosen baca novel sambil buka kamus. Capekan buka kamusnya. Jadi saya memutuskan beralih ke novel korea.. soalnya ga mungkin beli yang bahasa korea kan? Saya belum bisa bahasa korea.

Iya.. saya pikir ini novel korea. Saya baru sadar ini novel jepang setelah membacanya agak jauh. Kog datar ya? Efisien banget novelnya. Ga seperti novel korea yang lucu, romatis berlebih, dan bikin banjir air mata. Ternyata memang novel jepang. Hahaha.

Novelnya efesien. Mungkin karena penulisnya lelaki dan orang jepang. Ga ada penggambaran rasa cinta berlebihan atau rasa sedih yang menyayat hati lalu bikin pembaca ikut berurai air mata.

Datar tapi bagus. Saya suka karena berhasil bikin penasaran. "Judulnya Crying 100 Times, kapan nih tragedinya muncul" begitu terus pikiran saya saat membacanya. Saya juga penasaran sama kisah anjingnya, yang mana cuma jadi mukadimah aja. I want more Book!

Cuma saya jadi punya gambaran bagaimana lelaki menghadapi kejadian yang menyedihkan. Harus tetap kerja, tetap tegar, meski hati gundah gulana.

So, do i recomended it? Ya baca aja. Lumayan kalau lagi nunggu-nunggu pesawat atau lagi di pesawat dan pesawatnya ga nyediain in flight entertainment. Kenapa pesawat? Karena baca ini ga bakalan nangis dan diliatin penumpang lain. :D


View all my reviews

Review: Crying 100 Times


Crying 100 Times Crying 100 Times by Kō Nakamura
My rating: 0 of 5 stars

“To love, to honor. To cherish, to help. Until death do us apart.”

Waktu itu, kami sedang memperbaiki sepeda motor tuaku. Waktu itu, ia memintaku untuk menjenguk Book, anjing tua kesayanganku yang sekarat. Dari dulu, Book sangat menyukai suara mesin motorku.

Waktu itu, Aku melamarnya. Waktu itu aku merasa aku adalah pria paling bahagia di dunia. Aku kira, kebahagiaan ini tidak akan berakhir. Tapi...

-------

Dulu saya pernah bikin janji sendiri kalau mau baca buku-buku ringan seperti ini saya ga akan membeli terjemahannya. Pertama karena kadang-kadang terjemahannya kurang klik di hati dan kedua biar ga terlalu merasa bersalah setelah menghabiskan waktu untuk baca novel cinta-cintaan, saya bisa beralasan ini untuk latihan bahasa inggris. :p

Cuma, ada masanya saya bosen baca novel sambil buka kamus. Capekan buka kamusnya. Jadi saya memutuskan beralih ke novel korea.. soalnya ga mungkin beli yang bahasa korea kan? Saya belum bisa bahasa korea.

Iya.. saya pikir ini novel korea. Saya baru sadar ini novel jepang setelah membacanya agak jauh. Kog datar ya? Efisien banget novelnya. Ga seperti novel korea yang lucu, romatis berlebih, dan bikin banjir air mata. Ternyata memang novel jepang. Hahaha.

Novelnya efesien. Mungkin karena penulisnya lelaki dan orang jepang. Ga ada penggambaran rasa cinta berlebihan atau rasa sedih yang menyayat hati lalu bikin pembaca ikut berurai air mata.

Datar tapi bagus. Saya suka karena berhasil bikin penasaran. "Judulnya Crying 100 Times, kapan nih tragedinya muncul" begitu terus pikiran saya saat membacanya. Saya juga penasaran sama kisah anjingnya, yang mana cuma jadi mukadimah aja. I want more Book!

Cuma saya jadi punya gambaran bagaimana lelaki menghadapi kejadian yang menyedihkan. Harus tetap kerja, tetap tegar, meski hati gundah gulana.

