SLIDE1

Like capcai in here all things can be mix, put together, and absolutely delicious. Cause this is not common capcai. This capcai is burned out.

16 August 2016

Capcai 30 Sekian. Lupa.

16 August 2016 capcai bakar


Nah kalau kali ini yang ultah saya, tapi sungguh... saya lupa ulang tahun ke berapa. Udah ga ngitung kali ya. Jadi suka beberapa kali pas ke rumah sakit dan ditanya umurnya berapa saya harus ngitung dulu. Pokoknya tiga puluhan sekian deh. Entah tiga puluh berapa. Hahaha.

Terus ulang tahunnya ngapain?

Ga ngapain-ngapain sih. Ga makan ke luar. Ga beli kue juga. Karena, capek habis dari Jakarta dan.. keuangan lagi ngepas, ngepas banget. Bwahahha. Iya nih.. persiapan road2UK nya butuh biaya banyak. Banyaknya sih buat ngurus-ngurus kesehatan sebelum anak-anak dan Tuan Suami dibawa. Bolak-balik ke dokter, berbagai macam dokter. Beli-beli buat keperluan di sana malah belum. Bismillah aja. 

Lalu seperti biasa yang ngucapin mama, papa, adek, kakak, sahabat-sahabat dari kecil, dan Jendral Kancil. Tapi tahun ini nambah dapat ucapan dari pacarnya si adek. Bwahahha. 

Karena ga ada kue, dan mungkin kasian sama istri, Tuan Suami eksperimen malam-malam bikin kue pas saya lagi tidur. Bahan-bahan yang mau dibikin buat pisang goreng, sama beliau diubah jadi bahan kue. Terus karena ga tau di mana mentega dan (mungkin) menghemat telur, kuenya ga pakai mentega dan telur. Saya dibangunin pas mau manggang karena ga ketemu cetakan kue di mana. Hahahhaa.

Kuenya jadi? Jadi sih.. tapi keras kata suami. Menurut suami ini kue gagal. Jadi beliau memutuskan membeli martabak telur dan es krim. Kata saya sih kuenya masih kemakan. Habis juga dimakan saya dan Captain Kid. Soalnya saya dan Captain Kid lidahnya sama, apapun yang pakai coklat pasti enak. Hahaha. 

Suami eike manis kannnn... secara istrinya aja bikin kue kalau kesambet. Bikinin suami kue uang tahun aja belum pernah. Terlalu emang. 

Lalu itu Jendral Kancil diapain? Dijadiin kado kata Suami. Bwhahaha. Makasih ya. Kalian emang kado buat saya. Orang-orang sabar sama emak yang suka ngambek ga jelas dan ngomel panjang lebar. Muahhh!!! 


15 August 2016

TB Certificate untuk Visa UK

15 August 2016 capcai bakar

Setelah punya paspor harus ngurus apa nih? Visa dong ya. Nah, untuk memperoleh visa UK ada syarat sertifikat bebas TB. Jadi mari diurus sertifikat bebas TBnya sebelum menjadwalkan wawancara visa. Bikinnya gimana?

Kedutaan Inggris hanya menerima sertifikat bebas TB dari beberapa Rumah Sakit saja. Di Jakarta, Rumah sakit yang ditunjuk ada dua, yaitu RS Premier Jatinegara dan RS Premier Bintaro. Selain di Jakarta ada di mana lagi? Cuma ada di Bali dan Surabaya. Karena ongkos ke Bali dan Surabaya tidak diganti, maka sayapun memilih RS Premier Jatinegara.

Kog Jatinegara? Karena dari Bandung bisa turun di stasiun Jatinegara kalau naik kereta api. Ini alasannya ga kuat sih. Soalnya kalau mau ke Bintaro tinggal naik travel Cititrans dari Bandung. Terus pulangnya bisa makan burger Blenger. Sejujurnya, waktu itu saya ga kepikiran aja. Mikirnya karena bawa anak-anak, enakan naik kereta api, jadi pilih Jatinegara aja lah. 

Padahal kalau di Jatinegara itu sistemnya first come first serve. Jadi kalau ga mau kelamaan ngantri, harus datang pagi-pagi. Siangan dikit? Ya lama ngantri rontgennya. Sedangkan di Bintaro, sistemnya kita dapat slot jam sekian. Jadi ga perlu datang pagi-pagi banget. Datang pas jam jadwal kita periksa aja. 

Terus di kedua rumah sakit ini, ga bisa dadakan datang. Harus daftar dulu. Jadi begitu punya perkiraan kapan paspor biru saya selesai, saya langsung mendaftarkan diri ke RS Premier Jatinegara. Kog nunggu paspor biru? Soalnya harus membawa paspor yang akan digunakan. Kalau pakainya paspor hijau, ya cukup paspor hijau aja. 

Sebenarnya janjiannya juga ga perlu jauh-jauh hari banget. Dua atau tiga hari sebelum jadwal yang diinginkan, masih ada slot kosong kog. Kalau mau daakan juga bisa. Jadi bikin janji hari ini untuk besok. Setelah janjian, perlu dokumen apa saja?
  1. Paspor asli yang akan digunakan untuk berangkat
  2. KTP asli
  3. Pasfoto berwarna ukuran 4x6 2 lembar. RS Premier Jatinegara mensyaratkan latar belakangnya harus biru. Kalau Bintaro, yang penting berwarna. Terserah warna apa saja. Psst.. kata perawat Jatinegara, kalau kebetulan ga bawa.. ya ga masalah. Masa disuruh pulang lagi. 
  4. Kalau pernah rontgen paru sebelumnya, silahkan dibawa. => yang mana ga ditanyai sama dokternya juga. (--')
Kalau mau bawa keluarga aka dependent gimana? Buat suami/istri dan anak berusia di atas 11 tahun dokumen yang diperlukan sama saja. Tesnya boleh ga barengan. Tapi kalau berangkatnya sama-sama, hasil tes baru dikeluarkan kalau semuanya (yang mau berangkat) sudah tes juga.  

Kalau dependantnya anak kecil yang belum berusia 11 tahun? Cukup tes kesehatan saja. Jadi ga perlu dirontgen. Jendral Kancil yang 10,5 tahun juga ga dirontgen. Dokumennya?
  1. Paspor asli yang akan digunakan untuk berangkat
  2. Pasfoto berwarna ukuran 4x6 2 lembar. 
  3. Akte kelahiran
  4. Buku imunisasi. 
Cerita sedikit ya, saat tes kesehatan buat anak-anak ini, dokternya cuma nanya apakah imunisasi wajib anak-anak saya lengkap? Dokternya tidak meminta saya menunjukkan buku imunisasi. Padahal saya kan mau mamer... kalau imunisasi yang tidak wajibpun lengkap kog. Bwahahaha. Gagal mamer deh. 

Kalau lagi hamil? Syaratnya tinggal ditambah surat persetujuan untuk dirontgen oleh dokter kandungan, surat persetujuan ini juga harus mencantumkan usia kehamilan. Kalau dokternya ga setuju gimana? Ya cari dokter yang setuju. Ihik. 

Eh emangnya bisa dokter kandunganya ga setuju? Kenapa?

Ya bisalah. Jadi hasil baca-baca di internet, rontgen yang dilakukan pada trimester kedua ataupun ketiga relatif tidak memberikan dampak apapun karena masa pembentukan janin sudah lewat dan dosis radiasinya sangaaaat kecil, namun tetap saja ada kemungkinan efek samping di masa depan. Logikanya sih, anak dibawah 11 tahun saja tidak dirontgen apalagi bayi dalam kandungan. Sehingga jika tidak diperlukan rontgen ya gak usah dilakukan, tunggu setelah melahirkan saja. 