So, do i recomended it? Ya baca aja. Lumayan kalau lagi nunggu-nunggu pesawat atau lagi di pesawat dan pesawatnya ga nyediain in flight entertainment. Kenapa pesawat? Karena baca ini ga bakalan nangis dan diliatin penumpang lain. :D


View all my reviews

19 February 2016

Baca-baca twitter yang lagi ramai (ga ramai sih.. yang bahas paling seakun dua akun) soal pencabulan remaja oleh artis. Terus ada yang komentar "Lakik gimana bisa dicabuli sih... kan tinggal gebuk aja."

Saya... prihatin. *i love you pak es be ye*

Prinsip saya, kalau kita ga pernah di posisi orang itu kita ga akan tahu gimana rasanya. Ga akan tahu. Kita cuma bisa berasumsi.

Jadi, kalian pernah dicabuli? Pernah dilecehkan sampai tahu "Lu harusnya bisa ngelawan. Lu harusnya ga dicabuli. Lu bisa teriak. Bisa kabur." Sampai bisa komen begitu?

Let me tell you how it is feel.

When it happen, otak lu berhenti bekerja. Lu kaget. Lu ga tahu harus ngapain. Everything move in slow motion. Saat lu sadar lu harus ngelakuin sesuatu, lu harus teriak biar ada yang bantu. Suara lu hilang. Lu berusaha keras ngeluarin suara tapi ga ada yang keluar dari mulut lu. Mungkin sama kayak pas ngeliat hantu atau ngeliat perampok lagi beraksi.

Iya lu kaget. Karena lu ga mengharapkan itu terjadi. Lu ga nyangka orang itu akan berani, akan tega, atau kepikiran buat melecehkan lu.

Lu juga takut. Secara suara ga ada. Otak ga bisa mikir. Dan biasanya pelakunya orang yang lebih powerfull daripada korban. Entah lebih gede, lebih tua, lebih punya jabatan, atau lebih kuat aja. Terus gimana?

Metode orang melawan stres itu cuma dua. Fight or flight.  Lu bisa ngelawan. Atau lari. Mana yang terjadi biasanya karena kebiasaan aja. Insting. Insting itu dilatih. Karena itu anak-anak harus diajarin bela diri. Jadi kalau ada yang macam-macam, instingnya otomatis langsung masuk mode "fight." Badannya langsung gerak untuk melawan, meski otaknya ga bisa mikir. Orang dewasa juga harus berulang kali belajar metode self defense. Dan melatihnya biar badan ga lupa.

Kalau ga? Ya lu cuma bisa kabur serta berharap ga disusul pelaku.

Jadi... kalau ada pencabulan atau pemerkosaan atau pelecehan, ga usahlah nyalahin korban. Entah dia lelaki. Entah dia perempuan. (S)He already in pain Nyai... Yang salah itu pelaku.

Kog Bisa?

19 February 2016 capcai bakar

Baca-baca twitter yang lagi ramai (ga ramai sih.. yang bahas paling seakun dua akun) soal pencabulan remaja oleh artis. Terus ada yang komentar "Lakik gimana bisa dicabuli sih... kan tinggal gebuk aja."

Saya... prihatin. *i love you pak es be ye*

Prinsip saya, kalau kita ga pernah di posisi orang itu kita ga akan tahu gimana rasanya. Ga akan tahu. Kita cuma bisa berasumsi.

Jadi, kalian pernah dicabuli? Pernah dilecehkan sampai tahu "Lu harusnya bisa ngelawan. Lu harusnya ga dicabuli. Lu bisa teriak. Bisa kabur." Sampai bisa komen begitu?

Let me tell you how it is feel.

When it happen, otak lu berhenti bekerja. Lu kaget. Lu ga tahu harus ngapain. Everything move in slow motion. Saat lu sadar lu harus ngelakuin sesuatu, lu harus teriak biar ada yang bantu. Suara lu hilang. Lu berusaha keras ngeluarin suara tapi ga ada yang keluar dari mulut lu. Mungkin sama kayak pas ngeliat hantu atau ngeliat perampok lagi beraksi.