Terus kalau kepaksa bagaimana? Ada dua cara sih. Pertama, anda bisa meminta Sputum Test saja atau tes dahak. Anda akan diminta RS mengumpulkan dahak pagi hari sebelum makan. Pengumpulan dahak dilakukan di rumah sakit selama tiga hari. Selanjutnya dahak akan dibiakan di laboratorium selama tiga bulan (apa dua bulan, saya lupa).  Jadi kalau memilih cara ini, persiapkan jangka waktu yang lumayan panjang sebelum keberangkatan.

Kedua, anda bisa meminta dokter kandungan menuliskan surat persetujuan yang menyatakan kalau rontgen boleh dilakukan dengan perisai tambahan. Kalau perlu perisainya dobel. Iya, perisai atau apron buat menutupi kandungannya didobel. Di RS Premier Jatinegara bisa minta perisai/shield dobel. 

Kalau sekiranya dokter kandungan selama ini belum memberikan surat persetujuan, silahkan meminta surat persetujuan ke dokter kandungan di RS Premier. Siap-siap biaya tambahan ya.. mahal euy dokternya. (ujar anak bandung yang biasanya cuma menghabiskan Rp150rb di RS Santosa, lalu kaget pas lihat tagihan dokter kandungan di RS Premier Rp500rb lebih aja.)

Oke, dokumen yang diperlukan sudah. Sekarang hari H-nya. 
  1. Lakukan pendaftaran ulang di gedung MCU. Jangan kebalik.. saya malah nunggu antrian di gedung rawat inap. Jadi aja lama. 
  2. Naik ke lantai 7. Berikan paspor, KTP, dan foto kepada bagian pendaftaran. 
  3. Anda akan diberikan formulir data pribadi yang harus diisi. 
  4. Draft sertiffikat diberikan oleh RS untuk dikoreksi. Pastikan nama, no paspor, dan alamat sudah benar. 
  5. Menunggu panggilan rontgen. Kalau anak-anak menunggu diperiksa dokter.
  6. Dirontgen/diperiksa.
  7. Bayar Rp690ribu untuk rontgen. Untuk anak-anak cukup Rp330ribu saja. Terima debit dan kredit. 
  8. Pulang.
Hasilnya kalau bagus, bisa diambil keesokan harinya, kecuali hari minggu. Kalau tidak dihubungi rumah sakit, berarti hasil tesnya bagus. Kalau dihubungi? Harus tes sputum dulu sebelum sertifikat dikeluarkan. 

Apalagi ya? Oh, sertifikat bebas TB ini berlaku selama 6 bulan. Jadi sesuaikan dengan jadwal wawancara visa ya. 

Lalu karena sertifikatnya sehari jadi, begitu paspor biru selesai, silahkan daftar untuk wawancara visa. Ga perlu nunggu sertifikat TB (kalau yakin bebas TB ya) karena pas daftar wawancara visa, sertifikatnya ga diminta. Sertifikatnya baru dibutuhkan saat wawancara. 

Kalau bawa anak-anak persiapkan makanan berat, snack, dan minuman. Soalnya lamaaaaa. Saya kemarin cuma bawa snack aja. Alhasil anak-anak kelaparan dan ga sabar nunggu. Galon ada sih, gelasnya ga ada. Jadi boleh banget bawa tupperware kosong. Mainan, buku cerita, dan buku mewarnai juga boleh banget dibawa. Nunggunya ngebosenin.  

Tes TB dari web UKVI

Artikel tentang rontgen paru saat hamil

10 August 2016

Captain Kid Tiga Tahun!

10 August 2016 capcai bakar

Jadi akhir Juli kemariiiiin, anak kicik si Captain Kid ulang tahun dan sama emak belum diposting aja dong. Emak macam apa ini. Jadi di ulang tahun ketiga ini ga ada perayaan apa-apa sih. Hahhaa. 

Nak kalau kamu baca, ga ada perayaan ini bukan karena emak bapak kurang sayangnya. Tapi karena, yah Adek belum ngerti juga sih. Terus kalau mainan dan kue-kue cantik itu, kita sering beli. Ga usah nunggu adek ultah juga dibeli. Kog kakak dulu dirayain? Euforia anak pertama ya Nak. Bwahahha. Ampunnnnn. 

sekarang kalau makan duduknya di atas meja dong!

Jadi pas Captain Kid ulang tahun, emak harus ngajak Suami Prohemer dan Jendaral Kancil ke lab buat foto gigi. Selesai nungguin kakak dan Ayah foto, kita makan di Carnivor. Ga dalam rangka makan mewah buat ulang tahun anaknya sih, tapi simply karena laper aja dan tempat makan yang dekat ya Carnivor ini. 

Selesai makan, kita jalan kaki ke Jonas. Mau foto buat visa. Kebayang  ga sih, udah seharian keluar rumah, jalan becek-becek, selesai makan pulak.. itu anaknya difoto meuni kucel banget. Banget. Tapi keajaiban kamera ya.. ga bersisa kucelnya. Hahaha. 

Waktu jalan kaki ke Jonas itu, Jendral Kancil sempat ngomong 
"Adek ulang tahun kog ga diajak senang-senang sih Bunda. Naik mobil, bus, atau kereta api kesukaan Adek. Ini malah diajak jalan kaki ke mana-mana."

Dan kita jawabnya apa saudara-saudara?
"Adek itu asal dibawa jalan aja udah senang Kak. Ga ngeluh capek. Bahagia aja."
Lah iya.. itu anaknya ketawa-ketawa aja. Jalan kaki sambil main-main, minta diseret Aybun atau diayun-ayun. 

Terus udah bisa apa? Udah bisa loncat! Ya ampun.. akhirnya bisa loncat yang beneran kedua kakinya ngawang gitu loh. Udah bisa ngitung one to ten. Manggil bundanya "Midaaaaaa" dan sudahlah kita sahkan saja panggilan Mida ini karena panggilan Bunda udah banyak. 

Bablingnya banyak banget. Tapi ya masih belum jelas ngomong apa. Kalaupun jelas ya baru satu kata aja. Misalnya "minum", "iis" buat pipis, " udah", "susu", "truck", "bus", "mam", "meong", "tut tut...", "brum.. brum.." 

Iya.. udah telat. Saya juga sudah mulai memikirkan  membawa Captain Kid ke dokter tumbuh kembang. Kecurigaan kita sih, karena emang jarang diajak ngobrol, terus bahasa yang dikenali itu bahasa inggris, bahasa indonesia. Cuma dua bahasa tapi anaknya nonton film doraemon dalam bahasa jepang, terus suka dengarin applikasi yang ngenalin benda-benda dalam bahasa polandia. Hahaha. Sama kita settingannya bahasa inggris. Anaknya yang ngubah-ngubah sendiri jadi berbagai bahasa. Yang paling dia suka ya bahasa Polandia. Jadi mungkin ini jadi alasan anaknya bingung pakai bahasa apa, lalu memutuskan pakai suara bendanya aja. Toh suara kucing di semua bahasa kan miaw.. miaw...

Sekarang sih lagi suka-sukanya niru suara yang dia dengar. Kalau diputarin video klip lagu-lagu, nyanyinya semangat banget. Suaranya kencang ples pakai acara loncat-loncat. Kemarin malah niru "O Shit!" setelah nonton film orang gede sama kita. *tutup muka*

Yang lainnya gimana? Senyumnya masih bikin hati hangat. Setiap lihat senyum Captain Kid pasti langsung senang. Ngambeknya masih. Kalau dilarang pasti langsung tiduran di lantai ga peduli lagi di jalan, di mall, atau di rumah. Cuma ya ga pakai nangis dan mau langsung bangkit begitu diminta. Kalau dimarahin ya langsung nangis. Masih suka berantem sama kakak. Kalau mau sama-sama baca buku atau liat gadget, sengaja banget posisinya nutupin pandangan kakak. Kakaknya sih kadang-kadang tabah, kadang-kadang balas jahil.