Iya lu kaget. Karena lu ga mengharapkan itu terjadi. Lu ga nyangka orang itu akan berani, akan tega, atau kepikiran buat melecehkan lu.

Lu juga takut. Secara suara ga ada. Otak ga bisa mikir. Dan biasanya pelakunya orang yang lebih powerfull daripada korban. Entah lebih gede, lebih tua, lebih punya jabatan, atau lebih kuat aja. Terus gimana?

Metode orang melawan stres itu cuma dua. Fight or flight.  Lu bisa ngelawan. Atau lari. Mana yang terjadi biasanya karena kebiasaan aja. Insting. Insting itu dilatih. Karena itu anak-anak harus diajarin bela diri. Jadi kalau ada yang macam-macam, instingnya otomatis langsung masuk mode "fight." Badannya langsung gerak untuk melawan, meski otaknya ga bisa mikir. Orang dewasa juga harus berulang kali belajar metode self defense. Dan melatihnya biar badan ga lupa.

Kalau ga? Ya lu cuma bisa kabur serta berharap ga disusul pelaku.

Jadi... kalau ada pencabulan atau pemerkosaan atau pelecehan, ga usahlah nyalahin korban. Entah dia lelaki. Entah dia perempuan. (S)He already in pain Nyai... Yang salah itu pelaku.

18 February 2016

Penemuan Baru

18 February 2016 capcai bakar

Saya suka roti. Suka banget. Jadi rasanya kalau harus diet no karbo dan ga boleh makan roti atau mie saya bakal judes setengah mati. Roti kesukaan saya itu yang dipanggang terus pakai isian coklat dan keju. Jadi coklat dan kejunya melting-melting belepotan gitu. Keju doang juga suka... asal makannya sama yang manis. Kayak Suami Prohemer, ganteng manis nan gagah gitu. Iya ini lagi kangen berat.

Karena belum punya panggangan roti (iya ini kode Suami), saya suka beli roti sandwichnya Sari Roti. Rotinya lembut ga pakai pinggiran, coklatnya cair, keju susunya juga cair dan banyak. Enak. Banget. Sayangnya dia ga punya varian coklat -keju. Adanya coklat aja. Keju aja. Kacang aja. Blueberry aja. Srikaya aja.

Karena ga ada varian coklat-keju, saya harus memilih mau makan roti coklat atau roti keju. Ini dilema *dikeplak menkominfo yang lagi galau mau nutup tumblr atau ga* Setelah melakukan percobaan beberapa kali *dilempar mikroskop sama ilmuwan* saya berkesimpulan bahwa roti sandwich rasa keju lah yang memberikan tingkat kepuasan paling tinggi buat saya. Cheese to the win.

Setelah sekian lama berpuas diri dengan makan yang rasa keju aja, suatu hari saya menemukan sesuatu yang baru. Yang mengejutkan.

Waktu itu saya lagi duduk-duduk sholehah di mesjid Salman ITB dan melihat seorang lelaki muda *ukhti... jaga pandangan ukhti* sedang memakan roti sandwich sari roti, wait for it, dua biji yang ditumpuk jadi satu. Rotinya ditumpuk jadi satu! Jadi satu sodara-sodara!!

Saya langsung tercerahkan. Ini revolusioner. Ini solusi atas problem saya. Saya bisa makan roti coklat dan keju dengan cara ini. Anak ITB.. kalian luar biasa!!

iya makannya di tempat tidur. :p

Maka saya mulai melakukan pengujian atas solusi ini. Pengujian pertama kog rasanya ga enak ya. Saya kecewa. Tapi seseorang tidak dikatakan peneliti kalau berhenti di percobaan pertama. Maka saya mencoba lagi. Kali ini posisi rotinya saya ubah. Coklat di atas. Ga enak. Coklat di bawah, ga enak juga. Menurut saya metode gabung ini menghilangkan rasa kejunya. Coklatnya terlalu dominan. Kejunya ilang. Me not like lah.