Masih doyan main air. Sekarang karena udah sampai ke bak cuci piring kalau pakai kursi, suka minta nyuci piring. Emaknya tutup mata dan melipir ke kamar aja kalau udah begitu. Soalnya pasti becek dan berantakan. Pernah saya lupa nyingkiran sayuran yang udah dipotong... balik-balik sayurannya udah di tempat cuci piring semua. Hahahaha *ketawa sedih*

Semoga sehat terus ya dek. Jadi anak sholeh kebanggan Ayah Bunda. Jadi penyelamat ayah bunda di akhirat. Semoga tambah pintar, baik rupanya, baik hatinya, lancar rizkinya, tercapai cita-cita Adek, dimudahkan urusannya, dikuatkan diri Adek. Semoga adek selalu dalam lindungan Allah, didekatkan kepada orang-orang baik, dicintai oleh siapapun yang melihat adek, dan dijauhkan dari orang jahat. Terus.... akur-akur sama Kakak ya. Kakaknya disayang, jangan dijudesin terus tiap mau meluk adek. Love you. 

08 August 2016

Membuat Paspor Biru

08 August 2016 capcai bakar

Tadinya mau bikin kisah-kisah di label sedang mencari beasiswa ini berurutan. Mulai dari tes TPA, TOEFL, IELTS, bikin surat rekomendasi dosen dan atasan, bikin surat motivasi, daftar kampus, dll. Cuma, kalau nunggu berurutan takutnya malah ga ketulis apapun. Hahaha. Jadi ini sambil jalan ya. Sambil saya ngurus-ngurus, sambil nulis. Yang lainnya diselap-selip ya.


Jadi kalau mau berangkat ke luar negeri itu perlu paspor kan ya? Sebagai aparatur negara saya bisa berangkat dengan paspor dinas yang berwarna biru itu. "Bisa" dalam arti, kalau mau pakai paspor hijau juga boleh kog. Ga harus pakai paspor biru. Lalu ngapain bikin paspor biru? Soalnya dengar selentingan kalau ga pakai paspor biru, nanti penyesuaian ijazah pas pulangnya susah. Tapi katanya ga juga sih, sekarang cuma butuh surat ijin setneg aja. Nah.. karena waktunya buru-buru, daripada kenapa kenapa saya sih milih bikin aja. Ga rugi ini kog, secara kalau pakai paspor biru katanya bisa bebas visa ke beberapa negara. Salah satunya Prancis. Hohoho. Ya ampun.. ini info apa sih kog kebanyakan katanya. *salamin pembaca*

Di kantor saya syarat membuat paspor biru adalah sebagai berikut, pssst.. tiap instansi beda-beda ya syaratnya. Silahkan ditanyakan ke bagian yang berkaitan dengan perjalanan dinas luar negeri masing-masing, :

A. Kelengkapan ke Setneg:
  1. Letter of Acceptance (unconditional) dari kampus
  2. Surat Ijin Belajar (SIB) dari SDM
  3. Surat Perjanjian dan pernyataan yang di ttd Karo SDM
  4. Fotokopi TOEFL/IELTS
  5. Daftar Riwayat Hidup (DRH) yang didownload dari SISDM
  6. Letter of Guarantee dari pemberi beasiswa
  7. Nota Persetujuan (khusus SPIRIT)
B. Syarat Pengurusan Paspor Dinas
  1. Pasfoto 4x6 sebanyak 6 lembar
  2. fotokopi SK PNS, Karpeg, dan name tag kantor yang dilegalisir Biro SDM, 2 eksemplar
  3. DRH Paspor yang ditandatangani Kabag PM 2 eksemplar
  4. Paspor lama jika masa berlakunya habis
  5. Fotokopi KTP
Dokumen lengkapnya bisa didownload di sini ya. 

Oke, sekarang mari dibahas satu persatu ya berdasarkan urutan saya ngurusnya.

Fotokopi TOEFL/IELTS dan KTP. Ini mah tinggal fotokopi aja kan ya. Gampang. Ga perlu dikasih tau caranya kan ya.. Perlu? Apah?!!