Mungkin baru enak kalau ditambah roti keju lagi di atasnya. Cuma.. ya ampunnnn lapar pisan Neng sampai makan roti 3 sekaligus?

Jadi saya kembali saya ke makan roti keju sama yang ganteng manis dan gagah itu.

Conan diambil semena-mena dari Bukabuku. Miiko dari ignya Ono Eriko. Semena-mena juga.

Penemuan baru lainnya adalah.. komik mikko 28 dan conan 87 udah keluar dong. Akhirnyaaaa setelah sekian lama yaaa. Cuma Miikonya premium edition yang harganya 55ribu aja (pssst.. kalau di bukabuku cuma 44ribu loh. di rumah buku sepertinya lebih murah) . Ini seharga novel loh. Ih. Meski berbonus pounch. Tapi tetap ih ah. Cuma ya tetap dibeli. Bwhahaha. *pilinpilin ujung baju*  Terus saya baru tau pounchnya ada beraneka ragam. Kemarin di gramedia kalibata cuma ada yang ijo gambar miiko kecil-kecil. Saya pengen yang gambar miiko gede juga. *dipelototin suami* hahaha.

Saya baru punya yang no 3 dari kiri. Pengen yang ujung kanan juga. Hihi.

Oke.. sekian updatean penting ga penting ini. Daripada kangen saya kan? Kan? *balik sibuk lagi*

03 February 2016

Pukul 8 pagi ini saya dihubungi Jendral Kancil. Ia baru bangun padahal sekolah sudah dimulai setengah jam yang lalu. Saya langsung marah.

Saya mengomeli Jendral Kancil. Dia sudah kelas empat dan setiap pertemuan orang tua murid dan guru, gurunya mengingatkan manajemen waktu Jendral Kancil. Ia sering terlambat sehingga tidak sempat mengikuti hapalan quran yang berujung hapalannya tertinggal dibandingkan teman-temannya. Padahal sudah dibangunkan saya (lewat telepon) dan ayahnya pukul setengah tujuh.

Saya paham, ayahnya tidur lagi setelah membangunkan Jendral Kancil karena malamnya lembur dan menjaga Captain Kid. Apalagi tadi malam dapat laporan Captain Kid ngamuk-ngamuk. Suami saya baru bisa tidur (meski sudah mengantuk) setelah lewat pukul 2 dini hari. Setiap hari. Jadi wajar ia tidur lagi setelah membangunkan Jendral Kancil. Ia harus cukup segar untuk bisa menyetir dan mengantar anak kami.

Kenapa lembur? Karena siangnya harus menjaga Captain Kid. Sudah seminggu ini pengasuh kami sakit. Dan kalaupun pengasuh kami tidak sakit, pekerjaan suami sebagai pemilik perusahaan menyita banyak waktu. Ibarat punya bayi seorang lagi.

Karena itu saya menuntut Jendral Kancil lah yang harus bisa mengurus dirinya dan bisa mengatur waktunya sendiri. Tidur lebih cepat. Segera mandi begitu dibangunkan, sehingga tidak sempat ngantuk lagi. Saya marah karena ia tidak bisa mengatur dirinya.

Padahal, seringkali Jendral Kancil tidak bisa segera tidur karena masih di kantor Ayah, nungguin ayah selesai kerja dan pulang. Sampai di rumah dia juga masih memaksakan diri biar bisa main dulu dengan ayah dan adek.

Padahal kalau emaknya ada di sana, anaknya bisa segera pulang begitu selesai sekolah dan bisa main dulu. Kalau emaknya ada di sana, pasti bisa tanpa henti ngomelin biar tidur lebih cepat dan segera bangun. Jadi tadi saya marah ke siapa? Ke Jendral Kancil atau ke diri sendiri yang menuntut terlalu tinggi kepada anak? 