Download DRH dari SISDM. Login ke sisdm, pada bagian sebelah kiri ada icon rumah. Pilih Pengelolaan Pegawai lalu DRH dan DRH singkat. Setelah masuk ke halaman "DRH Singkat", pilih cetak pada bagian paling atas. Silahkan dilihat printernya. Ada kan? Ada ah. Masa ga ada. 

Legalisir fotokopi SK PNS, KarPeg, Name Tag dan DRH Paspor. Sambil nunggu diterima kampus idaman atau kampus manapun yang mau menerima saya,  saya mengurus semua dokumen legalisir ini. Soalnya butuh tanda tangan Kabag PM. Khawatir pas butuh Bapak Kabag sedang dinas ke luar kota, maka saya mengurusnya sesegera mungkin. Tinggal fotokopi dan mengisi DRH Paspor lalu diserahkan ke Biro SDM untuk diteruskan ke Bapaknya. Begitu semua syarat lain sudah ada, legalisir-legalisir ini tinggal saya ambil. 

Kalau Karpegnya hilang bagaimana? Coba ditanya ke SDM ada pertinggalnya ga. Kalau ga da ya nasib harus bikin baru lagi dan makan waktu lamaaaaa. Kabarnya sih bisa sampai dua bulan. Minimal tiga minggu. Ya salam. 

KAlau kamu menemukan bagian-bagian yang membingungkan di DRH Paspor, ini catatan saya yang tadinya kebingungan juga:
  • Kemampuan Bahasa Asing, tulis saja bahasa asing apa yang dikuasai. Saya sih cuma bahasa Inggris dan bahasa kalbu.
  • Pengalaman kerja, saya isi dengan pekerjaan saat ini
  • Bagian konduite calon, pengetahuan bahasa, dan kesehatan yang diisi oleh Tim Screening, diisi "Baik". 
  • Security Clearance, diberi tanda "----"
Pasfoto Berwarna 4x6. Di sini sih disyaratkan 6 lembar, tapi waktu dikumpulkan ke bagian pembuatan paspor cuma butuh 4 lembar. Nah, yang ribet ketentuannya fotonya itu.
  • memakai jas/blazer
  • berdasi bagi pria
  • bagi yang memakai jilbab, jangan sampai berbayang di kening. 
  • latar belakang putih
  • kertas foto glossy/mengkilap
Yang ribet itu... ketentuan bagi pemakai kerudung. Saya bikin fotonya sampai tiga kali dong. Subhanallah yaaaa. 

Foto 1, Foto 2, dan Foto 3

Foto pertama saya pakai tukang foto dekat kantor suami. 15ribu aja. Crop-annya ga rapi. tapi ya sutralah. Ternyata ditolak bagian yang ngurus paspor karena di kening ADA BAYANGAN kerudung dan ALISNYA KETUTUP kerudung. Yuk. Sarannya biar ga ada bayangan di kening, fotonya pakai dalaman kerudung. terus kerudungnya dimundurin jauh ke belakang. 

Karena perlu buru-buru, sayapun melipir ke Kalibata Mall dekat kostan. Cuma ada satu studio foto, Mega's Photo namanya. Sekali foto 50ribu sekian, dapat 4 lembar. Cetak satu foto 3ribu. Minimal 3 lembar. Langsung jadi sih... tapi kog ALISNYA MASIH KEPOTONG? Terus kenapa retouchnya menor gitu? Ga alami banget. Yang bikin saya tambah ilfill adalah kog warnanya kuning? Bukan putih. Ini gigi kelamaan ga disikat apa pas foto sih? 

Foto terakhir dan yang saya serahkan untuk paspor adalah foto ketiga yang diambil di Studio Foto Sinar Matahari di Bendungan Hilir dekat kantor. Saya tinggal bilang perlu pas foto untuk visa atau paspor, mereka langsung paham. Harganya? 95ribu aja untuk 4 lembar foto. Ihik. Mahal ya.