Menuntut anak saya lebih cepat dewasa, menuntut ia mampu mengurus keperluan sekolah sendiri, meminta ia mampu mengerjakan tugas sendiri, menuntut ia bisa memutuskan tugas apa yang dikumpulkan ke sekolah, dll. Padahal itu seharusnya tugas saya. Tugas saya, ibunya.

Saya pernah kaget waktu tahu Jendral Kancil memutuskan menunda mengumpulkan tugas karena ia perlu koneksi internet dan printer. Ia menunggu sampai bisa ke kantor Ayahnya. Padahal kalau cerita ke kami, kami pasti memberikan tethering internet dan pergi ke tukang fotokopian untuk mencetak tugasnya. Tapi anaknya tidak bercerita dan memutuskan sendiri. Saya jadi sedih. Iya anak saya mandiri tapi bukankah anak-anak harusnya tidak dipusingkan hal-hal begini ya.. tugas saya sebagai orang tua yang pusing-pusing.

Kalau sudah begini, saya cuma bisa meminta sama Allah, tolong kumpulkan kami bersama jika itu yang terbaik buat kami. Saya tidak tahu caranya, sepertinya mustahil. Tapi engkau Maha Tahu, engkaulah sebaik-baiknya perencana. Jika engkau mengijinkan maka apapun bisa terjadi. Tolong ya Rahman ya Rahim.

Marah ke Siapa?

03 February 2016 capcai bakar

Pukul 8 pagi ini saya dihubungi Jendral Kancil. Ia baru bangun padahal sekolah sudah dimulai setengah jam yang lalu. Saya langsung marah.

Saya mengomeli Jendral Kancil. Dia sudah kelas empat dan setiap pertemuan orang tua murid dan guru, gurunya mengingatkan manajemen waktu Jendral Kancil. Ia sering terlambat sehingga tidak sempat mengikuti hapalan quran yang berujung hapalannya tertinggal dibandingkan teman-temannya. Padahal sudah dibangunkan saya (lewat telepon) dan ayahnya pukul setengah tujuh.

Saya paham, ayahnya tidur lagi setelah membangunkan Jendral Kancil karena malamnya lembur dan menjaga Captain Kid. Apalagi tadi malam dapat laporan Captain Kid ngamuk-ngamuk. Suami saya baru bisa tidur (meski sudah mengantuk) setelah lewat pukul 2 dini hari. Setiap hari. Jadi wajar ia tidur lagi setelah membangunkan Jendral Kancil. Ia harus cukup segar untuk bisa menyetir dan mengantar anak kami.

Kenapa lembur? Karena siangnya harus menjaga Captain Kid. Sudah seminggu ini pengasuh kami sakit. Dan kalaupun pengasuh kami tidak sakit, pekerjaan suami sebagai pemilik perusahaan menyita banyak waktu. Ibarat punya bayi seorang lagi.

Karena itu saya menuntut Jendral Kancil lah yang harus bisa mengurus dirinya dan bisa mengatur waktunya sendiri. Tidur lebih cepat. Segera mandi begitu dibangunkan, sehingga tidak sempat ngantuk lagi. Saya marah karena ia tidak bisa mengatur dirinya.

Padahal, seringkali Jendral Kancil tidak bisa segera tidur karena masih di kantor Ayah, nungguin ayah selesai kerja dan pulang. Sampai di rumah dia juga masih memaksakan diri biar bisa main dulu dengan ayah dan adek.

Padahal kalau emaknya ada di sana, anaknya bisa segera pulang begitu selesai sekolah dan bisa main dulu. Kalau emaknya ada di sana, pasti bisa tanpa henti ngomelin biar tidur lebih cepat dan segera bangun. Jadi tadi saya marah ke siapa? Ke Jendral Kancil atau ke diri sendiri yang menuntut terlalu tinggi kepada anak? 