Foto Jonas

Soalnya kalau di Bandung, tinggal melipir ke Jonas. 25ribuan aja udah dapat yang bagus. Ga ada bayangan meski tanpa dalaman kerudung. Jonas ini juga sabar banget pas fotoin Captain Kid. Bisaan dong dapat foto anaknya yang menghadap kamera, senyum, dan ga keliatan gigi. Aih, senangnya! Pokoknya benaran diarahin biar benar-benar bagus. Jonas.. aku padamu. 

Letter of Guarantee dari pemberi beasiswa. Kalau di Spirit, setelah memasukkan jurusan dan kampus yang dituju di Transpar (websitenya penerima beasiswa Spirit), kita tinggal menunggu disetujui kantor (sesuai dengan visi misi organisasi) dan Bappenas (rangking 400 dunia). Setelah disetujui, penerima beasiswa mengirimkan email ke Bappenas untuk dibuatkan Guarantee Letter. Minta Guarantee Letter ini boleh sebanyak-banyaknya sih. Sesuai dengan jumlah kampus yang dituju. Rekornya, ada yang minta sampai 21 buah. Saya sih baru minta 14 buah dan udah ditanyai sama Bappenasnya. Ditanyai "Mbak sebenarnya mau ngelamar ke kampus mana sih???" Hahahaha. 

Unconditional Letter of Acceptance. Selanjutnya, dokumen-dokumen lain yang tersisa membutuhkan LoA ini. Jadi silahkan dipastikan ingin sekolah di mana. Setelah mengirimkan syarat-syarat pendaftaran ke kampus yang dituju, nanti kita dapat balasan dari kampusnya, diterima penuh, diterima dengan syarat tertentu, atau ditolak. Kalau diterima tanpa syarat apa-apa lagi alias Unconditional, selamat... tinggal milih mau menerima tawaran itu atau ga. Kalau masih ada syarat seperti nilai IELTS tertentu alias conditional, kita tinggal melengkapi syaratnya untuk memperoleh unconditional offer. Kalau ditolak? Coba kampus lain. Masih banyak. Tenang. 

Tips saya, memutuskan mau ke kampus mananya dibuat tenggat waktu biar urusan lain (yang masih panjang itu) bisa selesai on time. Kalau kelamaan galau dan milih-milih, urusan birokasi yang lain-lain takut terhambat euy. 

Surat Ijin Belajar. Begitu sudah dapat LoA Uncon, LOAnya diberikan ke bagian SDM untuk dibuatkan SIB dan Surat perjanjian tugas belajar (dua pihak antara pegawai dengan instansi). Draft Surat Perjanjiannya akan diemailkan. Kita tinggal print dan menempelkan materai. Lalu diserahkan ke SDM. 

Surat Perjanjian dan pernyataan yang dittd Karo SDM. Sebenarnya kedua surat ini tidak membutuhkan LoA, cuma karena yang tanda tangan pejabat, surat-surat yang membutuhkan tanda-tangan beliau semacam SIB dan Surat Perjanjian Tugas Belajar disatukan dengan kedua surat ini. 

Loh kog surat perjanjiannya ada dua jenis? Yang satu buat ke Setneg diketahui Karo SDM. Isinya sih perjanjian akan mematuhi Peraturan Presiden No. 12 Tahun 1961 dan Surat Keputusan Menteri Pertama No. 224/MP/1961 tentang Tugas Belajar. Yang satu lagi surat perjanjian antara pegawai yang tugas belajar dengan instansinya. Yang ini disimpan di instansi saya.

Nah, secara yang tanda-tangan pejabat, maka waktu penyelesaiannya juga tergantung keberadaan beliau di kantor. Waktu saya mengurus paspor dinas ini, karena kepotong cuti lebaran, jadinya sih menunggu lebaran selesai. Lama dong? Iyes. Kalau ga kepotong lebaran dan bapaknya ada di kantor, mungkin paling lama cuma butuh tiga hari.

Nota Persetujuan dari Bappenas. Ini... bikinnya juga panjang kalau diceritakan. Sabar ya. *keretekin jari* Setelah dapat LoA, silahkan mengirim LoAnya via email ke Bappenas. Nanti dibalas dengan dokumen-dokumen apa saja yang dibutuhkan untuk membuat Nota Persetujuan (NP) dan Surat Perjanjian Tiga Pihak (SP3P). 

Dokumen yang dibutuhkan adalahhhh.... tarakdungces!
  1. Surat Penerimaan Universitas tanpa syarat (unconditional letter of acceptance)
  2. Rincian Pembiayaan dari Kampus =>Biasanya tertera di dalam Surat Penerimaan, jadi pakai LoA aja juga boleh.
  3. Formulir Pra Keberangkatan => Download dari TRANSPAR. Sesuai dengan unconditional letter of acceptance atau informasi tertulis dari Universitas. Ditandatangani Karo SDM. Jadi ini didownload sendiri dan langsung diserahkan ke SDM bareng Surat Perjanjian dan Pernyataan di atas. 
  4. Formulir Penempatan Kembali => Download dari TRANSPAR. Sesuai dengan unconditional letter of acceptance atau informasi tertulis dari Universitas. Ditandatangani Karo SDM.  Dibarengin juga yes.
  5. CV => format bebas. Ga ada petunjuk khusus. 
  6. Foto 3x4 (2 lembar) => berwarna, latar bebas. Saya pakai aja foto pertama yang ditolak itu. Biar dia ada mamfaatnya. 
  7. Surat Tugas Belajar => yang kita bikin di atas tadi. 
  8. Surat Perjanjian Dua Pihak (SP2P) => Jika ada. Karena ini jika ada saja, maka saya ga menunggu surat perjanjian tugas belajar. Biar cepat kelar. :p

Setelah semua dokumen terkumpul silahkan diemail ke Bappenas. Besoknya kita langsung dikirim draft SP3P. Kalau isinya sudah benar, draft tadi bisa diprint dan ditempelkan materai, lalu diberikan ke SDM (lagi.. yeah.. i know) untuk ditandatangani Karo SDM. Nanti tinggal nunggu SP3P nya ini selesai ditandatangani, baru dikembalikan ke Bappenas. Tiga hari kerja kemudian, SP3Pnya sudah bisa kita ambil. Secara SP3P ini tidak dibutuhkan untuk mengurus dokumen lain, ngurusnya bisa disambil ngurus NP. 

Nah, dari semenjak kirim berkas hingga NP bisa diambil, dibutuhkan waktu 5 hari kerja. Nanti kita juga diberitahu via email kapan NPnya bisa diambil. Hardcopy dokumen-dokumen yang dibutuhkan untuk NP, bisa diserahkan saat mengambil NP ini. Biar ga bolak-balik. 

NPnya sudah ditangan? Hore!! Silahkan dikumpulkan dan diberikan ke bagian pembuatan paspor di instansi masing-masing. Waktu yang dibutuhkan? Minimal dua minggu. Hahaha. Kalau mau repot dan bikin sendiri, katanya sih lebih cepat dan gratis. Tapi ga tau ya... soalnya saya ga bikin sendiri. 

Nanti setelah dua minggu, kita akan memperoleh satu buah paspor yang sudah ada cap exit permitnya, surat ijin setneg, dan surat rekomendasi visa. 

Ya ampun.. selesai juga. Sampai ketemu di cerita medical check up buat syarat visa ya!

Update
Exit Permit ini ijin perjalanan luar negeri yang berlaku untuk satu kali perjalanan. Artinya nanti kalau balik ke Indonesia, terus mau ke luar lagi, ya harus bikin exit permit lagi. Nah masa berlaku exit permit itu cuma dua bulan. Kalau sampai masa berlaku habis, masih belum berangkat juga, maka kita harus memperpanjang exit permit.

Caranya gimana? Bawa paspor dinas, surat permohonan exit dari Instansi dan Setneg ke Kemenlu. Prosesnya butuh waktu 3-4 hari. Bisa diurus sendiri dan gratis kog. :D