Menuntut anak saya lebih cepat dewasa, menuntut ia mampu mengurus keperluan sekolah sendiri, meminta ia mampu mengerjakan tugas sendiri, menuntut ia bisa memutuskan tugas apa yang dikumpulkan ke sekolah, dll. Padahal itu seharusnya tugas saya. Tugas saya, ibunya.

Saya pernah kaget waktu tahu Jendral Kancil memutuskan menunda mengumpulkan tugas karena ia perlu koneksi internet dan printer. Ia menunggu sampai bisa ke kantor Ayahnya. Padahal kalau cerita ke kami, kami pasti memberikan tethering internet dan pergi ke tukang fotokopian untuk mencetak tugasnya. Tapi anaknya tidak bercerita dan memutuskan sendiri. Saya jadi sedih. Iya anak saya mandiri tapi bukankah anak-anak harusnya tidak dipusingkan hal-hal begini ya.. tugas saya sebagai orang tua yang pusing-pusing.

Kalau sudah begini, saya cuma bisa meminta sama Allah, tolong kumpulkan kami bersama jika itu yang terbaik buat kami. Saya tidak tahu caranya, sepertinya mustahil. Tapi engkau Maha Tahu, engkaulah sebaik-baiknya perencana. Jika engkau mengijinkan maka apapun bisa terjadi. Tolong ya Rahman ya Rahim.

01 February 2016

Donor Darah dan Mie Instan

01 February 2016 capcai bakar

Hari ini saya kejebak hujan di mall. *lalu ditoyor pembaca. kejebak kog di mall.* Sambil menunggu hujan reda jadi bisa balik ke kantor saya melipir ke acara donor darah yang diadakan di mall.

Pertama kali donor darah itu waktu jaman kuliah tingkat akhir. Saya dan teman-teman memutuskan main ke PMI Bandung. Tadinya mau ngambil PMI Bandung sebagai bahan skripsi. Entah kenapa malah memutuskan donor darah dan memilih pabrik air mineral sebagai objek penelitiannya. 

Lulus kuliah dan kerja di Jakarta, saya ikut donor darah lagi di acara kantor. Kalau donor darah di kantor enak deh, makanannya prasmanan catering gitu. Ada apetizer, main course, dan dessert. Goodie bagnya juga lumayan. Mewah lah. Secara disponsori kantor ya. Cuma setelah ga di kantor pusat lagi, saya jarang-jarang bisa ikut donor darah. Malas jalannya. Bentrok Jadwalnya.  Ga tau ada acaranya. 

Makanya gitu tadi kejebak hujan di mall dan ada acara donor darah langsung semangat, ini musti konspirasi semesta. Dan seperti biasa ya... kartu donornya ga dibawa. Jadi setiap donor saya pasti bawa pulang kartu baru. Hahaha. 

Tapi ga usah khawatir database PMI udah online dong. Begitu menyerahkan formulir pendaftaran, petugasnya ngetak-ngetik di laptop lalu muncullah nomor donor dan frekuensi saya mendonorkan darah. Ternyata lima tahun di Jakarta saya baru menyumbangkan darah tiga kali saja di kota ini. Yang di luar Jakarta belum dihitung karena datanya belum terintegrasi. Nanti maunya PMI bisa terintegrasi seluruh Indonesia. Semoga ya. Semoga juga kartunya bisa kaya kartu atm gitu. Jadi mudah dibawa-bawa di dompet. 

Begitu selesai mendonorkan darah, karena hujan sudah berhenti, sayapun buru-buru bangkit dan kembali ke kantor. Hasilnya? Di tengah jalan kepala saya muter. Pusing banget. Dibawa tidur di kantor pun masih ga selesai pusingnya. Akhirnya memutuskan minum susu dan makan pop mie yang dikasih PMI. Selesai makan saya lumayan bisa pura-pura kerja. 

Jadi, kalau menurut YLKI mie instan itu tidak ada nilai gizinya, kenapa PMI memberikan mie instan kepada pendonornya? *sodorin mike ke YLKI dan PMI* Hahaha.